Kebakaran di PLTU Paiton Cepat Teratasi, 4 Korban Selamat

EVAKUASI: Tim Rescue dan Evakuasi mengevakuasi salah satu korban menuju mobil ambulans untuk segera mendapatkan penanganan dari tim medis dalam simulasi yang digelar di PLTU Paiton. (Jamaludin/ Radar Bromo)

Related Post

PAITON, Radar Bromo-Suasana Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Paiton yang lengang mendadak gempar. Kamis (13/2), puluhan karyawan yang berada tripper dan boiler terlihat panik dan berhamburan meninggalkan pekerjaannya diiringi suara sirine bersahutan.

Suasana mencekam itu terjadi di PT PJB UBJ O&M PLTU Paiton atau yang lebih dikenal dengan unit 9. Puluhan karyawan lari berusaha menyelamatkan diri, karena di tripper yang merupakan jalur masuknya bahan bakar batu bara terjadi kebakaran dan menimbulkan ledakan.

CEKATAN: Sejumlah Petugas Pemadam Kebakaran PT PJB UBJ O&M PLTU Paiton dengan sigap menyiapkan sejumlah peralatan untuk memadamkan api, dalam simulasi. (Jamaludin/ Radar Bromo)

Kepulan asap pekat membubung tinggi membuat suasana makin mencekam. Sekitar 10 menit kemudian, dua unit mobil Pemadam Kebakaran (Damkar) PT PJB UBJ O&M PLTU Paiton bersama Tim Rescue dan Tim Evakuasi, tiba di lokasi. Mereka langsung berbagi tugas berusaha menangani kebakaran.

Selang beberapa menit kemudian, tiga unit Damkar dari PT PJB UP Paiton, PT POMI, dan PT Jawa Power datang menyusul. Karena api yang muncul dari tripper merembet ke coal feeder bawah, yang merupakan peralatan utama dalam menyuplai batu bara yang akan digunakan untuk pembangkit listrik. Tak butuh waktu lama, kebakaran berhasil diatasi.

PEMADAMAN: Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) PT PJB UBJ O&M PLTU Paiton memadamkan api yang berada di tripper. Api dapat dipadamkan dalam waktu singkat, dalam simulasi. (Jamaludin/ Radar Bromo)

Sementara itu, saat unit Damkar sibuk memadamkan api, Tim Rescue dan Tim Evakuasi berjibaku di tengah kepulan asap dan siraman air untuk menyelamatkan korban. Sebab, ada empat karyawan menjadi korban. Selain luka bakar, satu di antaranya mengalami patah tulang dan harus dievakuasi dari atas tripper dengan cara lowering system. Empat korban tersebut, kemudian dibawa menggunakan empat ambulans milik perusahaan.

Manajer Pemeliharaan PT PJB UBJ O&M PLTU Suyanto mengatakan, kebakaran terjadi sekitar pukul 10.00. Saat itu operator coal handling control building (CHCB) mendengar suara aneh di tripper dan setelah dicek ternyata ada kepulan asap dan api.

“Operator kemudian melaporkan ke koordinator dan diteruskan ke supervisor K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) untuk segera ditangani oleh Tim Damkar beserta Tim Rescue dan Tim Evakuasi,” ujarnya.

PENYELAMATAN: Dalam kejadian kemarin, ada 4 korban. Salah satunya patah tulang yang harus dievakuasi dari atas tripper. Korban diturunkan dengan teknik lowering system, dalam simulasi. (Jamaludin/ Radar Bromo)

Namun, kejadian itu hanyalah simulasi tanggap darurat kebakaran di PT PJB UBJ O&M PLTU Paiton. Simulasi ini merupakan sebuah pelatihan penyelamatan dan pemadaman bila terjadi kebakaran di pembangkit yang menyalurkan listrik se-Jawa-Bali itu.

General Manajer PT PJB UBJ O&M PLTU Paiton Agus Prastyo Utomo mengatakan, kebakaran itu dapat diatasi lebih dari setengah jam. Api bisa dikendalikan oleh petugas damkar yang berjumlah 5 unit. “Alhamdulillah, api bisa dipadamkan. Kebakarannya terjadi di tripper yang merupakan alat utama untuk menyuplai batu bara,” katanya.

Menurutnya, simulasi tanggap darurat kebakaran ini sebagai bentuk emergency respons yang dilakukan perusahaan. Meski sebatas simulasi, dalam skenarionya dibuat seolah-olah terjadi kebakaran yang sebenarnya.

“Sehingga, kami hadapi benar. Sesuai kondisi dan risiko yang ada. Ini cara kami melakukan preventif. Juga sebagai kesiapan kami di PLTU ketika menghadapi situasi yang tidak diinginkan. Serta, sebagai bentuk sinergi kerja sama yang sudah terbentuk antarunit pembangkit. Yaitu, PT PJB UP Paiton, PT Jawa Power, dan PT POMI,” jelasnya.

Ia mengatakan, PLTU Paiton merupakan tempat yang potensi kecelakaannya sangat tinggi. Namun, pihaknya terus melakukan mitigasi. Tujuannya, untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan. “Risiko kecelakaan sangat tinggi di sini. Karena ini perusahaan besar yang menjadi objek vital nasional. Kami memiliki 315 karyawan untuk PT  PJB & PJBS. Jika ditotal, ada sekitar 500 orang yang setiap hari bekerja,” ujarnya. (uno/*)