alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Wednesday, 25 May 2022

Wadul Orang Tua hingga Menangis, Inilah Reaksi Pelajar Terjaring Operasi Patuh Semeru 2019

Banyak cerita didapat petugas kepolisian selama bertugas dalam Operasi Patuh Semeru 2019 di Pasuruan. Banyak pelanggar berasal dari kalangan pelajar yang masih di bawah umur. Ada juga yang wadul ke orang tuanya. Namun, bukan dibela. Justru mendapat makian di depan petugas.

 

OPERASI Patuh Semeru 2019 sudah berakhir Rabu (11/9). Namun, banyak cerita terekam dari kegiatan itu. Selain jumlah pengendara yang dirazia ribuan, juga banyak pelajar yang terjaring razia.

Seperti razia yang digelar Polres Pasuruan Kota pada Jumat (6/9). Di wilayah hukum Kota Pasuruan, sejak pagi petugas kepolisian menggelar operasi di sejumlah titik. Di antaranya di sekitar simpang Warungdowo, jalan provinsi ruas Kejayan-Purwosari. Masuk Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan.

Pemeriksaan pagi itu, tadinya berjalan seperti biasa. Satu per satu pengguna jalan yang melintas dengan kendaraan bermotor dihentikan petugas Satlantas Polres Pasuruan Kota.

Mau tak mau, para pengendara pun mengikuti saja kala polisi memeriksa kelengkapan kendaraan mereka. Termasuk surat-surat kendaraan bermotor, seperti STNK maupun SIM. Mereka yang terbukti melanggar, tentu mendapat sanksi tilang.

Di sisi lain, banyak pengendara motor yang memilih berputar arah. Mereka pada umumnya pengendara yang dari kejauhan melihat ada operasi. Mulanya mereka berhenti sejenak, lalu bergegas membalikkan kemudinya ke arah berlawanan. Maksudnya, tentu saja menghindari razia.

Sekitar 30 menit menggelar razia, polisi mendapati seorang bocah melintas. Bocah lelaki yang mengendarai motor Honda Beat berwarna putih itu memakai seragam sekolah.

Pemeriksaan yang berlangsung Jumat (6/9) pagi itu, tampaknya menjadi pengalaman berkesan di benak bocah asal Kejayan tersebut. Sebab, polisi langsung menghentikannya saat melintas di Jalur Kejayan-Warungdowo.

Secara kasat mata, bocah yang masih kelas 6 SD itu melanggar aturan berlalu lintas. Selain di bawah umur dan tentu belum memiliki SIM, bocah itu pun tak mengenakan helm.

“Jadi, sejatinya belum berhak berlalu lintas,” kata Kanit Patroli Satlantas Polres Pasuruan Kota Ipda Anton Hendro Wibowo yang sedang bertugas saat itu.

Secara kebetulan, ayah bocah itu sedang nongkrong di salah satu warung kopi di sekitar lokasi. Ia pun mendatangi Poslantas Warungdowo tempat anaknya diperiksa polisi. Sementara si bocah ketakutan. Melihat ayahnya datang, dia pun langsung wadul.

TAATI PERATURAN: Satlantas Polres Pasuruan Kota saay menggelar operasi Patuh Semeru. (Foto istimewa)

Namun, belum sempat polisi menjelaskan pelanggaran yang dilakukan bocah itu, pria paruh baya itu melontarkan makian. Ia marah sejadi-jadinya kepada anaknya. Mau tak mau, polisi meredam keributan itu agar tak berlanjut.

“Ayahnya malah marah-marah karena motornya dipakai tanpa izin. Lalu pulang sekolah justru keluyuran,” beber Anton.

Sementara itu, ada 1.255 pelanggar yang ditindak selama dua pekan digelarnya Operasi Patuh Semeru 2019 di wilayah hukum Polres Pasuruan Kota. Sebanyak 165 di antaranya merupakan pengendara motor di bawah umur.

Kasatlantas Polres Pasuruan Kota AKP Achmadi menyayangkan banyaknya anak di bawah umur yang dengan leluasa berkendara di jalan raya. Padahal, secara aturan hal itu sangat dilarang. Sebab psikologis anak di bawah umur yang cenderung labil, dinilai belum siap berlalu lintas.

Dikhawatirkan, hal itu memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas. Mengingat, kecelakaan di tingkat pelajar juga masih tinggi. Anton menyebut, hal itu bukan semata tanggung jawab polisi yang menindak pelanggar jika ditemukan.

“Melainkan juga orang tua punya peran penting. Mencegah anaknya jika berkendara, sebaiknya diantar saja kalau ada keperluan,” pungkasnya. (tom/fun)

Banyak cerita didapat petugas kepolisian selama bertugas dalam Operasi Patuh Semeru 2019 di Pasuruan. Banyak pelanggar berasal dari kalangan pelajar yang masih di bawah umur. Ada juga yang wadul ke orang tuanya. Namun, bukan dibela. Justru mendapat makian di depan petugas.

 

OPERASI Patuh Semeru 2019 sudah berakhir Rabu (11/9). Namun, banyak cerita terekam dari kegiatan itu. Selain jumlah pengendara yang dirazia ribuan, juga banyak pelajar yang terjaring razia.

Seperti razia yang digelar Polres Pasuruan Kota pada Jumat (6/9). Di wilayah hukum Kota Pasuruan, sejak pagi petugas kepolisian menggelar operasi di sejumlah titik. Di antaranya di sekitar simpang Warungdowo, jalan provinsi ruas Kejayan-Purwosari. Masuk Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan.

Pemeriksaan pagi itu, tadinya berjalan seperti biasa. Satu per satu pengguna jalan yang melintas dengan kendaraan bermotor dihentikan petugas Satlantas Polres Pasuruan Kota.

Mau tak mau, para pengendara pun mengikuti saja kala polisi memeriksa kelengkapan kendaraan mereka. Termasuk surat-surat kendaraan bermotor, seperti STNK maupun SIM. Mereka yang terbukti melanggar, tentu mendapat sanksi tilang.

Di sisi lain, banyak pengendara motor yang memilih berputar arah. Mereka pada umumnya pengendara yang dari kejauhan melihat ada operasi. Mulanya mereka berhenti sejenak, lalu bergegas membalikkan kemudinya ke arah berlawanan. Maksudnya, tentu saja menghindari razia.

Sekitar 30 menit menggelar razia, polisi mendapati seorang bocah melintas. Bocah lelaki yang mengendarai motor Honda Beat berwarna putih itu memakai seragam sekolah.

Pemeriksaan yang berlangsung Jumat (6/9) pagi itu, tampaknya menjadi pengalaman berkesan di benak bocah asal Kejayan tersebut. Sebab, polisi langsung menghentikannya saat melintas di Jalur Kejayan-Warungdowo.

Secara kasat mata, bocah yang masih kelas 6 SD itu melanggar aturan berlalu lintas. Selain di bawah umur dan tentu belum memiliki SIM, bocah itu pun tak mengenakan helm.

“Jadi, sejatinya belum berhak berlalu lintas,” kata Kanit Patroli Satlantas Polres Pasuruan Kota Ipda Anton Hendro Wibowo yang sedang bertugas saat itu.

Secara kebetulan, ayah bocah itu sedang nongkrong di salah satu warung kopi di sekitar lokasi. Ia pun mendatangi Poslantas Warungdowo tempat anaknya diperiksa polisi. Sementara si bocah ketakutan. Melihat ayahnya datang, dia pun langsung wadul.

TAATI PERATURAN: Satlantas Polres Pasuruan Kota saay menggelar operasi Patuh Semeru. (Foto istimewa)

Namun, belum sempat polisi menjelaskan pelanggaran yang dilakukan bocah itu, pria paruh baya itu melontarkan makian. Ia marah sejadi-jadinya kepada anaknya. Mau tak mau, polisi meredam keributan itu agar tak berlanjut.

“Ayahnya malah marah-marah karena motornya dipakai tanpa izin. Lalu pulang sekolah justru keluyuran,” beber Anton.

Sementara itu, ada 1.255 pelanggar yang ditindak selama dua pekan digelarnya Operasi Patuh Semeru 2019 di wilayah hukum Polres Pasuruan Kota. Sebanyak 165 di antaranya merupakan pengendara motor di bawah umur.

Kasatlantas Polres Pasuruan Kota AKP Achmadi menyayangkan banyaknya anak di bawah umur yang dengan leluasa berkendara di jalan raya. Padahal, secara aturan hal itu sangat dilarang. Sebab psikologis anak di bawah umur yang cenderung labil, dinilai belum siap berlalu lintas.

Dikhawatirkan, hal itu memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas. Mengingat, kecelakaan di tingkat pelajar juga masih tinggi. Anton menyebut, hal itu bukan semata tanggung jawab polisi yang menindak pelanggar jika ditemukan.

“Melainkan juga orang tua punya peran penting. Mencegah anaknya jika berkendara, sebaiknya diantar saja kalau ada keperluan,” pungkasnya. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/