Keren, Perwira Polisi Ini Inisiatori Pendirian Sekolah Nonformal

Kepedulian Ipda I Nyoman Harayasa di dunia pendidikan patut diacungi jempol. Di sela-sela kesibukannya sebagai anggota Polres Probolinggo, ia mendirikan sekolah nonformal Pasraman dan Pura Dharma Bhakti. Tentu ia tidak sendirian. Ia dibantu oleh umat Hindu lainnya untuk merealisasikan niat mulia tersebut.

ARIF MASHUDI, Probolinggo

Sosok Ipda I Nyoman Harayasa sangat dikenal oleh umat Hindu yang ada di Kota/ Kabupaten Probolinggo. Maklum, ia dikenal sebagai inisiator terbentuknya sekolah nonformal untuk anak-anak yang beragama Hindu. Termasuk inisiasinya membangun tempat ibadah Pura Dharma Bhakti.

Lokasi sekolah dan tempat ibadah itu berada di Kelurahan Trisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo. Itu, tempat ibadah kedua selain yang ada di Ngadisari, Sukapura. Inisiasi membangun sekolah nonformal dan pura itu sekitar tahun 2012 lalu.

Jawa Pos Radar Bromo menemui Ipda Nyoman –sapaan akrabnya – di kantor Satlantas Polres Probolinggo, di Jl. Suroyo, Kota Probolinggo. Saat itu, Nyoman tengah berada di ruang kerjanya, Unit Laka. Nyoman kini menjabat sebagai Kanit Laka Satlantas Polres Probolinggo. Penampilan Nyoman tampak sederhana.

Nyoman yang sudah akrab dengan Jawa Pos Radar Bromo, langsung mempersilakan duduk untuk berbincang. Ia lantas mulai bercerita soal aktivitasnya di bidang keagamaan.

Awal mula berdirinya sekolah nonformal Pasraman dan Pura Dharma Bhakti, itu karena pertimbangan tidak adanya tempat ibadah untuk umat Hindu. Selain itu, tidak ada sekolah nonformal untuk agama Hindu. Dimana pelajaran di sekolah juga tidak memberikan pelajaran agama sesuai yang dianut.

“Jadi, kami kemudian berkumpul bersama teman-teman sesama umat Hindu. Dalam rembukan itu, disepakati akan mendirikan sekolah nonformal dan pura. Ternyata, usulan kami ini mendapatkan respons baik dan diajukan ke Pemkot Probolinggo,” katanya.

Perwira kelahiran Denpasar, 31 Desember 1964 mengaku, proses pendirian sekolah nonformal dan pura itupun tidak mengalami kesulitan. Sebab, sesuai aturan Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri, pendirian tempat ibadah atau pendidikan, harus mendapatkan persetujuan melalui tanda tangan 60 orang umat lain di sekitar lokasi.

Ternyata, masyarakat sekitar merespons baik dan menyetujui dengan tanda tangan. “Di lingkungan rumah dan tempat ibadah, meski mayoritas umat Islam, tapi toleransinya tinggi. Mereka bertetangga dan tidak pernah membeda-bedakan,” ungkapnya.

Nyoman yang menjabat ketua pura atau pengempon, sudah ada sekitar 94 siswa yang berada di sekolah nonformal tersebut. Paling banyak anak dari wilayah Bromo yang sekolah di Kota Probolinggo. Belajar agama dilakukan dua kali dalam sepekan. Yakni, tiap hari Jumat pukul 13.00-16.00 untuk siswa SMP dan SMA, serta Minggu jam 09.00 sampai 11.00 untuk anak seusia SD.

“Dulunya mereka harus ke Bromo untuk beribadah dan pindah-pindah. Tapi, sekarang tidak perlu bingung atau jauh-jauh. Umat Hindu bisa tiga kali sehari (Tri Sandya) untuk ibadah. Sebelum matahari terbit, matahari di tengah-tengah, dan matahari tenggelam,” ungkapnya.

Disinggung soal tugasnya sebagai polisi, Nyoman mengaku mulai berdinas tahun 1986 dengan penempatan pertama di Probolinggo. Hingga akhirnya, tahun 2015, dirinya mengikuti sekolah perwira dan ditempatkan di Probolinggo sebagai Kanit Patroli Polres Probolinggo. Sebelum kemudian akhir 2017 ditugaskan sebagai Kanit Laka.

”Dinas di Probolinggo sangat nyaman. Tidak ada kendala sama sekali, meski berbeda agama. Karena tidak ada yang pernah membeda-bedakan. Selain itu, tergantung pada diri sendiri. Bisa tidak beradaptasi di lingkungan sekitar,” terang bapak dari 4 anak ini. (rf/mie)