alexametrics
29.5 C
Probolinggo
Sunday, 22 May 2022

Nelayan Minta Toleransi Pemakaian Jeriken di SPBU Karena di SPBN Syaratnya Sulit

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Adanya larangan pembelian bahan bakar dengan menggunakan jeriken di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) reguler, dikeluhkan nelayan. Sejumlah nelayan berharap regulasi baru. Pasalnya, aturan larangan tersebut menyusahkan para nelayan. Mengingat tidak semua Satsiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) dapat melayani permintaaan solar seluruh kapal yang ada di Pelabuhan Pantai Mayangan.

Seperti yang diungkapkan Didik Hariyanto, salah satu nelayan yang juga pengurus kapal Jonggrang. Menurutnya SPBN ketersediaannya terbatas. Belum lagi jika pengirimannya terlambat. Selain itu untuk membeli di SPBN harus mengantongi izin. Sementara izin sejumlah kapal terutama kapal jonggrang banyak yang mati.

“Sehingga kami sulit untuk mendapatkan bahan bakar berupa solar untuk melaut,” bebernya.

Lebih lagi, pertamina melarang pembelian bakan bahar mesin dengan menggunakan jeriken. Sehingga para nelayan kesulitan untuk membeli bahan bakar. Mereka harus melobi dengan pihak SPBU agar diizinkan membeli dengan jeriken. “Meski boleh dengan sembunyi-sembunyi lantaran kasihan. Itupun dibatasi satu orang hanya 2 jeriken saja,” bebernya.

Dengan demikian maka untuk memperoleh bahan bakar solar dari SPBU reguler, dia harus berusaha keras. Mengingat paling tidak jika ingin berlayar setidaknya dia membutuhkan sepuluh hingga 12 orang yang berbeda untuk membeli bahan bakar dengan masing-masing membawa dua jeriken.

“Jika di SPBU Reguler Mayangan kehabisan dan tidak diperbolehkan, maka kami harus mencari di SPBU reguler lainnya,” tambahnya.

Ia berharap, paling tidak ada regulasi baru yang mengizinkan kapal untuk membeli di SPBU reguler dengan menggunakan jeriken. Atau paling tidak, pemerintah harus memberikan alternatif untuk menambah SPBN. Mengingat yang SPBN ada di Mayangan saat ini selain harus memiliki izin, stoknya juga terbatas.

“Misalkan ada penambahan SPBN lagi dan tidak perlu menggunakan izin dan lainnya. Mengingat keberadaan kapal jonggrang saat ini saja masih ngambang,” pungkasnya.

Menyikapi hal itu, Choirul Anam, pengurus Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di dalam area PPPM membenarkan, jika solar di SPBN-nya hanya untuk nelayan di bawah 30 GT dan yang memiliki izin. Sehingga tidak semua nelayan bisa melakukan pengisian.

Sehingga banyak para nelayan yang mencari bahan bakar ke SPBU reguler dengan menggunakan jeriken. “Sesuai regulasi Pertamina, memakai jeriken sebetulnya tidak boleh,” bebernya.

Dengan demikian ia tidak bisa berbuat banyak. Mengingat di SPBN yang dikelolanya, hanya bisa mengisi bahan bakar solar kepada pemilik izin. “Jadi banyak yang beli di SPBU reguler, meski curi-curi dengan jeriken,” pungkasnya. (rpd/fun)

PROBOLINGGO, Radar Bromo – Adanya larangan pembelian bahan bakar dengan menggunakan jeriken di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) reguler, dikeluhkan nelayan. Sejumlah nelayan berharap regulasi baru. Pasalnya, aturan larangan tersebut menyusahkan para nelayan. Mengingat tidak semua Satsiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) dapat melayani permintaaan solar seluruh kapal yang ada di Pelabuhan Pantai Mayangan.

Seperti yang diungkapkan Didik Hariyanto, salah satu nelayan yang juga pengurus kapal Jonggrang. Menurutnya SPBN ketersediaannya terbatas. Belum lagi jika pengirimannya terlambat. Selain itu untuk membeli di SPBN harus mengantongi izin. Sementara izin sejumlah kapal terutama kapal jonggrang banyak yang mati.

“Sehingga kami sulit untuk mendapatkan bahan bakar berupa solar untuk melaut,” bebernya.

Lebih lagi, pertamina melarang pembelian bakan bahar mesin dengan menggunakan jeriken. Sehingga para nelayan kesulitan untuk membeli bahan bakar. Mereka harus melobi dengan pihak SPBU agar diizinkan membeli dengan jeriken. “Meski boleh dengan sembunyi-sembunyi lantaran kasihan. Itupun dibatasi satu orang hanya 2 jeriken saja,” bebernya.

Dengan demikian maka untuk memperoleh bahan bakar solar dari SPBU reguler, dia harus berusaha keras. Mengingat paling tidak jika ingin berlayar setidaknya dia membutuhkan sepuluh hingga 12 orang yang berbeda untuk membeli bahan bakar dengan masing-masing membawa dua jeriken.

“Jika di SPBU Reguler Mayangan kehabisan dan tidak diperbolehkan, maka kami harus mencari di SPBU reguler lainnya,” tambahnya.

Ia berharap, paling tidak ada regulasi baru yang mengizinkan kapal untuk membeli di SPBU reguler dengan menggunakan jeriken. Atau paling tidak, pemerintah harus memberikan alternatif untuk menambah SPBN. Mengingat yang SPBN ada di Mayangan saat ini selain harus memiliki izin, stoknya juga terbatas.

“Misalkan ada penambahan SPBN lagi dan tidak perlu menggunakan izin dan lainnya. Mengingat keberadaan kapal jonggrang saat ini saja masih ngambang,” pungkasnya.

Menyikapi hal itu, Choirul Anam, pengurus Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di dalam area PPPM membenarkan, jika solar di SPBN-nya hanya untuk nelayan di bawah 30 GT dan yang memiliki izin. Sehingga tidak semua nelayan bisa melakukan pengisian.

Sehingga banyak para nelayan yang mencari bahan bakar ke SPBU reguler dengan menggunakan jeriken. “Sesuai regulasi Pertamina, memakai jeriken sebetulnya tidak boleh,” bebernya.

Dengan demikian ia tidak bisa berbuat banyak. Mengingat di SPBN yang dikelolanya, hanya bisa mengisi bahan bakar solar kepada pemilik izin. “Jadi banyak yang beli di SPBU reguler, meski curi-curi dengan jeriken,” pungkasnya. (rpd/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/