alexametrics
28.5 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Gara-gara Tiang Halangi Jalan, Warga di Kelurahan Pohjentrek Ancam Golput saat Pilwali

POHJENTREK, Radar Bromo – Pesta demokrasi di Kota Pasuruan memang masih akan digelar Desember mendatang. Jauh sebelum pilwali digelar, mulai muncul ancaman boikot dari masyarakat di Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo. Mereka mengancam akan golput gara-gara adanya tiang penunjuk jalan.

Memang kesabaran warga di Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, mencapai puncaknya. Gara-gara akses jalan perkampungan terhalang tiang papan penunjuk arah.

Akses jalan yang terhalang tiang itu berada di RT 08/RW 05. Di ujung gang, warga memasang spanduk yang berisi tuntutan. Mereka mengancam akan tidak berpartisipasi dalam pilwali, kecuali tuntutan mereka sudah dipenuhi.

“Kami minta agar tiang penunjuk jalan dipindah sekaligus trotoar ini karena menghalangi akses warga,” ungkap Siswono, ketua RT.

Selama ini, kata Siswono, warga terbilang masih cukup sabar. Sebab, akses jalan tersebut semula berada di sisi selatan. Karena terimbas pembangunan jalan tol, akses warga digeser ke sisi utara. Sedangkan di ujung gang terpasang papan penunjuk arah.

Siswono mengaku jika warga setempat sudah mengadukan hal itu ke sejumlah pihak. Mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan, juga pihak tol Gempol-Pasuruan. Tetapi, upaya itu tak membuahkan hasil. Tiang papan penunjuk arah tetap saja tak dipindah.

“Kemarin saat kerja bakti, warga menanyakan masalah tiang sama trotoar itu. Kok masih belum diselesaikan juga,” ungkap dia.

Kondisi itu berlarut hingga hampir tiga tahun. Siswono mengaku, warga yang memiliki mobil juga kesulitan mau melintas di jalan tersebut. Akhirnya melintasi jalan di sisi selatan yang kondisinya juga kurang representatif.

Warga khawatir jika ada kejadian yang memerlukan keleluasaan akses jalan. Misalnya saja, kata Siswono, kejadian kebakaran yang sempat terjadi di kampung itu beberapa waktu lalu. Mobil pemadam kebakaran kesulitan ketika hendak menuju ke lokasi karena jalan yang sempit terhalang tiang.

“Sekarang kami sudah sebel menunggu terus. Makanya, sepakat tidak akan nyoblos pada pilwali nanti. Kami harap ini bisa diperhatikan pemerintah yang berwenang agar ditindaklanjuti,” pinta Siswono.

Ancaman warga yang akan golput pada pilwali, mendapat respons DPRD setempat. Ketua Komisi 3 DPRD Kota Pasuruan Ismu Hardiyanto meminta warga untuk bersabar lebih dulu. Dia sepakat jika tiang papan penunjuk arah itu untuk dipindah.

Sebab, berkaitan dengan akses jalan warga yang disebutnya sebagai kepentingan umum. Sedangkan papan penunjuk arah masih bisa digeser ke titik lain. “Ya memang harus dipindah,” ungkap Ismu.

Politisi PKS itu juga sudah menyampaikan tuntutan warga ke Pemkot Pasuruan melalui Dinas Perhubungan. Meskipun, tiang papan penunjuk arah itu sendiri menjadi kewenangan Pemprov Jawa Timur. Pihaknya meminta agar Dishub Kota Pasuruan berkoordinasi dengan Dishub Provinsi Jawa Timur.

“Kalau itu menjadi kewenangan provinsi ya Dishub agar bisa koordinasi supaya permasalahan ini cepat selesai,” tandasnya. (tom/fun)

POHJENTREK, Radar Bromo – Pesta demokrasi di Kota Pasuruan memang masih akan digelar Desember mendatang. Jauh sebelum pilwali digelar, mulai muncul ancaman boikot dari masyarakat di Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo. Mereka mengancam akan golput gara-gara adanya tiang penunjuk jalan.

Memang kesabaran warga di Kelurahan Pohjentrek, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, mencapai puncaknya. Gara-gara akses jalan perkampungan terhalang tiang papan penunjuk arah.

Akses jalan yang terhalang tiang itu berada di RT 08/RW 05. Di ujung gang, warga memasang spanduk yang berisi tuntutan. Mereka mengancam akan tidak berpartisipasi dalam pilwali, kecuali tuntutan mereka sudah dipenuhi.

“Kami minta agar tiang penunjuk jalan dipindah sekaligus trotoar ini karena menghalangi akses warga,” ungkap Siswono, ketua RT.

Selama ini, kata Siswono, warga terbilang masih cukup sabar. Sebab, akses jalan tersebut semula berada di sisi selatan. Karena terimbas pembangunan jalan tol, akses warga digeser ke sisi utara. Sedangkan di ujung gang terpasang papan penunjuk arah.

Siswono mengaku jika warga setempat sudah mengadukan hal itu ke sejumlah pihak. Mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan, juga pihak tol Gempol-Pasuruan. Tetapi, upaya itu tak membuahkan hasil. Tiang papan penunjuk arah tetap saja tak dipindah.

“Kemarin saat kerja bakti, warga menanyakan masalah tiang sama trotoar itu. Kok masih belum diselesaikan juga,” ungkap dia.

Kondisi itu berlarut hingga hampir tiga tahun. Siswono mengaku, warga yang memiliki mobil juga kesulitan mau melintas di jalan tersebut. Akhirnya melintasi jalan di sisi selatan yang kondisinya juga kurang representatif.

Warga khawatir jika ada kejadian yang memerlukan keleluasaan akses jalan. Misalnya saja, kata Siswono, kejadian kebakaran yang sempat terjadi di kampung itu beberapa waktu lalu. Mobil pemadam kebakaran kesulitan ketika hendak menuju ke lokasi karena jalan yang sempit terhalang tiang.

“Sekarang kami sudah sebel menunggu terus. Makanya, sepakat tidak akan nyoblos pada pilwali nanti. Kami harap ini bisa diperhatikan pemerintah yang berwenang agar ditindaklanjuti,” pinta Siswono.

Ancaman warga yang akan golput pada pilwali, mendapat respons DPRD setempat. Ketua Komisi 3 DPRD Kota Pasuruan Ismu Hardiyanto meminta warga untuk bersabar lebih dulu. Dia sepakat jika tiang papan penunjuk arah itu untuk dipindah.

Sebab, berkaitan dengan akses jalan warga yang disebutnya sebagai kepentingan umum. Sedangkan papan penunjuk arah masih bisa digeser ke titik lain. “Ya memang harus dipindah,” ungkap Ismu.

Politisi PKS itu juga sudah menyampaikan tuntutan warga ke Pemkot Pasuruan melalui Dinas Perhubungan. Meskipun, tiang papan penunjuk arah itu sendiri menjadi kewenangan Pemprov Jawa Timur. Pihaknya meminta agar Dishub Kota Pasuruan berkoordinasi dengan Dishub Provinsi Jawa Timur.

“Kalau itu menjadi kewenangan provinsi ya Dishub agar bisa koordinasi supaya permasalahan ini cepat selesai,” tandasnya. (tom/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/