Lagi, Warga Tolak BLT DD, Menganggap Masih Ada yang Lebih Layak

KRUCIL, Radar Bromo – Sikap kebesaran hati kembali ditunjukkan warga di Kabupaten Probolinggo. Setelah beberapa waktu lalu tiga warga di Desa Bimo, Kecamatan Pakuniran, langkah serupa dilakukan warga di Desa Plaosan, Kecamatan Krucil.

Kemarin (9/6) saat ada pembagian Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT DD), ada warga yang menolaknya. Penolakan tersebut bukan sebagai bentuk protes. Namun, dilakukan karena merasa ada yang lebih layak untuk menerima bantuan untuk warga terdampak pandemi Covid-19 tersebut.

Penolakan itu dilakukan oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari Ma’il, 54, asal RT 5/RW 03 Dusun Mandati. Penolakan tersebut dilakukan saat pembagian BLT DD di balai desa setempat.

Saat itu Budi Haryono, 30, yang tidak lain adalah anak dari Ma’il, datang ke balai desa. Dengan membuat surat pernyataan yang disaksikan perangkat desa, keluarga Ma’il sepakat tak menerima BLT DD.

“Satu orang menolak menerima BLT DD dan dikembalikan lagi kepada kami. Penolakan itu diwakilkan oleh anaknya,” ujar Tosan, kepala Desa Plaosan, Kecamatan Krucil.

DISAKSIKAN BANYAK ORANG: Budi Haryono (memegang surat) bersama Kepala Desa Plaosan, Tosan (mengenakan jaket) memperlihatkan surat pernyataan penolakan BLTDD. (Foto: Istimewa)

Tosan menambahkan, saat penolakan terjadi, Budi Haryono meminta BLT DD yang diberikan kepada keluarganya agar bisa diberikan kepada warga yang lebih layak. “Masih banyak warga yang lebih layak untuk menerima bantuan ini,” ujar Tosan menirukan Budi Haryono.

Sebelumnya, saat proses pendataan KPM BLT DD, pihaknya melibatkan relawan, perangkat desa, dan RT/RW setempat. Hasilnya, saat itu Ma’il beserta keluarganya termasuk Budi Haryono, memang layak mendapatkan bantuan tersebut.

Penolakan bantuan yang dilakukan Budi Haryono ternyata tidak hanya dilakukan sekali. Namun, pada bantuan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Dari kondisi perekonomian, keluarga ini memang layak mendapatkan. Mungkin karena latar belakang pendidikan Budi Haryono yang sarjana, membuat keluarga berbesar hati, sehingga legawa untuk memberi kesempatan kepada warga lainnya yang lebih layak menerima,” ujar Tosan.

Dengan adanya kejadian tersebut, Tosan merasa bangga memiliki warga yang besar hati. Mengingat Desa Plaosan adalah salah satu desa dengan indeks tertinggal. “Saat orang banyak yang menginginkan bantuan ini, keluarga Ma’il ini malah mengembalikan. Kami berharap masyarakat bisa meniru kebesaran hati keluarga ini,” ujarnya.

Di sisi lain, pihak Kecamatan Krucil melalui Hendro Susanto selaku kasi kesra mengatakan, dengan adanya penolakan tersebut, pihaknya berharap desa dapat segera melangsungkan musyawarah. Nantinya bantuan tersebut dapat digeser pada warga lainnya.

“Sebelumnya, saya juga mengapresiasi warga yang menolak. Saat ini desa segera melangsungkan Musdes atau membuat berita acara yang ditandatangani oleh pihak bersangkutan untuk pengalihan BLT DD kepada orang lain agar bantuan tersebut dapat segera disalurkan,” ujarnya. (mg1/fun)