Rampung Dibangun, Rusunawa Mayangan Tak Kunjung Ditempati

MAYANGAN, Radar Bromo – Pembangunan rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) Mayangan sudah rampung sejak beberapa waktu lalu. Namun, hingga Jumat (10/1) rusunawa itu belum ditempati.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukinan Kota Probolinggo Agus Hartadi menyampaikan, Rusunawa Mayangan memang belum dihuni. Sebab, sejauh ini rusunawa belum diserahkan secara resmi ke Pemkot Probolinggo.

Pemkot sendiri masih menunggu pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam proses serah terima asetnya. Sebab, pembangunan rusunawa ini dilakukan pemerintah pusat. Pemkot hanya menyiapkan lahannya. “Sejauh ini masih belum ada serah terimanya,” tandasnya.

Rusunawa Mayangan sendiri dipersiapkan untuk relokasi bagi warga yang terdampak penataan kawasan kumuh di wilayah Mayangan. “Jadi, rusunawa itu diperuntukan bagi rumah yang terdampak penataan kawasan kumuh di Mayangan,” terang Agus Hartadi.

Diketahui, Pemkot Probolinggo mematangkan program Penataan Kawasan Mayangan sebagai bagian dari program Kotaku. Program senilai Rp 53 miliar ini akan menata 33,8 hektare kawasan di Kelurahan Mayangan dan Sukabumi.

Program itu sendiri dilakukan multiyears, tahun 2019-2021. Pada tahun pertama, pengerjaan dilakukan di sisi barat JLU. Dari rencana ini, ada 48 kepala keluarga yang dipastikan terdampak program Penataan Kawasan Mayangan.

Jumlah ini diperkirakan akan bertambah. Mengingat program ini akan berlangsung sampai 2021. Selain itu, direncanakan 25 meter dari jalan lingkar utara (JLU) ke selatan akan dibuat ruang terbuka hijau (RTH). Karenanya, rumah warga yang berjarak 25 meter dari JLU akan dibebaskan.

Kapasitas dari rusunawa yang dipersiapkan sejauh ini ialah satu blok atau 30 rumah. Siapa saja warga yang akan menempati rusunawa ini? Pria yang akrab disapa Agus menyampaikan bahwa hingga kemarin data yang masuk masih 11 KK (kepala keluarga). “Ini sesuai dengan warga yang memang benar-benar berdampak, dan memiliki sertifikat,” imbuhnya.

Disinggung mengenai harga sewa, Agus mengaku masih akan dibahas. Pasalnya, luas dan bentunya berbeda dengan rusunawa yang telah ada sebelumnya.

“Mengenai biaya sewa, hingga saat ini masih dikaji. Sebab, rusunawa Mayangan beda dengan 3 rusunawa lainnya yang lebih dulu dibangun,” jelasnya.

Nantinya melalui unit pengelola teknis (UPT) rusunawa yang ada di bagian Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukinan Kota Probolinggo memiliki tugas menyeleksi masyarakat yang berhak tinggal. (rpd/mie)