alexametrics
28.2 C
Probolinggo
Friday, 12 August 2022

Fahrur Rozy, Pengasuh Ponpes Walisongo yang Juga Penulis Cerpen Nyentrik

Di kampung halamannya, Fahrur Rozy dikenal sebagai seorang pengasuh Ponpes Walisongo. Dia pun akrab disapa GusRozy. Tapi dia juga seorang penulis. Cerita pendek adalah spesialisnya.

—————-

Sosoknya tampak kalem, tapi juga nyentrik. Sebutan terakhir pantas disematkan kepadanya. Maklum saja, penampilannya memang nyentrik. Rambutnya gondrong hingga sebahu, adalah salahs atunya.

Dikampung halamannya, tepatnya di Dusun Rejoso, Desa Sumberrejo, Kecamatan Purwosari dikenal dengan sebutan Gus Rozy. Nama lengkapnya adalah Fahrur Rozy, lelaki yang juga pengasuh ponpes Walisongo.

Gus Rozy sejatinya adalah seorang seniman. Karena dia adalah pelukis. Namun dia juga seorang penulis. Ini juga diakui ketika Jawa Pos Radar Bromo bertandang ke rumahnya.

Kebiasaan menulis digelutinya aktif sejak remaja. Saat itu nyantri di ponpes Lirboyo, Kediri. Kebiasaannya menulis cerpen berlanjut dan aktif dilakukannya hingga sekarang.

“Bisanya secara otodidak, berangkat dari hobi saja. Diawali dari sering mencoba dan berlatih menulis cerpen, akhirnya terbiasa,” ungkap ayah satu putra ini.

Kini, sudah ratusan karya cerpen telah ditulisnya. Beberapa judul cerpennya antara lain Mahjadap, Halista, Berkencan Dengan Tuhan, Tunggu Aku di Bukit Semboja dan lain-lain.

Saat pertama kali nulis cerpen, Gus Rozy masih duduk dibangku aliyah dan menyandang status santri. Ia masih ingat betul, cerpen pertamanya berjudul “Sampaikan Salamku ke Hadapan Tuhan”. Ia tulis lima episode langsung selama dua hari.

“Saya tulis cerpen rata-rata bercerita tentang tasawuf, cinta, kritik sosial, politik serta lainnya. Sesuai imajinasi yang saya dapat, lalu menuangkannya dalam bentuk kritik tulisan berupa cerpen,” ucap suami Siti Choiriyah.

Untuk idenya sendiri, ia dapatkan beragam. Diantaranya terinspirasi setelah baca kitab, fenomena di masyarakat, bahkan juga ada dari mimpi. “Begitu dapat ide, langsung saya tulis menjadi cerpen,” cetusnya.

Menulis cerpen menurutnya adalah tantangan. Tak semudah yang dibayangkan banyak orang. Karena bentuknya berawal dari sebuah imajinasi, kemudian ditulis dan dinikmati oleh orang lain dengan membacanya.

Kesulitannya lainnya adalah memilih ending cerita hingga kalimat dan bahasa yang digunakan. Termasuk ada imajinasi baru. Setelah ide awal muncul sebagai konsepnya, Gus Rozy harus memilih jumlah tokoh yang akan dimunculkan.

“Buat cerpen paling cepat lima menit selesai. Sebaliknya paling lama bisa sampai satu pekan atau seminggu, tergantung dari tema yang diangkat,” ujar anak sulung dari sembilan bersaudara dari pasutri pendiri Ponpes Walisongo alm Kiai Ahmad Dahlan-Sriana.

Dari sekitar 400 cerpen karyanya, kini sudah ada satu yang dibukukan. “Sisanya dalam proses, juga akan segera dibukukan lagi imbuhnya.

Saat masih nyantri di Ponpes Lirboyo semasa remajanya dulu, tak jarang cerpen karyanya tampil dan tayang di sejumlah koran terbitan nasional. (zal/fun)

Di kampung halamannya, Fahrur Rozy dikenal sebagai seorang pengasuh Ponpes Walisongo. Dia pun akrab disapa GusRozy. Tapi dia juga seorang penulis. Cerita pendek adalah spesialisnya.

—————-

Sosoknya tampak kalem, tapi juga nyentrik. Sebutan terakhir pantas disematkan kepadanya. Maklum saja, penampilannya memang nyentrik. Rambutnya gondrong hingga sebahu, adalah salahs atunya.

Dikampung halamannya, tepatnya di Dusun Rejoso, Desa Sumberrejo, Kecamatan Purwosari dikenal dengan sebutan Gus Rozy. Nama lengkapnya adalah Fahrur Rozy, lelaki yang juga pengasuh ponpes Walisongo.

Gus Rozy sejatinya adalah seorang seniman. Karena dia adalah pelukis. Namun dia juga seorang penulis. Ini juga diakui ketika Jawa Pos Radar Bromo bertandang ke rumahnya.

Kebiasaan menulis digelutinya aktif sejak remaja. Saat itu nyantri di ponpes Lirboyo, Kediri. Kebiasaannya menulis cerpen berlanjut dan aktif dilakukannya hingga sekarang.

“Bisanya secara otodidak, berangkat dari hobi saja. Diawali dari sering mencoba dan berlatih menulis cerpen, akhirnya terbiasa,” ungkap ayah satu putra ini.

Kini, sudah ratusan karya cerpen telah ditulisnya. Beberapa judul cerpennya antara lain Mahjadap, Halista, Berkencan Dengan Tuhan, Tunggu Aku di Bukit Semboja dan lain-lain.

Saat pertama kali nulis cerpen, Gus Rozy masih duduk dibangku aliyah dan menyandang status santri. Ia masih ingat betul, cerpen pertamanya berjudul “Sampaikan Salamku ke Hadapan Tuhan”. Ia tulis lima episode langsung selama dua hari.

“Saya tulis cerpen rata-rata bercerita tentang tasawuf, cinta, kritik sosial, politik serta lainnya. Sesuai imajinasi yang saya dapat, lalu menuangkannya dalam bentuk kritik tulisan berupa cerpen,” ucap suami Siti Choiriyah.

Untuk idenya sendiri, ia dapatkan beragam. Diantaranya terinspirasi setelah baca kitab, fenomena di masyarakat, bahkan juga ada dari mimpi. “Begitu dapat ide, langsung saya tulis menjadi cerpen,” cetusnya.

Menulis cerpen menurutnya adalah tantangan. Tak semudah yang dibayangkan banyak orang. Karena bentuknya berawal dari sebuah imajinasi, kemudian ditulis dan dinikmati oleh orang lain dengan membacanya.

Kesulitannya lainnya adalah memilih ending cerita hingga kalimat dan bahasa yang digunakan. Termasuk ada imajinasi baru. Setelah ide awal muncul sebagai konsepnya, Gus Rozy harus memilih jumlah tokoh yang akan dimunculkan.

“Buat cerpen paling cepat lima menit selesai. Sebaliknya paling lama bisa sampai satu pekan atau seminggu, tergantung dari tema yang diangkat,” ujar anak sulung dari sembilan bersaudara dari pasutri pendiri Ponpes Walisongo alm Kiai Ahmad Dahlan-Sriana.

Dari sekitar 400 cerpen karyanya, kini sudah ada satu yang dibukukan. “Sisanya dalam proses, juga akan segera dibukukan lagi imbuhnya.

Saat masih nyantri di Ponpes Lirboyo semasa remajanya dulu, tak jarang cerpen karyanya tampil dan tayang di sejumlah koran terbitan nasional. (zal/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/