alexametrics
26.9 C
Probolinggo
Friday, 1 July 2022

Betapa Rumitnya Dosa Kepada Sesama

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apakah permintaan maaf ketika Idul Fitri bisa menghapus semua dosa secara haqqul adami. Misalnya, si A pernah mencuri barang milik si B, kemudian ketika Lebaran, si A meminta maaf kepada si B dengan tidak menyebutkan atau memberitahukan pernah mencuri barangnya. Apakah dosa mencurinya juga dihapuskan?

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

ANA KHOIRUN NISA’, Kraksaan, Probolinggo

———————

Waalaikum Salam Wr. Wb.

DALAM hal ini, dosa itu dibagi menjadi tiga. Sebagaimana Imam Ghazali sebutkan dalam kitabnya, Minhajul Abidin.

“Ketahuilah, secara garis besar dosa-dosa itu ada tiga macam. Pertama, meninggalkan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh Allah kepadamu seperti salat, puasa, zakat, kafarat, dan lainnya. Maka (untuk menghapusnya) engkau harus mengqada kewajiban-kewajiban tersebut selagi memungkinkan.”

Kedua, lanjut beliau, dosa-dosa di antaramu dan Allah SWT., seperti meminum minuman keras, meniup seruling, memakan riba, dan sebagainya. (Untuk menghapusnya), maka engkau harus menyesali perbuatan-perbuatan tersebut dan memantapkan hatimu untuk tidak akan mengulanginya lagi selamanya.

Yang ketiga, yang menjadi pembahasan kita kali ini adalah dosa-dosa antara sesama. Dosa jenis ini lebih rumit dan lebih berat.

Dosa kepada sesama, menurut para ulama dikatakan lebih rumit dan lebih berat. Karena, banyak sekali tuntutan yang harus dilakukan agar bisa terhapuskan. Di samping jenisnya juga bermacam-macam. Bisa menyangkut jiwa, kehormatan, kesucian, agama, maupun harta benda.

Kita fokus menjelasakan perihal dosa yang menyangkut harta benda sebagaimana yang menjadi pertanyaan di atas.

Dosa yang kaitannya dengan harta bisa berupa mencuri, merampas, menipu, mengurangi timbangan, mengurangi atau tidak membayar upah pekerja dan lain sebagainya.

Jalan pertama untuk menghapus dosa tersebut adalah dengan mengembalikan harta yang dia ambil secara zalim itu kepada pemiliknya, bila memungkinkan. Bila tidak memungkinkan, misanya, karena sudah tidak punya apa-apa, maka dia wajib meminta maaf dan meminta halal kepada pemilik harta tersebut. Supaya pemilik harta merelakannya. Jadi, tidak cukup hanya dengan meminta maaf, lalu semuanya menjadi tuntas.

Jika opsi pertama ini tidak bisa dilakukan, karena orang yang dianiaya menyangkut hartanya itu telah meninggal atau tidak diketahui keberadaannya, misalnya. Maka alternatif kedua adalah dengan melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya, agar nanti di akhirat, saat amal perbuatan ditimbang. Bobot kebaikannya lebih unggul dari bobot keburukannya. Karena jika tidak, dia harus bersiap-siap menanggung dosa orang yang dia ambil hartanya secara tidak sah itu.

Tidak cukup hanya itu. Dia juga wajib bertaubat, tidak mengulangi lagi perbuatan buruknya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Serta, memohon agar kelak Allah SWT., memberikan rahmat-Nya, sehingga dia selamat dari segala tuntutan.

Wallahu a’lam bisshowab. (*)

 

Nun Hassan Ahsan Malik, M.Pd.

Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong. Wakil Sekretaris Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jawa Timur. Alumnus Rushaifah, Makkah, asuhan Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy Al Maliki.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apakah permintaan maaf ketika Idul Fitri bisa menghapus semua dosa secara haqqul adami. Misalnya, si A pernah mencuri barang milik si B, kemudian ketika Lebaran, si A meminta maaf kepada si B dengan tidak menyebutkan atau memberitahukan pernah mencuri barangnya. Apakah dosa mencurinya juga dihapuskan?

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

ANA KHOIRUN NISA’, Kraksaan, Probolinggo

———————

Waalaikum Salam Wr. Wb.

DALAM hal ini, dosa itu dibagi menjadi tiga. Sebagaimana Imam Ghazali sebutkan dalam kitabnya, Minhajul Abidin.

“Ketahuilah, secara garis besar dosa-dosa itu ada tiga macam. Pertama, meninggalkan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh Allah kepadamu seperti salat, puasa, zakat, kafarat, dan lainnya. Maka (untuk menghapusnya) engkau harus mengqada kewajiban-kewajiban tersebut selagi memungkinkan.”

Kedua, lanjut beliau, dosa-dosa di antaramu dan Allah SWT., seperti meminum minuman keras, meniup seruling, memakan riba, dan sebagainya. (Untuk menghapusnya), maka engkau harus menyesali perbuatan-perbuatan tersebut dan memantapkan hatimu untuk tidak akan mengulanginya lagi selamanya.

Yang ketiga, yang menjadi pembahasan kita kali ini adalah dosa-dosa antara sesama. Dosa jenis ini lebih rumit dan lebih berat.

Dosa kepada sesama, menurut para ulama dikatakan lebih rumit dan lebih berat. Karena, banyak sekali tuntutan yang harus dilakukan agar bisa terhapuskan. Di samping jenisnya juga bermacam-macam. Bisa menyangkut jiwa, kehormatan, kesucian, agama, maupun harta benda.

Kita fokus menjelasakan perihal dosa yang menyangkut harta benda sebagaimana yang menjadi pertanyaan di atas.

Dosa yang kaitannya dengan harta bisa berupa mencuri, merampas, menipu, mengurangi timbangan, mengurangi atau tidak membayar upah pekerja dan lain sebagainya.

Jalan pertama untuk menghapus dosa tersebut adalah dengan mengembalikan harta yang dia ambil secara zalim itu kepada pemiliknya, bila memungkinkan. Bila tidak memungkinkan, misanya, karena sudah tidak punya apa-apa, maka dia wajib meminta maaf dan meminta halal kepada pemilik harta tersebut. Supaya pemilik harta merelakannya. Jadi, tidak cukup hanya dengan meminta maaf, lalu semuanya menjadi tuntas.

Jika opsi pertama ini tidak bisa dilakukan, karena orang yang dianiaya menyangkut hartanya itu telah meninggal atau tidak diketahui keberadaannya, misalnya. Maka alternatif kedua adalah dengan melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya, agar nanti di akhirat, saat amal perbuatan ditimbang. Bobot kebaikannya lebih unggul dari bobot keburukannya. Karena jika tidak, dia harus bersiap-siap menanggung dosa orang yang dia ambil hartanya secara tidak sah itu.

Tidak cukup hanya itu. Dia juga wajib bertaubat, tidak mengulangi lagi perbuatan buruknya dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Serta, memohon agar kelak Allah SWT., memberikan rahmat-Nya, sehingga dia selamat dari segala tuntutan.

Wallahu a’lam bisshowab. (*)

 

Nun Hassan Ahsan Malik, M.Pd.

Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong. Wakil Sekretaris Komisi Dakwah dan Pemberdayaan Masyarakat MUI Jawa Timur. Alumnus Rushaifah, Makkah, asuhan Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Alawy Al Maliki.

MOST READ

BERITA TERBARU

/