Perjuangan Adit Maulana, Bocah Penderita Jantung Bocor asal Besuk yang Kini Bersiap Dioperasi

Adit Maulana, 10, kini tengah berusaha keras melawan penyakit tetralogy of fallot (tof). Dia divonis mengalami jantung bocor dan pembuluh darah sempit. Saat ini dia tengah menunggu operasi.

MUKHAMAD ROSYIDI, Besuk

Siswa yang masih duduk di kelas tiga Madrasah Ibtidayah (MI) Hidmatul Hikam Desa Alassumur Lor, Kecamatan Besuk itu kini berada di Jakarta. Bocah asal Dusun Nagger RT 11/RW 04, Desa Alas Kandang, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo yang akrab disapa Adit itu, menunggu untuk dilakukan operasi Rastelli yang difokuskan untuk menutup jantung bocor.

INGIN JADI DOKTER: Adit Maulana berada di RSCM. (Istimewa)

Selain itu, operasi juga akan mengambil selang yang beberapa waktu lalu dioperasi dibagian paha. Semuanya itu, dilakukan guna kesembuhan secara total. Sehingga, putra semata wayang pasangan Ismail, 34, dan Sudarsi, 32, itu bisa bermain layaknya anak seusianya yang tak pernah lelah.

Sudarsi, ibu Adit kepada Jawa Pos Radar Bromo mengatakan, anaknya tersebut menderita penyakit jantung bocor sejak masih kecil. Menurutnya, gejala awalnya penyakit tersebut yaitu anaknya dahulu sering menangis tengah malam. Tetapi, saat itu, Ia dengan suaminya tidak menyangka akan seperti sekarang.

“Tambah besar nangisnya sudah tidak terlalu,” ujarnya membuka omongan. Meski sedang dirundung duka, Sudarsi dan Ismail nampak tegar. Ia menceritakan kisah perjuangan anaknya hingga saat ini dengan tenang dan sesekali tersenyum untuk menyembunyikan dukanya.

Penyakit yang diderita anaknya itu baru sangat terasa saat anaknya masuk di RA Hidmatul Hikam. Itu ketika Adit berusia 5 tahun. Saat itu, Adit mengikuti kegiatan olah raga. Tiba-tiba Adit kelihatan pucat layaknya orang sakit. Adit lalu dibawa ke tempat medis.

“Disitulah kami mengetahui bahwa memang ada kelainan terhadap Adit, jika dibandingkan anak normal lainnya. Karena itu kemudian kami periksakan ke bidan dan kemudian dirujuk kerumah sakit,” katanya.

Saat menceritakan hal itulah suara Sudarsi nampak bergetar. Meski begitu ia terus saja menggerakkan bibirnya untuk bercerita. Menurutnya, ia dan keluarganya baru tahu kalau anaknya itu menderita jantung bocor dan pembuluh darah sempit, dari rumah sakit. Semenjak itu, ia kemudian memperingatkan anaknya agar tidak terlalu capek.

“Kami berharap bisa sembuh. Dia (Adit) sendiri mengatakan kalau sembuh ingin menadi dokter. Sehingga bisa menyembuhkan banyak orang,” ungkapnya.

Segala upaya telah dilakukan guna untuk kesembuhan sang buah hati. Beberapa rumah sakit telah didatangi. Namun, hasilnya belum bisa memberikan kepuasan. Saat ini, perjuangannya untuk mencari kesembuhan hingga ke Jakarta.

“Ini sudah rujukan yang kesekian kali. Kami berharap bisa mendapatkan kesembuhan dan kembali ke kampung halaman,” terangnya.

Sudah sejak 4 Mei lalu Adit dan kedua orangtuanya berada di Jakarta Adit. Saat ini ia menunggu dan beberapa kali dilakukan pengecekan untuk dilakukan operasi.

Meski di-cover BPJS, ia sangat membutuhkan bantuan. Namun, ada beberapa hal yang harus ditanggungnya. Seperti halnya penyiapan 6 orang pendonor darah yang sama dengan golongan darah Adit. Belum lagi, biaya hidup selama di jakarta.

“Saya dan suami kos di Jakarta. Karena itu, kami masih banyak membutuhkan biaya. Suami saya kerja sebagai supir truk yang tidak menentu gajinya. Saya sendiri hanya seorang ibu rumah tangga,” ujarnya.

Operasi yang akan dilakukan oleh Adit saat ini adalah yang ketiga kalinya. Sebelumnya, lanjut Sudarsih, operasi pertama kali dilakukan pada Oktober 2015 lalu. Itu untuk memasang selang pelebaran pembuluh darah. Kemudian operasi kedua dilakukan 14 Mei 2018 untuk memasang kateter. “Kalo periksa atau ke kontrol di Malang tidak terhitung sudah,” ungkapnya.

Kondisi fisik Adit yang lemah dibenarkan oleh Amina, guru RA Hidmatul Hikam, tempat Adit menimba ilmu. “Mmemang bemar. Adit awalnya antusias dalam mengikuti kegiatan olah raga, tetapi kemudian kayaknya tidak kuat seperti orang sakit,” katanya.

Adit di sekolah mudah akrab. Ia senang bergaul dengan teman-teman. juga aktif mengikuti pembelajaran yang disampaikan guru. “Nilainya bagus, anaknya aktif dan periang. Dia kalau ditanya pengen jadi apa? Jawabannya pasti dokter,” kata Aminah.

Perlu diketahui, penyakit Tetralogy of Fallot (TOF) tersebut menyebabkan kondisi fisik penderita menjadi cepat capek. Serta berat badannya susah naik. Tof adalah gangguan pada bayi yang disebabkan oleh kombinasi empat penyakit jantung bawaan saat lahir. TOF termasuk kondisi langka, terjadi pada 1 dari 2.500 kelahiran, dan baru terdeteksi setelah bayi lahir. (fun)