Dewan Sidak ke Pasar Baru, Minta Pedagang Harus Didata

KANIGARAN, Radar Bromo – Komisi II DPRD Kota Probolinggo, Senin (6/1) menggelar inspeksi mendadak (Sidak) ke Pasar Baru. Sidak ini bertujuan untuk memastikan kondisi pedagang Pasar Baru yang saat ini sebagian harus berpindah lokasi karena ada proses pembangunan.

Dari pemantauan Komisi II, pedagang Pasar Baru tidak hanya ada yang berjualan di los yang tersedia. Namun, tidak sedikit pedagang Pasar Baru yang berjualan di ruas jalan di dalam pasar.

Dalam sidak tersebut, salah satu pedagang Pasar Baru, Halim, salah satu pemilik toko di Jalan Cut Nyak Dien, mengeluhkan keberadaan tempat penampungan sementara (TPS) sangat memukul pendapatan usahanya. “Coba lihat deretan toko-toko di sini pada tutup. Mereka sewa ruko dan jualan di tempat baru. Saya gak bisa sewa karena gak ada uang. Kalau ditanya pendapatan, anjlok 50 persen,” ujarnya.

Halim menjelaskan, tokonya bisa menjual lebih murah dengan toko lain, tapi pembeli tetap berkurang. Akses jalan ini menyulitkan pembeli untuk membeli di toko ini. “Orang lebih memilih beli di toko modern meskipun lebih mahal karena buat akses ke toko lebih cepat,” ujarnya.

SIDAK: Sejumlah anggota Komisi II DPRD Kota Probolinggo saat mendatangi Pasar Baru. (Foto: Zainal Arifin/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Sibro Malisi, ketua Komisi II melihat kondisi pasar tidak layak. Termasuk fasilitas TPS yang tersedia untuk pedagang ini juga tidak sesuai. Sehingga banyak yang kosong tidak ditempati pedagang.

“Tujuan kami ke Pasar Baru ini untuk melihat kondisi pedagang. Dari kunjungan ini memang Pasar baru sudah tidak layak,” ujar Sibro Malisi, ketua Komisi II saat ditemui.

Dari laporan pedagang, keluhan utamanya adalah kebocoran atap terutama saat musim hujan. Sehingga, membuat pedagang terganggu saat berjualan. Mengenai keluhan pemilik toko, Sibro melihat bahwa akses jalan menjadi persoalan bagi pemilik toko. “Ini perlu diperhatikan juga bagi pemerintah soal ini. Apalagi banyak stan di TPS yang ditinggalkan pedagang karena tidak layak,” ujarnya.

Politisi Partai Nasdem ini juga meminta UPT Pasar Baru melakukan pendataan terhadap pedagang dan memperhatikan kondisi pedagang. “Selain itu, juga pasca pembangunan Pasar Baru ini ada pedagang yang dipindahkan. Ini, perlu didata oleh UPT Pasar. Jumlah pedagang yang berjualan di los, pedagang yang dipindahkan, pedagang yang berjualan lesehan di dalam pasar, termasuk yang berjualan di luar Pasar Baru,” ujarnya.

Sementara itu, M. Arif Billah, kepala UPT Pasar membenarkan jika kondisi Pasar Baru memang tidak layak seperti kebocoran yang dikeluhkan oleh sejumlah pedagang. “Kondisi Pasar baru memang banyak yang bocor dan akan mendapat perhatian dari kami juga,” ujarnya.

Mengenai data pedagang, Arif memastikan sudah ada data pedagang. Total jumlah pedagang Pasar Baru saat ini mencapai 700 orang pedagang. “Sedangkan yang dipindah ke TPS karena terkait pembangunan pasar baru total ada 300 pedagang. Hal ini sesuai dengan jumlah TPS yang ada, disiapkan untuk 300 pedagang,” jelasnya.

Mantan kepala UPT Pasar Wonoasih ini tidak menampik tidak semua pedagang yang dipindah ke TPS menempati TPS masing-masing. Hal ini karena sepi pembeli. “Dua sampai 3 minggu menempati TPS, mereka keluar karena sepi. Ini perlu solusi untuk membantu pedagang juga agar jualannya tetap laris,” ujarnya.

Arif menambahkan bahwa pihaknya akan mengusulkan kepada pihak berwenang terkait TPS. Misalnya pengaturan lalu lintas agar hanya kendaraan orang-orang yang berbelanja ke pasar saja yang bisa masuk ke Jalan Cut Nyak Dien. Termasuk mengubah konsep bedak TPS dibuat terbuka menghadap jalan sehingga memudahkan pembeli untuk langsung membeli ke pedagang tanpa perlu masuk ke dalam TPS. (put/fun)