Usai Ada Kesepakatan Pabrik-Warga, Kali Wangi Masih Bau-Berbusa

PANDAAN, Radar Bromo – Protes warga lima desa di Kecamatan Beji atas pencemaran di Kali Wangi, menghasilkan lima kesepakatan. Salah satunya, melarang perusahaan membuang limbah cair melalui sungai Tanggul (hilir Kali Wangi) di Desa Baujeng. Namun, toh Kali Wangi belum terbebas dari limbah.

Sampai Jumat (12/10), empat hari setelah kesepakatan dibuat, kondisi Kali Wangi tidak jauh berbeda. Menurut pengamatan Jawa Pos Radar Bromo di lapangan, Kali Wangi masih bau dan berbusa. Air Kali Wangi bahkan berwarna gelap pekat. Sementara busanya berwarna putih.

Kondisi Kali Wangi yang bau dan berbusa itu, sebenarnya tak hanya dikeluhkan warga Desa Baujeng dan sekitarnya di wilayah Kecamatan Beji. Warga di hulu Kali Wangi, juga mengeluhkan kondisi Kali Wangi yang tercemar. Seperti, warga di Desa Kemirisewu, Kecamatan Pandaan.

“Limbah pabrik yang mencemari Kali Wangi tidak hanya dirasakan warga Desa Baujeng dan sekitarnya. Desa kami yang ada di hulu, juga terdampak,” ucap Rokhim, 50, warga Dusun Keceling, Desa Kemirisewu, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan.

Pria yang tiap harinya buka warung kopi di DAS Kali Wangi tersebut menyebut, pencemaran limbah di sungai tersebut dapat terlihat jelas saat dini hari, pagi, dan menjelang siang. Di saat-saat itu, air Kali Wangi berbusa, berwarna putih dan hitam pekat. Di samping itu, Kali Wangi berbau busuk.

Sampling air sungainya saya ambil dua hari terakhir pada pagi hari, lalu saya masukkan botol plastik. Hasilnya sama. Air sungai bau, airnya keruh kehitaman dan ada endapan,” tuturnya.

Rokhim sendiri tiap hari berada di warungnya. Lokasinya di dekat Kali Wangi. Karena itu, dia mengaku tahu kapan limbah dibuang.

Rata-rata menurutnya, limbah yang dibuang pabrik ke Kali Wangi dilakukan rata-rata dini hari. Di jam-jam tersebut, bau Kali Wangi yang busuk sangat menyengat.

“Tapi, limbah dari pabrik mana saja, kami kurang tahu. Itu tugas DLH untuk mengungkapnya. Tidak cukup hanya memeriksa PT CS2 Pola Sehat. Sebab, di sini ada sembilan pabrik lain. Dan semuanya wajib diperiksa,” cetusnya.

Berdasarkan penelusuran Jawa Pos Radar Bromo, ada sepuluh perusahaan atau pabrik di hulu Kali Wangi yang membuang limbah hasil IPAL ke sungai. Sepuluh perusahaan itu ada di tiga desa di Kecamatan Pandaan.

Antara lain, di Desa Nogosari ada lima pabrik. Yaitu, pabrik kecap, plastik, ikan tuna, jelly, dan kopi dalam kemasan.

Lalu di Desa Sumberejo ada satu pabrik. Yaitu, pabrik sarung. Kemudian di Desa Kemirisewu ada empat pabrik. Yaitu, pabrik jaring, wafer, teh, dan karton.

Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan melalui Plt Indra Hernandi menegaskan, masukan dari warga sangat berharga. Pihaknya akan menampung semua masukan sebagai bahan untuk mengungkap pembuang limbah cair yang mencemari Kali Wangi selama ini.

Di sisi lain, proses inspeksi pada perusahaan masih berjalan hingga saat ini. Tim yang diterjunkan tak hanya memeriksa dan sidak ke IPAL PT CS2 Pola Sehat. Tapi juga ke pabrik lainnya di hulu Kali Wangi. Baik di Desa Kemirisewu, Nogosari, dan Sumberejo, Kecamatan Pandaan.

“Sudah ada tim yang terjun ke lapangan dan menanganinya. Sekarang masih inspeksi, hasilnya akan dievaluasi dan ditindaklajuti dengan rekomendasi. Baik penegakan dan pemberian sanksinya, sesuai undang-undang, perda, dan perbup yang berlaku,” tuturnya. (zal/hn)