alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Keren, Siswa SMKN 1 Kotaanyar Ini Gugah Literasi Warga dengan Cara Unik

Banyak strategi yang bisa dilakukan untuk menggugah literasi warga. Seperti yang dilakukan Rozy Wahyudi, siswa SMKN 1 Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo. Dengan motor keliling (morling), ia menawarkan buku-buku koleksinya untuk dibaca banyak orang. Strategi itu yang membuatnya diganjar prestasi tingkat Jatim.

M. HILAL LAHAN AMRULLAH, Kotaanyar

Upaya menggairahkan literasi terus dilakukan lembaga pendidikan. Maklum, lembaga pendidikan memiliki peran penting menyuntikkan virus membaca mulai anak usia dini. Kampanye literasi kemudian ditopang dengan sejumlah festival dan lomba.

Baik yang digelar pemerintah maupun swasta. Hingga kemudian, muncul inovasi-inovasi untuk menggugah semangat membaca pada masyarakat.

Inovasi itulah yang dilakukan Rozy Wahyudi, siswa SMKN 1 Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo. Pelajar kelas XII Teknik Kendaraan Ringan (TKR) ini berhasil mencuri perhatian juri melalui inovasi di bidang literasi. Dalam Festival Literasi SMK 2018 tingkat Jawa Timur pada akhir Juli lalu, Rozy merebut Juara I Lomba Karya Vokasi Moda Literasi Bergerak SMK.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo beberapa waktu lalu, raut wajah Rozy Wahyudi terlihat semringah. Kegembiraannya itu tak lepas dari prestasi yang baru didapatkannya. Siswa kelahiran Probolinggo, 7 Maret 2001 ini kemudian menceritakan pengalamannya selama tiga hari mengikuti lomba. Yakni, di Arca Cottages and Resort Trawas Mojokerto.

Rozy mengatakan, persiapannya dalam lomba tersebut sangatlah mepet. Rozy dipilih menjadi delegasi sekolah lantaran dinilai memiliki kemampuan lebih. Rozy merupakan peringkat pertama di kelasnya. Bersama guru dan kepala sekolahnya, Rozy kemudian membahas ide apa yang menarik untuk diikutkan dalam lomba.

Hingga kemudian, dipilihlah motor keliling (morling) yang melayani masyarakat agar mudah mengakses buku. Morling tersebut dilengkapi dengan katalog buku dan pengeras suara atau toa.

Dengan morling itu, Rozy rajin menyambangi pusat keramaian. Seperti Pasar Kotaanyar, bahkan tempat wisata Pantai Duta, Desa Randutatah, Kecamatan Paiton. “Awalnya malu. Saya dikira mau jualan buku,” terangnya.

Saat berkunjung ke Pantai Duta, jumlah peminat buku yang dibawanya lebih banyak. Rata-rata buku yang banyak diminati adalah novel. Pengunjung bahkan antusias dengan upaya yang dilakukan putra dari pasangan suami-istri (pasutri) Mukhlis dan Asria itu. “Saya jawab, mau mencari pengalaman,” terangnya saat ada yang bertanya tentang aktivitasnya tersebut.

Saat itu, Rozy menyadari minat baca warga rendah. Sebagian besar masyarakat banyak menghabiskan waktu menggunakan ponsel. Karena itu, setelah dinobatkan menjadi juara, Rozy merasa punya beban untuk mengaktualisasikan kemenangan itu melalui upaya yang nyata dan kontinyu.

Ia sendiri tidak menyangka bisa menjadi juara pertama. Apalagi, dalam lomba itu ia merasa tidak hanya mendapat juara, namun teman.

“Saya bertemu teman dari luar daerah, saya sharing tentang elektro, nambah wawasan juga,” terang anak bungsu dari empat bersaudara ini. Ketika ditanya resep kemenangannya selain ide yang orisinal, Rozy mengaku menjawab jujur semua pertanyaan juri.

Ke depan, Rozy berharap menjadi lebih baik. Pasalnya, Oktober mendatang ia mewakili Jawa Timur di tingkat nasional yang digelar di Makassar. Rozy berjanji akan mempersiapkan lomba dengan lebih maksimal. Tujuannya, agar pelayanan morling lebih efektif. “Kendalanya terutama pada malam hari, morling butuh penerangan,” terangnya.

Sementara, Kepala SMKN 1 Kotaanyar Sugeng Romadhoni mengatakan, Rozy adalah siswa yang mudah menangkap pelajaran. “Perilakunya juga baik. Waktu deadline lomba hanya dua hari, kami butuh siswa yang cepat. Ternyata Rozy bisa memberikan yang terbaik,” terangnya.

Sugeng –sapaan akrabnya – menambahkan, waktu persiapan lomba cukup mepet. Sosialisasi lomba di Pemprov Jatim yang dihadiri Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) baru dilakukan 17 Juli. Sedangkan batas akhir penyerahan proposal lomba tanggal 19 Juli pukul 24.00. Beruntung, dalam dua hari materi lomba terkirim. “Terus terang, kami cari ide kreatif yang punya prospek ke depan,” terangnya.

Gagasan awal, mulai dari gerobak sampah dimodifikasi menjadi perpustakaan sampah bergerak. Bahkan, becak motor dan motor roda tiga juga menjadi inspirasi untuk lomba tersebut. Namun, properti tersebut tidak ada yang dimiliki sekolah. Karena itu, diputuskanlah memakai morling atau motor keliling.

Sasaran dari kampanye literasi itu adalah lokasi yang banyak orangnya. Mulai pasar, tempat wisata, halte, dan sebagainya. “Kemana pun bisa dijangkau. Kami pilih yang murah meriah, sederhana, dan efektif. Yang penting tepat sasaran,” terangnya.

Morling dimodifikasi seperti penjual tahu petis dan terang bulan yang keliling di kota-kota. Gerobak terbuat dari kayu. Orisinalitas karya, murah, terjangkau, serta efektif, yang membuat karya tersebut mencuri perhatian juri. Sugeng mengatakan, ide yang dituangkan dalam morling memang mengacu pada petunjuk teknis (juknis).

“Dia ditanya, ini karyanya kapan diciptakan. Dia jawab dua hari sebelum lomba, lalu berhenti dulu, karena belum ada kelanjutan pengumuman. Tapi, dijalankan untuk persiapan,” terangnya.

Untuk kebutuhan buku yang dipinjamkan, terdiri atas banyak tema, judul, dan segmen pembaca. Mulai dari anak-anak hingga orang tua. Ada juga buku-buku agama.

Buku tersebut merupakan sumbangan para guru di sekolah. “Ke depan morling akan dipatenkan. Saya berharap dengan momentum kemenangan literasi ini, untuk lebih berinovasi dalam mengampanyekan literasi,” jelasnya. (rf/mie)

Banyak strategi yang bisa dilakukan untuk menggugah literasi warga. Seperti yang dilakukan Rozy Wahyudi, siswa SMKN 1 Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo. Dengan motor keliling (morling), ia menawarkan buku-buku koleksinya untuk dibaca banyak orang. Strategi itu yang membuatnya diganjar prestasi tingkat Jatim.

M. HILAL LAHAN AMRULLAH, Kotaanyar

Upaya menggairahkan literasi terus dilakukan lembaga pendidikan. Maklum, lembaga pendidikan memiliki peran penting menyuntikkan virus membaca mulai anak usia dini. Kampanye literasi kemudian ditopang dengan sejumlah festival dan lomba.

Baik yang digelar pemerintah maupun swasta. Hingga kemudian, muncul inovasi-inovasi untuk menggugah semangat membaca pada masyarakat.

Inovasi itulah yang dilakukan Rozy Wahyudi, siswa SMKN 1 Kotaanyar, Kabupaten Probolinggo. Pelajar kelas XII Teknik Kendaraan Ringan (TKR) ini berhasil mencuri perhatian juri melalui inovasi di bidang literasi. Dalam Festival Literasi SMK 2018 tingkat Jawa Timur pada akhir Juli lalu, Rozy merebut Juara I Lomba Karya Vokasi Moda Literasi Bergerak SMK.

Saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo beberapa waktu lalu, raut wajah Rozy Wahyudi terlihat semringah. Kegembiraannya itu tak lepas dari prestasi yang baru didapatkannya. Siswa kelahiran Probolinggo, 7 Maret 2001 ini kemudian menceritakan pengalamannya selama tiga hari mengikuti lomba. Yakni, di Arca Cottages and Resort Trawas Mojokerto.

Rozy mengatakan, persiapannya dalam lomba tersebut sangatlah mepet. Rozy dipilih menjadi delegasi sekolah lantaran dinilai memiliki kemampuan lebih. Rozy merupakan peringkat pertama di kelasnya. Bersama guru dan kepala sekolahnya, Rozy kemudian membahas ide apa yang menarik untuk diikutkan dalam lomba.

Hingga kemudian, dipilihlah motor keliling (morling) yang melayani masyarakat agar mudah mengakses buku. Morling tersebut dilengkapi dengan katalog buku dan pengeras suara atau toa.

Dengan morling itu, Rozy rajin menyambangi pusat keramaian. Seperti Pasar Kotaanyar, bahkan tempat wisata Pantai Duta, Desa Randutatah, Kecamatan Paiton. “Awalnya malu. Saya dikira mau jualan buku,” terangnya.

Saat berkunjung ke Pantai Duta, jumlah peminat buku yang dibawanya lebih banyak. Rata-rata buku yang banyak diminati adalah novel. Pengunjung bahkan antusias dengan upaya yang dilakukan putra dari pasangan suami-istri (pasutri) Mukhlis dan Asria itu. “Saya jawab, mau mencari pengalaman,” terangnya saat ada yang bertanya tentang aktivitasnya tersebut.

Saat itu, Rozy menyadari minat baca warga rendah. Sebagian besar masyarakat banyak menghabiskan waktu menggunakan ponsel. Karena itu, setelah dinobatkan menjadi juara, Rozy merasa punya beban untuk mengaktualisasikan kemenangan itu melalui upaya yang nyata dan kontinyu.

Ia sendiri tidak menyangka bisa menjadi juara pertama. Apalagi, dalam lomba itu ia merasa tidak hanya mendapat juara, namun teman.

“Saya bertemu teman dari luar daerah, saya sharing tentang elektro, nambah wawasan juga,” terang anak bungsu dari empat bersaudara ini. Ketika ditanya resep kemenangannya selain ide yang orisinal, Rozy mengaku menjawab jujur semua pertanyaan juri.

Ke depan, Rozy berharap menjadi lebih baik. Pasalnya, Oktober mendatang ia mewakili Jawa Timur di tingkat nasional yang digelar di Makassar. Rozy berjanji akan mempersiapkan lomba dengan lebih maksimal. Tujuannya, agar pelayanan morling lebih efektif. “Kendalanya terutama pada malam hari, morling butuh penerangan,” terangnya.

Sementara, Kepala SMKN 1 Kotaanyar Sugeng Romadhoni mengatakan, Rozy adalah siswa yang mudah menangkap pelajaran. “Perilakunya juga baik. Waktu deadline lomba hanya dua hari, kami butuh siswa yang cepat. Ternyata Rozy bisa memberikan yang terbaik,” terangnya.

Sugeng –sapaan akrabnya – menambahkan, waktu persiapan lomba cukup mepet. Sosialisasi lomba di Pemprov Jatim yang dihadiri Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) baru dilakukan 17 Juli. Sedangkan batas akhir penyerahan proposal lomba tanggal 19 Juli pukul 24.00. Beruntung, dalam dua hari materi lomba terkirim. “Terus terang, kami cari ide kreatif yang punya prospek ke depan,” terangnya.

Gagasan awal, mulai dari gerobak sampah dimodifikasi menjadi perpustakaan sampah bergerak. Bahkan, becak motor dan motor roda tiga juga menjadi inspirasi untuk lomba tersebut. Namun, properti tersebut tidak ada yang dimiliki sekolah. Karena itu, diputuskanlah memakai morling atau motor keliling.

Sasaran dari kampanye literasi itu adalah lokasi yang banyak orangnya. Mulai pasar, tempat wisata, halte, dan sebagainya. “Kemana pun bisa dijangkau. Kami pilih yang murah meriah, sederhana, dan efektif. Yang penting tepat sasaran,” terangnya.

Morling dimodifikasi seperti penjual tahu petis dan terang bulan yang keliling di kota-kota. Gerobak terbuat dari kayu. Orisinalitas karya, murah, terjangkau, serta efektif, yang membuat karya tersebut mencuri perhatian juri. Sugeng mengatakan, ide yang dituangkan dalam morling memang mengacu pada petunjuk teknis (juknis).

“Dia ditanya, ini karyanya kapan diciptakan. Dia jawab dua hari sebelum lomba, lalu berhenti dulu, karena belum ada kelanjutan pengumuman. Tapi, dijalankan untuk persiapan,” terangnya.

Untuk kebutuhan buku yang dipinjamkan, terdiri atas banyak tema, judul, dan segmen pembaca. Mulai dari anak-anak hingga orang tua. Ada juga buku-buku agama.

Buku tersebut merupakan sumbangan para guru di sekolah. “Ke depan morling akan dipatenkan. Saya berharap dengan momentum kemenangan literasi ini, untuk lebih berinovasi dalam mengampanyekan literasi,” jelasnya. (rf/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU

/