Zona Merah Covid-19, Pasar Ternak Jrebeng Kidul Masih Buka

WONOASIH, Radar Bromo – Kota Probolinggo telah masuk zona merah persebaran virus korona. Namun, Pasar Ternak Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo masih buka seperti biasa. Ratusan pedagang masih memadati pasar ini, meskipun sebenarnya kerumunan dilarang oleh Pemkot Probolinggo.

Pasar ternak itu sendiri buka tiap Selasa dan Sabtu. Pada Selasa (7/4), kondisi pasar sangat padat. Sementara kemarin (11/4) tidak terlalu padat, walaupun tetap mereka berada dalam kerumunan.

Menurut pantauan Jawa Pos Radar Bromo, selama bertransaksi sebagian besar pedagang yang datang ke pasar ternak tidak menggunakan masker. Hanya beberapa saja yang menggunakan slayer atau penutup leher sebagai masker.

Salah satunya adalah Rudianto, 54, warga Bantaran, Kabupaten Probolinggo. Dia menggunakan  slayer sebagai pengganti masker.

“Sebelum korona sudah pakai ini. Bisa jadi pengganti masker saat di pasar,” ujarnya.

Rudi –sapaan Rudianto menuturkan, kemarin kondisi pasar ternak lebih sepi dari biasanya. Terutama pembeli dari luar Kota dan Kabupaten Probolinggo.

“Sekarang situasinya sepi untuk pembeli sapi dari luar kota. Jadi susah mau jual sapi,” ujarnya.

Pedagang dan pembeli dari Kabupaten Probolinggo menurut Rudi, umumnya bisa bebas keluar masuk kota. Mereka bisa melintasi jalan-jalan tikus yang tidak diawasi atau tidak ada check point.

“Tapi kalo dari luar Probolinggo banyak yang enggan masuk, karena khawatir kena check point dan disuruh balik. Akhirnya pembeli sapi dari luar kota ndak jadi datang karena khawatir itu,” ujarnya.

Rudi menegaskan, pasar ternak di Kabupaten Probolinggo sudah tutup semua. Andai di kota pun tutup, dirinya mengaku pasrah. Rudi mengaku, menjadi penjual sapi adalah pekerjaan sampingannya. Pekerjaan utamanya petani.

“Kalau di sini tutup juga ya kami pasrah. Mau gimana lagi? Orang kecil bisa apa?” tambahnya pasrah.

Di sisi lain, Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dipertahankan) Kota Probolinggo mengkaji untuk menutup pasar ternak. Pertimbangannya, karena kegiatan pasar ternak mengundang kerumunan masyarakat yang seharusnya dihindari saat wabah virus korona.

“Saat ini kami sedang mengkaji untuk melakukan penutupan pasar ternak. Tapi keputusannya mungkin baru pekan depan. Sabtu (11/4) masih buka pasarnya,” ujar Sudiman, Kepala Dipertahankan saat dikofirmasi harian Jawa Pos Radar Bromo Jumat (10/4).

Meskipun Sabtu pasar ternak tidak ditutup, Dipertahankan tetap melakukan antisipasi untuk mencegah penularan korona. Mulai dari penyemprotan disinfektan serta menyediakan tempat cuci tangan bagi pengunjung pasar.

“Saat ini meskipun pasar tetap buka, namun ternak yang masuk ke Pasar ternak juga jauh berkurang. Pada hari biasa bisa sampai 900 ternak yang masuk. Sekarang hanya sekitar 450-500 ternak,” ujarnya.

Sudiman memaklumi kondisi ini masih berkaitan dengan terjadinya wabah virus korona. Wabah korona ini membuat akses pengiriman ternak juga tidak leluasa seperti biasanya.

“Banyak pemeriksaan dilakukan di jalan sehingga membuat jumlah kiriman ternak yang masuk berkurang,” ujarnya.

Saat disinggung mengenai pasar unggas di belakang kelurahan Kebonsari Kulon, Sudiman menyebut bahwa pasar ternak unggas itu bukan di bawah naungan Dipertahankan. “Itu berdiri di lahan masyarakat, bukan dikelola dinas. Langkah yang bisa dilakukan adalah melakukan penyemprotan disinfektan,” terangnya. (put/hn)