Harga Anjlok, Petani Resah, Sebut Garam Hanya Rp 600 per Kilogram

MENGOLAH TAMBAK: Hariyanto, petani tambak garam di Curahsawo saat memproses pengolahan garam di lahan miliknya. Belakangan petani tambak garam di Kabupaten Probolinggo, ketar-ketir akan harga yang belakangan kian menurun. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawapos Radar Bromo)

Related Post

GENDING, Radar Bromo – Petani tambak garam di Kabupaten Probolinggo kini diliputi perasaan resah. Betapa tidak, belakangan harga garam terus anjlok. Bahkan sejak Juli, harga garam yang di produksi petani di Kabupaten Probolinggo mengalami penurunan.

Keresahan itu salah satunya diungkapkan Hariyanto. Petani tambak garam asal Desa Curahsawo Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo mengatakan, pada bulan juli harga garam ada pada angka Rp 600.000. Angka yang menurut petani tidak normal. Karena jika dirinci, maka hanya Rp 600 perkilogram garam.

Hariyanto adalah petani yang juga memiliki gudang kecil dekat lahan tambak miliknya. Menurut dia, bulan Juli sudah menjual 10 Ton garam dengan harga Rp 600.000 perton. Ke 10 Ton garam yang dijualnya diambil dari gudang kecil yang berisi 30 ton pada waktu itu.

Dirinya mengaku bahwa, pada saat bulan juli, sangat membutuhkan uang sehingga meski pada saat itu harga dirinya turun, namun dia tetap menjual. “Kepepet pada waktu itu, sehingga saya jual. Tapi tidak semuanya, yang 20 saya masih simpan, karena harga anjlok,” ujarnya

Harga garam pada bulan juli menurutnya masih lebih baik daripada harga garam pada bulan ini. Hariyanto menyebutkan, harga garam saat ini ada pada angka Rp 500.000 sampai Rp 600 Ribu. “Bulan sekarang sangat anjlok, normalnya harga garam itu Rp 800 Ribu hingga Rp 1 juta perton. Kalau sekarang turun drastris,” katanya.

Hariyanto juga bercerita bahwa, pada bulan ini garamnya pernah laku dengan harga Rp 500 ribu perton. Garam yang dibeli darinya nanti akan dijual eceran dengan harga Rp 3.000 perkilo. “Berari garam yang saya jual itu perkilogramnya seharga Rp. 500 perak,” ujarnya.

Dia menjelaskan, di tahun 2018 pada bulan yang sama, harga garam ada pada angka 1,3 Juta perton. Dan di tahun 2017 dirinya pernah menjual garam dengan harga 3,5 juta perton.

Harga yang terus anjlok ini tidak diketauhi apa penyebabnya. Hanya saja Hariyanto menduga bahwa turunnya harga di sebabkan oleh pemerintan yang melakukan impor garam dari luar.

“Saya dengar petani garam yang ada di Madura sudah 3 kali berunjukrasa mengenai harga garam yang anjlok ini. Kabarnya juga, pemerintah impor barang dari luar kira-kira ratusan ribu ton. Sehingga garam milik petani sendiri anjlok harganya,” ujarnya.

Sementara itu, Radar Bromo sempat mencari tahu kepada dinas terkait. Termasuk ke Dinas perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Probolnggo. Kepala Bidang Perdagangan Deny Kartika Sari menyampaikan, belum mengetahui perihal anjloknya harga garam.

Pihaknya memerlukan konfirmasi perihal harga yang dikeluhkan petani. “Saya masih akan konfirmasi perihal harga tersebut,” ujarnya. (mg1/fun)