Total Ada 14 Desa di Kab Pasuruan dan 5 Kelurahan di Kota Pasuruan Terendam Banjir

PASURUAN, Radar Bromo – Banjir perdana yang terjadi di Pasuruan terbilang parah. Di Kabupaten Pasuruan, banjir menerjang 14 desa di tiga kecamatan setelah hujan deras yang turun pada Selasa (7/1). Terparah di Desa Sadengrejo, Kecamatan Rejoso.

Adapun 14 desa yang terdampak antara lain Desa Kedungbako, Sambirejo, Kawisrejo, Rejoso Kidul, Rejoso Lor, Toyaning, Sadengrejo, dan Desa Pandanrejo di Kecamatan Rejoso. Dan, Desa Kedawung Kulon dan Desa Kedawung Wetan di Kecamatan Grati.

Selanjutnya, Desa Prodo, Desa Winongan Lor, Desa Winongan Kidul, dan Desa Bandaran di Kecamatan Winongan. Namun yang terparah adalah Desa Sadengrejo dan Desa Kedawung. Di sini, ketinggian air sempat mencapai 1,5 meter.

Setelah hujan deras sejak sore, air mulai naik ke permukiman warga sekitar pukul 19.00. Dan mencapai puncaknya sekitar pukul 01.00. Ketinggian air bervariasi. Mulai 80 sentimeter sampai 1,5 meter. Air bahkan belum surut hingga siang hari.

Kondisi ini membuat aktivitas warga pun lumpuh. Sejumlah sekolah yang terendam banjir diliburkan demi keselamatan siswa. Sementara pemdes mendirikan posko dapur umum untuk kebutuhan makanan dan obat-obatan bagi warga yang terdampak banjir.

BANTU: PLt Wali Kota Pasuruan Raharto Teno Prasetyo saat ikut membantu menyalurkan bahan makanan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Camat Rejoso Komari mengungkapkan, awalnya banjir hanya terjadi di Desa Sadengrejo dan Kedungbako pada pukul 19.00. Namun, curah hujan yang tinggi membuat banjir pun menyebar ke enam desa lainnya. Kondisi ini membuat delapan desa ini pun lumpuh.

Pihak kecamatan sendiri sudah berkoordinasi dengan delapan kades yang terdampak. Pihaknya meminta agar seluruh pemdes mendirikan dapur umum. Sementara untuk kebutuhan makanan maupun obat-obatan ditanggung bersama.

Menurutnya, banjir ini disebabkan karena intensitas hujan yang tinggi dalam waktu yang lama. Pihak kecamatan sendiri sudah berkoordinasi dengan BPBD dan relawan untuk membantu warga yang membutuhkan pertolongan.

“Sekolah di delapan desa yang terdampak diliburkan demi keselamatan. Bagi desa yang tidak punya anggaran tanggap bencana, pemkab siap membantu,” ungkapnya.

Tokoh masyarakat Desa Sadengrejo, Hudan Daldiri menjelaskan, Desa Sadengrejo memang sering dilanda banjir setiap tahun. Namun, selama ini tidak pernah parah seperti dua tahun terakhir. Kondisi ini terjadi sejak tol Gempol Pasuruan (Gempas) difungsikan pada 2018.

Menurutnya, keberadaan tol ini sedikit banyak berpengaruh. Aliran air sulit surut. Pihaknya sendiri sudah berkomunikasi dengan pihak tol pada 2019 dan menemukan kesepakatan untuk membangun normalisasi dan sudetan di desa setempat yang mengarah ke utara.

“Namun tidak maksimal karena normalisasi tidak dilakukan. Salurannya macet karena banyak lumpur di bawah sehingga dangkal. Kami berharap ada normalisasi dari pihak tol,” jelasnya.

Sementara itu, kemarin (8/1) siang, Wabup Pasuruan KH Mujib Imron mengunjungi Desa Sadengrejo di Kecamatan Rejoso. Kedatangannya juga untuk memberikan bantuan makanan dan obat-obatan pada pemdes.

Gus Mujib -sapaan akrabnya- menyebutkan ada 14 desa yang terdampak. Namun, yang paling parah menimpa Desa Sadengrejo dan Desa Kedawung Wetan dengan ketinggian air yang sempat mencapai 1,5 meter.

Wabup Pasuruan A Mujib Imron bersama Kapolresta Pasuruan AKBP Dony Alexander saat meninjau lokasi banjir. (Foto: Fahrizal Firmani/ Jawa Pos Radar Bromo)

 

Pemkab sendiri berkomitmen agar dampak banjir bisa terus berkurang. Pemkab rutin berkoordinasi dengan pemprov dan pusat agar sejumlah sungai besar yang melintasi Kabupaten Pasuruan bisa dinormalisasi setiap tahun.

“Sungai Rejoso atau Kali Welang yang selama ini jadi penyebab banjir bukan kewenangan kami. Tapi, kami terus komitmen dengan rutin menyampaikan ke yang berwenang,” sebut Gus Mujib.

Hujan lebat yang mengguyur Kota Pasuruan Selasa (7/1), membuat banjir di lima kelurahan di Kota Pasuruan. Sejumlah rumah warga terendam banjir perdana di awal tahun ini.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, ada seorang warga dievakuasi oleh tim Tagana Kota Pasuruan karena sudah tua. Selama banjir, warga juga sibuk membersihkan rumahnya yang tergenang.

Hujan mengguyur Kota Pasuruan sejak sekitar pukul 15.00 dan baru reda pukul 21.00. Intensitas hujan yang tinggi dari hulu ke hilir dan berlangsung enam jam, membuat sejumlah lokasi pun terendam. Ketinggian banjir antara 40 cm – 60 cm.

Lima kelurahan terendam dan sejumlah akses jalan utama juga banjir. Seperti Jalan Diponegoro dan Jalan Jawa di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Panggungrejo. Lalu Dusun Karang Asem, Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo.

Kemudian, Jalan Pati Unus, Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul. Selanjutnya, sebagian Kelurahan Petamanan, Kecamatan Panggungrejo dan sebagian Kelurahan Bakalan, Kecamatan Bugul Kidul. Namun, paling parah terletak di Jalan Diponegoro.

Ketua Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Pasuruan Samsul Hadi menjelaskan, banjir terjadi karena curah hujan tinggi yang merata dari hulu ke hilir. Di sisi lain, kontur daratan lokasi yang kebanjiran memang rendah.

Ia lantas mencontohkan Jalan Diponegoro dan Jalan Pati Unus. Kedua lokasi ini lebih rendah dari sungai di dekatnya. Yakni, Sungai Gembong. Sehingga saat sungai meluap, rumah warga di lokasi ini pun terendam.

Pihaknya sendiri sudah melakukan langkah antisipasi. Seperti menyiapkan ambulans dan perahu serta relawan untuk membantu warga. Sehingga, saat ada warga butuh pertolongan, BPBD bisa langsung melakukan evakuasi.

Menurutnya, ketinggian air dari pantauan oleh relawan dan anggota BPBD bervariasi. Mulai dari mata kaki hingga betis pria dewasa. Dan banjir paling parah terjadi di Jalan Diponegoro. Dimana ketinggian air yang masuk lingkungan warga setinggi betis.

“Kami sudah koordinasi dengan instansi terkait seperti Polres Pasuruan Kota untuk kesiapsiagaan bencana sejak awal bulan. Tentunya relawan dan anggota selalu siaga. Pemantauan ada empat kelurahan,” jelasnya.

Sementara itu, Selasa (7/1) petang, Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Pasuruan Raharto Teno Prasetyo mendatangi warga yang terdampak banjir di Jalan Diponegoro. Kedatangannya untuk memastikan warga dalam kondisi aman. Ia pun menyerahkan bantuan makanan untuk warga.

“Saya juga ingin memastikan warga dalam kondisi sudah makan. Sebab, membersihkan rumah yang kebanjiran butuh tenaga ekstra. Di sini memang paling parah. Ada 67 kepala keluarga yang terdampak (KK). Sebab, lokasinya merupakan cekungan,” terang Teno, panggilannya. (riz/hn/fun)