Siswa MIN 1 Pasuruan Belajar di Musala, Bersyukur Siswa Dipindahkan Sebelumnya

Ambruknya atap tiga kelas Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Pasuruan tak serta merta membuat proses belajar mengajar di madrasah setempat terhenti. Para siswa memanfaatkan ruang seadanya untuk tetap menjalankan pembelajaran di madrasah. Termasuk musala yang akhirnya disulap menjadi kelas dadakan.

—————

Ruang musala Madrasah Ibtidaiah Negeri (MIN) 1 Pasuruan terlihat berbeda. Tidak seperti musala pada madrasah umumnya. Musala setempat tidak sekadar untuk kegiatan beribadah seperti salat ataupun ngaji bersama. Melainkan, juga difungsikan untuk ruang belajar dan mengajar.

Seperti yang terpantau Jawa Pos Radar Bromo Jumat (10/1). Puluhan pelajar antusias mengikuti jalannya pembelajaran. Ada yang bertanya. Ada pula yang bercanda. Khas bocah-bocah sekolah.

“Begini ta Bu Guru?,” tanya salah satu siswa sembari menunjukkan hasil instruksi guru kelas setempat.

Sudah beberapa hari terakhir, musala MIN 1 Pasuruan di Desa Gununggangsir, Kecamatan Beji menjadi ruang multifungsi. Pihak madrasah memanfaatkan musala bagian luar untuk ruang belajar siswa kelas 3A.

Bukan tanpa alasan. Kondisi ruang kelas yang rusak hingga akhirnya ambruk, menjadi penyebabnya.

Wali Kelas 3A Umiati mengungkapkan pemanfaatan musala untuk ruang belajar siswanya sudah berlangsung sejak Senin (6/1), pascalibur. Pemanfaatan musala tersebut bukan tanpa alasan.

Sebelumnya, kondisi ruang kelas yang ambruk memang mengkhawatirkan. Asbesnya ada yang pecah, sehingga tak layak untuk difungsikan. Ide untuk mengosongkan ruangan muncul.

Ini untuk menjaga keamanan. Bukan hanya kelas 3A, tetapi juga dua kelas lain yang berderetan. Yaitu, kelas 2D dan ruang kelas 2E. Pengosongan tiga ruang kelas itu dilakukan pada jauh-jauh hari.

Yaitu, sejak 20 Desember 2019. Ketika itu, para pelajar menghadapi masa liburan semester pertama. “Kami baru memanfaatkan musala ini sejak Senin kemarin,” kata Umiati.

RUSAK: Bangunan ruang kelas di MIN 1 Pasuruan Beji yang atapnya ambruk. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Memang, hanya siswa kelas 3A yang menempati musala untuk proses belajar mengajar. Karena kelas 2D dan kelas 2E, kebagian ruangan kelas baru dan ruang kelas yang semula dipakai kelas 5B. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat belajar siswa.

Buktinya, mereka tetap antusias mengikuti jalannya pembelajaran. “Kami memang mengajarkan anak-anak untuk menerima keadaan. Apalagi, mereka kan juga terbiasa belajar di luar ruangan. Misalnya saat pembelajaran lingkungan,” ungkap dia.

Setidaknya, ada 28 pelajar yang menjalani pembelajaran di musala. Ia mengklaim, hampir tidak ada kendala. Artinya, pembelajaran di musala, sama dengan pembelajaran di ruang kelas.

Saat sudah berpindah ruangan, pelajar memang tak diperkenankan untuk berada di ruang kelas yang lama. Bahkan, pihak sekolah akhirnya memasang tali rafia sebagai penanda agar para pelajar tidak memasuki ruang kelas.

Hingga Kamis (9/1) siang, tiba-tiba tiga ruang kelas yang telah dikosongkan itu ambruk. Saat itu sejumlah siswa sudah dipulangkan. Termasuk siswa kelas 3A.

Umiati mengaku tak menyangka ruang kelas tersebut sampai ambruk. Ia mengira kerusakan atap kelas yang ditempati sebelumnya hanya rusak ringan.

“Saya benar-benar tak mengira kalau sampai ambruk begitu. Saya pikir hanya rusak kecil. Tidak tahunya sampai ambruk seperti itu,” akunya.

Karena itulah, ia bersyukur. Mengingat, para pelajar sudah dipindahkan jauh-jauh hari sebelum kejadian. Kalau tidak dipindahkan, ia pun tak bisa membayangkan bagaimana jadinya.

“Alhamdulillah, jauh-jauh hari sudah dikosongkan. Sehingga, tidak sampai ada korban jiwa,” tuturnya.

Kondisi tersebut, dinilainya tak mempengaruhi mental siswa. Ia meyakinkan, pelajar di sekolah setempat tidak merasa trauma. Buktinya, mereka bisa belajar dan bermain seperti biasanya. Maklum saja, mereka sudah dipindahkan terlebih dahulu, sebelum kejadian ambruk. Sehingga, tidak ada yang sampai menjadi korban.

“Kalau trauma, kami rasa tidak. Kan mereka dipindahkan jauh-jauh hari sebelum ambruk,” pungkasnya.

Salah satu siswa 3A, Hafis mengaku, senang belajar di musala. Ia tidak terganggu dengan kejadian ambruknya ruang kelas di sekolahnya. “Saya senang. Tidak merasa takut (trauma, Red),” akunya dengan polos.

Etik, salah satu wali murid mengaku sempat kaget dengan kejadian tersebut. Maklum, kejadian tersebut berlangsung di madrasah tempat anaknya belajar.

“Namanya orang tua, ya kaget, Mas. Tapi untungnya, saat kejadian anak saya sudah pulang,” sampainya.

Kepala MIN 1 Pasuruan Abdul Mu’id mengungkapkan, tiga ruang kelas yang ambruk memang merupakan bangunan lama. Sudah dibangun sejak 1996, namun tidak pernah ada pembenahan.

Rencana pembenahan memang sempat muncul. Pihaknya pun sudah menggelar pertemuan dengan komite untuk menangani sekolah setempat. Karena kondisi ruangan tiga kelas itu mengkhawatirkan.

Wacana pun dimunculkan. Bukan lagi sekadar memasang rangka baja. Tetapi akan dicor atau dak. Namun, belum sempat wacana itu direalisasikan. Atap ruangan ketiga kelas itu tiba-tiba ambruk.

“Memang kondisinya sudah mengkhawatirkan. Makanya, kami pindahkan anak-anak ke ruangan yang lebih aman,” sambungnya.

Ia sendiri berharap agar ada penanganan dari Kemenag Pusat. Sehingga, ruang kelas tersebut bisa kembali digunakan siswa. “Harapan kami tentunya bisa segera dibenahi. Supaya bisa kembali ditempati,” pungkasnya. (one/hn/fun)