alexametrics
26.8 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Warga Baujeng Kembali Bergolak, Luruk Balai Desa dan Minta Persoalan Limbah Diatasi

BANGIL, Radar Bromo – Pencemaran sungai akibat limbah perusahaan, membuat warga Baujeng, Kecamatan Beji kembali bergolak. Kamis pagi (7/11) warga kembali menggelar unjuk rasa di kantor balai desa setempat.

Aksi itu dilakukan sebagai upaya protes, atas pencemaran Sungai Wangi. “Kami tidak akan blokir jalan ataupun bakar ban bekas, kalau perwakilan pemerintah hadir di sini,” kata Abdul Aziz, tokoh masyarakat Baujeng, Kecamatan Beji.

Aziz menyampaikan, kalau warga Baujeng hanya meminta agar limbah di sungai benar-benar dihilangkan. Pihaknya juga menuntut, agar Sungai Tanggul ataupun Sungai Baujeng yang mengalir dari Sungai Wangi dikembalikan kondisinya seperti semula.

Sehingga, masyarakat kembali bisa memanfaatkannya secara maksimal. “Dengan begitu, kami bisa mensyukuri keberadaan sungai di sini. Jadi, jangan mengiming-imingi kami dengan sumur bor ataupun kompensasi. Kami hanya ingin, kondisi sungai kami seperti semula,” urainya.

Asisten 1 Bidang Pemerintahan Pemkab Pasuruan, Anang Saiful Wijaya menguraikan, ada 12 perusahaan yang ditengarai membuang limbahnya ke Sungai Wangi. Ke 12 perusahaan itu, memiliki produksi yang beragam.

HARUS TUNTAS: Suasana pertemuan di Balai Desa Baujeng. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Ada produsen sarung, minuman dan berbagai produk lainnya. “Maka kami berharap kepada DLH agar ke 12 perusahaan itu diperiksa,” sampainya.

Hal ini untuk mencari fakta. Apakah pembuangan limbah yang dilakukan sudah sesuai dengan ketentuan dan baku mutu yang ada. Karena pihaknya khawatir, ada perusahaan yang melakukan pembuangan limbahnya tidak sesuai dengan ketentuan sehingga memicu bau.

Ia meyakinkan, pemeriksaan tersebut membutuhkan waktu. Satu perusahaan bisa menghabiskan waktu kurang lebih 14 hari. Karena itulah, pihaknya berharap warga bersabar. Seandainya waktu yang dibutuhkan tersebut, tidak sesuai dengan keinginan masyarakat yang selalu ingin cepat.

“Memang apa yang dilakukan DLH, tidak sebanding dengan percepatan yang diinginkan Jenengan sekalian. Karena DLH harus berhati-hati dalam melangkah, lantaran berkaitan dengan hukum,” tuturnya.

Selain itu, pemkab juga akan melakukan pemulihan sungai. Langkahnya dengan normalisasi sungai. Kegiatan tersebut juga harus diikuti perusahaan. Khususnya yang terbukti limbahnya tidak sesuai setelah dilakukan pemeriksaan.

Mediasi tersebut berlangsung panjang. Hingga akhirnya kesepatakan dicapai. Kesepakatan yang dimaksud, berupa komitmen pemerintah dalam menangani persoalan limbah di sungai setempat.

Tidak hanya menyampaikan resum evaluasi hasil pengawasan. Tetapi juga melibatkan masyarakat dalam melakukan pengawasan lingkungan hidup. Serta, kegiatan pemulihan sungai Tanggul untuk mengatasi persoalan bau. Dan masyarakat diperkenankan menutup pintu air, jika menemukan limbah mengaliri sungai. (one/fun)

BANGIL, Radar Bromo – Pencemaran sungai akibat limbah perusahaan, membuat warga Baujeng, Kecamatan Beji kembali bergolak. Kamis pagi (7/11) warga kembali menggelar unjuk rasa di kantor balai desa setempat.

Aksi itu dilakukan sebagai upaya protes, atas pencemaran Sungai Wangi. “Kami tidak akan blokir jalan ataupun bakar ban bekas, kalau perwakilan pemerintah hadir di sini,” kata Abdul Aziz, tokoh masyarakat Baujeng, Kecamatan Beji.

Aziz menyampaikan, kalau warga Baujeng hanya meminta agar limbah di sungai benar-benar dihilangkan. Pihaknya juga menuntut, agar Sungai Tanggul ataupun Sungai Baujeng yang mengalir dari Sungai Wangi dikembalikan kondisinya seperti semula.

Sehingga, masyarakat kembali bisa memanfaatkannya secara maksimal. “Dengan begitu, kami bisa mensyukuri keberadaan sungai di sini. Jadi, jangan mengiming-imingi kami dengan sumur bor ataupun kompensasi. Kami hanya ingin, kondisi sungai kami seperti semula,” urainya.

Asisten 1 Bidang Pemerintahan Pemkab Pasuruan, Anang Saiful Wijaya menguraikan, ada 12 perusahaan yang ditengarai membuang limbahnya ke Sungai Wangi. Ke 12 perusahaan itu, memiliki produksi yang beragam.

HARUS TUNTAS: Suasana pertemuan di Balai Desa Baujeng. (Foto: Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Ada produsen sarung, minuman dan berbagai produk lainnya. “Maka kami berharap kepada DLH agar ke 12 perusahaan itu diperiksa,” sampainya.

Hal ini untuk mencari fakta. Apakah pembuangan limbah yang dilakukan sudah sesuai dengan ketentuan dan baku mutu yang ada. Karena pihaknya khawatir, ada perusahaan yang melakukan pembuangan limbahnya tidak sesuai dengan ketentuan sehingga memicu bau.

Ia meyakinkan, pemeriksaan tersebut membutuhkan waktu. Satu perusahaan bisa menghabiskan waktu kurang lebih 14 hari. Karena itulah, pihaknya berharap warga bersabar. Seandainya waktu yang dibutuhkan tersebut, tidak sesuai dengan keinginan masyarakat yang selalu ingin cepat.

“Memang apa yang dilakukan DLH, tidak sebanding dengan percepatan yang diinginkan Jenengan sekalian. Karena DLH harus berhati-hati dalam melangkah, lantaran berkaitan dengan hukum,” tuturnya.

Selain itu, pemkab juga akan melakukan pemulihan sungai. Langkahnya dengan normalisasi sungai. Kegiatan tersebut juga harus diikuti perusahaan. Khususnya yang terbukti limbahnya tidak sesuai setelah dilakukan pemeriksaan.

Mediasi tersebut berlangsung panjang. Hingga akhirnya kesepatakan dicapai. Kesepakatan yang dimaksud, berupa komitmen pemerintah dalam menangani persoalan limbah di sungai setempat.

Tidak hanya menyampaikan resum evaluasi hasil pengawasan. Tetapi juga melibatkan masyarakat dalam melakukan pengawasan lingkungan hidup. Serta, kegiatan pemulihan sungai Tanggul untuk mengatasi persoalan bau. Dan masyarakat diperkenankan menutup pintu air, jika menemukan limbah mengaliri sungai. (one/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/