Hearing Kecelakaan Kerja PT AFU, Dewan Tanyakan Posisi Pengawas

KANIGARAN, Radar Bromo – Dua kecelakaan kerja di PT Amak Firdaus Utamo (AFU), terus menyita perhatian. Jumat (6/3), Komisi III DPRD Kota Probolinggo kembali memanggil sejumlah pihak. Posisi pengawas ketika terjadi kecelakaan kerja menjadi sorotan wakil rakyat.

Hearing kemarin dihadiri perwakilan dari Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja Kota Probolinggo, serta PT AFU. Sejatinya, DPRD juga mengundang Pengawas Tenaga Kerja, Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Timur, namun tidak hadir.

Awalnya, mereka membahas terbakarnya tangki bekas solar yang mengakibatkan 5 orang karyawan terluka, pada Selasa (3/3). Serta, terjepit jari salah satu pekerja dalam mesin produksi. “Kami tidak menyembunyikan kecelakaan kerja di bagian produksi. Bahkan, Polsek Mayangan tahu ada kejadian itu,” ujar Asisten Direktur PT AFU Kelik Supriyanto.

Kata Kelik, masuknya tangan pekerja ke mesin produksi karena human error. Sebelumnya, pihaknya telah mengingatkannya untuk tidak mengungkit mesin karena berbahaya. “Saya sudah mengingatkannya agar jangan diteruskan karena khawatir terjadi kecelakaan,” ujarnya ketika menceritakan kecelakaan kerja yang dialami Misnadi, 38, warga Desa Sumurmati, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Kecelakaan kerja kedua terjadi sekitar pukul 14.40. Sebuah tangki bekas solar berukuran sekitar 1 meter kali 1 meter kali 70 sentimeter meledak. Akibatnya, 5 karyawan terluka. Mereka pun dilarikan ke RSUD dr. Mohammad Saleh Kota Probolinggo.

Direktur PT AFU AAA Rudiyanto memastikan, sebelum dilakukan pekerjaan sudah ada pengawas yang menjelaskan Standar Operasional Prosedur (SOP)-nya. “Termasuk alat pengaman diri, air, ember pun telah disediakan di tempat perbaikan tangki. Rencananya, tangki itu akan dibuat lubang untuk air, karena ada kondensasi di dalam tangki yang dikhawatirkan akan merusak mesin,” ujarnya.

Menurutnya, ada kesalahan dalam proses perbaikannya. Pekerja ini tidak memasukkan air dalam tangki. Ketika proses pemasangan ground berlangsung tiba-tiba terjadi ledakan. “Seharusnya dimasukkan air ke dalam tangki, tapi tidak dilakukan. Dan terjadi ledakan, saat itu lima karyawan terluka,” jelasnya.

Ketua Komisi III DPRD Kota Probolinggo Agus Rianto menilai betul SOP telah disampaikan, termasuk briefing. Namun, pihaknya masih mempertanyakan terkait pengawasan ketika proses perbaikan berlangsung.

“Apakah pengawas masih ada di sana atau pindah ke tempat lain. Ini juga perlu diperhatikan. Bisa jadi saat proses pengerjaan, pekerja lupa dengan tahapannya. Di sini perlu adanya pengawas yang bisa mengingatkan ketika ada kesalahan dalam tahapan pengerjaan,” ujarnya.

Agus mengatakan, dalam kecelakaan kerja di PT AFU, bisa terjadi karena adanya human error. “Pengawasan saat proses perbaikan juga harus dilakukan untuk memastikan proses pekerjaan dijalankan sesuai SOP. Tidak hanya sekadar disampaikan saja,” ujarnya. (put/rud)