alexametrics
25.6 C
Probolinggo
Saturday, 21 May 2022

Kasus Perkosaan Ngendon, Warga Besuk Lurug Kejaksaan

KRAKSAAN, Radar Bromo – Puluhan warga Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, melurug Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo. Mereka menuntut keadilan terhadap korban pemerkosaan bernisial, NF, 28. Alasannya, sudah lama kasus ini masuk kejaksaan dan tak kunjung disidangkan.

Puluhan warga itu datang ke Kejaksaan sekitar pukul 08.00. Mereka datang membawa sejumlah poster bertuliskan kata-kata menuntut keadilan. Salah satunya berbunyi; pak jaksa buktikan kalau anda benar-benar pengacara negara yang menegakkan hukum terhadap pemerkosa.

Setelah beberapa menit beraksi, perwakilan warga diminta masuk ke kejaksaan. Mereka ditemui oleh Kasi Pidum Ardian Junaedi didampingi Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Riski Santoso.

Kepada Ardian, MS, 60, ayah korban mengaku datang untuk meminta keadilan. Sebab, pihaknya menilai kejaksaan lamban dalam menangani kasus yang menimpa anaknya. “Kasusnya sudah sebulan bergulir, tetapi masih di Kejaksaan saja,” ujarnya.

Pihaknya berharap Kejaksaan segera menyelesaikan kasusnya. Serta, meminta tersangka yang mengajukan penangguhan penahanan tidak disetujui. “Itu saja yang kami harapkan. Tolong segera ditindaklanjuti. Jangan dipersulit,” ujarnya.

Kasus perkosaan terhadap NF terjadi sejak sekitar empat tahun terakhir. Kepada keluarganya, NF mengaku ditiduri oleh pamannya yang berinisial SH, 52. Karena NF memiliki keterbelakangan mental, keluarganya tidak percaya.

Namun, sejak awal 2019, perut NF terus membesar. Mendapati itu, keluarganya curiga dan mulai percaya dengan cerita NF. Karenanya, pada Agustus lalu, keluarganya melapor ke Polres Probolinggo. Sampai kemarin, usia kandungan NF sudah masuk tujuh bulan.

Kasi Pidum Kejari Ardian Junaedi mengatakan kasus persetubuhan ini masih ditangani dan berkasnya masih P-19 alias belum lengkap. “Kami tidak mempersulit. Adanya warga yang bertanya mengenai kasus ini, saya kira lumrah. Berkasnya masih P-19. Masih ada beberapa yang harus diperbiki penyidik,” ujarnya.

Ardian menjelaskan, perbaikan yang dilakukan guna menunjang perkaranya. Apalagi, tersangka tidak mengakui telah melakukan persetubuhan. Karenanya, dibutuhkan berkas yang kuat agar tersangka tidak punya alibi. “Kami tidak mempersulit. Ini kami tangani dan masih dalam proses,” ujarnya. (sid/rud)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Puluhan warga Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, melurug Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Probolinggo. Mereka menuntut keadilan terhadap korban pemerkosaan bernisial, NF, 28. Alasannya, sudah lama kasus ini masuk kejaksaan dan tak kunjung disidangkan.

Puluhan warga itu datang ke Kejaksaan sekitar pukul 08.00. Mereka datang membawa sejumlah poster bertuliskan kata-kata menuntut keadilan. Salah satunya berbunyi; pak jaksa buktikan kalau anda benar-benar pengacara negara yang menegakkan hukum terhadap pemerkosa.

Setelah beberapa menit beraksi, perwakilan warga diminta masuk ke kejaksaan. Mereka ditemui oleh Kasi Pidum Ardian Junaedi didampingi Kasat Reskrim Polres Probolinggo AKP Riski Santoso.

Kepada Ardian, MS, 60, ayah korban mengaku datang untuk meminta keadilan. Sebab, pihaknya menilai kejaksaan lamban dalam menangani kasus yang menimpa anaknya. “Kasusnya sudah sebulan bergulir, tetapi masih di Kejaksaan saja,” ujarnya.

Pihaknya berharap Kejaksaan segera menyelesaikan kasusnya. Serta, meminta tersangka yang mengajukan penangguhan penahanan tidak disetujui. “Itu saja yang kami harapkan. Tolong segera ditindaklanjuti. Jangan dipersulit,” ujarnya.

Kasus perkosaan terhadap NF terjadi sejak sekitar empat tahun terakhir. Kepada keluarganya, NF mengaku ditiduri oleh pamannya yang berinisial SH, 52. Karena NF memiliki keterbelakangan mental, keluarganya tidak percaya.

Namun, sejak awal 2019, perut NF terus membesar. Mendapati itu, keluarganya curiga dan mulai percaya dengan cerita NF. Karenanya, pada Agustus lalu, keluarganya melapor ke Polres Probolinggo. Sampai kemarin, usia kandungan NF sudah masuk tujuh bulan.

Kasi Pidum Kejari Ardian Junaedi mengatakan kasus persetubuhan ini masih ditangani dan berkasnya masih P-19 alias belum lengkap. “Kami tidak mempersulit. Adanya warga yang bertanya mengenai kasus ini, saya kira lumrah. Berkasnya masih P-19. Masih ada beberapa yang harus diperbiki penyidik,” ujarnya.

Ardian menjelaskan, perbaikan yang dilakukan guna menunjang perkaranya. Apalagi, tersangka tidak mengakui telah melakukan persetubuhan. Karenanya, dibutuhkan berkas yang kuat agar tersangka tidak punya alibi. “Kami tidak mempersulit. Ini kami tangani dan masih dalam proses,” ujarnya. (sid/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/