alexametrics
33.9 C
Probolinggo
Wednesday, 20 October 2021

Cerita Subangkit, Pelatih Legendaris Persekabpas yang Kini Buka SSB

Bulan ini Persekabpas merayakan tahun berdirinya yang ke 35. Dari sejumlah legenda yang dimiliki tim berjuluk Laskar Sakera itu, nama Subangkit tak boleh dilupakan. Berkat tangan dinginnya Persekabpas jadi tim yang disegani di tanah air.

———–

TAHUN 2006, Persekabpas mampu menggebrak belantika sepakbola tanah air. Siapa yang mengira, tim dengan warna kebesaran oranye ini mampu menembus babak semifinal kasta teratas Liga Indonesia.

Di fase penyisihan wilayah, The Lassak –julukan lain Persekabpas- yang berstatus kuda hitam mampu tampil mengejutkan dengan finish di empat besar. Persekabpas mampu finish di atas tim yang memiliki kekuatan tradisional, seperti Persib Bandung hingga PSMS Medan

Kejutan tak sampai disitu. Di babak 8 besar, tim kondang macam PSM Makassar, Persija dilibas. Serta imbang saat lawan Persmin Minahasa. The Lassak pun masuk semifinal sebagai juara grup II kala itu. Sayang, kejutan Persekabpas kala itu dihentikan di semifinal oleh PSIS.

Nah, sosok dibalik sukses musim impresif itu adalah Subangkit. Pelatih asli kelahiran Pasuruan. Ia mampu mengoptimalkan pemain lokal seperti Akhmad Junaidi, Kasan Soleh dan beberapa pemain lainnya dengan pemain asing seperti Zah Rahan, Murphy Kumonple hingga Fransisco Panco Rotunno dalam skema 3-5-2.

Sentuhan Subangkit sebagai pelatih di Persekabpas sendiri cukup mentereng. Sebab, pria yang hobi bermain bulu tangkis ini sejatinya mulai melatih Persekabpas pada 2003 lalu.

Di awal kedatangan Subangkit, Persekabpas hanya bermain di kasta ketiga. Otomatis, hanya diperkuat pemain-pemain lokal. “Tapi, melihat semangat pemain, pengurus dan fanatisme supporter, menjadi daya gedor saya untuk bisa membawa perubahan pada tim Persekabpas kala itu,” kenang Subangkit.

Hasilnya, benar-benar tokcer. Hanya setahun menggawangi The Lassak, ia mampu menorehkan kebanggaan. Tim oranye ini, berhasil naik kasta ke Divisi 2 pada 2004.

Semangatnya untuk terus mengangkat reputasi The Lassak terus berkobar. Meski masih diperkuat tim lokal, ia mampu membangun tim yang solid. Hasilnya, Subangkit berhasil membawa Laskar Sakera masuk Divisi Utama Liga Indonesia setahun berikutnya.

Saat itulah Sakera langsung tampil sebagai kuda hitam. “Kebetulan, manajemen dan pengurus waktu itu sangat mendukung,” kenangnya.

Kepiawaiannya itulah, yang membuatnya kemudian banyak dilirik tim-tim besar lain. Termasuk timnas. “Sekarang, saya dipercaya untuk melatih Gresik United. Tapi, masih menunggu kompetisi bergulir,” beber pemilik lisensi kepelatihan A AFC tersebut.

****

 

SEPAK bola merupakan bagian dari hidup Subangkit. Lelaki yang tinggal di Perum Batumas Pandaan ini, hampir menghabiskan masa hidupnya untuk sepak bola.

Dedikasinya di dunia bola tidak hanya menjadi pemain ataupun pelatih.  Bahkan, ia kini juga tengah mengembangkan Sekolah Sepak Bola. “Sudah lima tahunan terakhir saya mengembangkan SSB Subangkit Soccer School di Porong, Kabupaten Sidoarjo,” akunya.

Setidaknya ada seratusan peserta didik yang tercatat di SSB nya. Bahkan, ada pula yang sampai tembus nasional. Baginya, kehadiran SSB tersebut diharapkan bisa mencetak pemain-pemain berbakat.

Sehingga, nantinya bisa menjadi pemain andalan dan kebanggaan Indonesia. “Saya tidak ingin sepakbola ini hanya untuk saya. Saya ingin menularkan ketrampilan bermain bola, supaya tercetak pemain-pemain potensial yang membanggakan nantinya,” harapnya.

 

Sukses sebagai Pemain dan Pelatih

PRIA kelahiran 29 November 1960 itu mulai meniti karir sebagai pelatih sejak gantung sepatu pada 1992. Sebelum menjadi pelatih kawakan, ia merupakan pemain yang berposisikan sebagai gelandang.

Sejumlah klub nasional pernah diperkuatnya. Mulai dari Persekap, Niac Mitra hingga Persebaya. Bahkan, ia juga tercatat sebagai pemain timnas di era 1979 hingga 1984. Tidak hanya di tim junior. Tetapi juga, tim senior.

Atmosfer laga dunia, pernah dirasakannya, ketika berseragam merah putih. Ia pernah meraih runner up piala presiden cup korea pada 1980an. Ia juga pernah mengikuti pra piala dunia (PPD) zona Asia Osania tahun 1981 meski akhirnya timnas tersingkir di babak penyisihan.

“Tidak semua orang bisa meraih pencapaian tersebut. Itu yang membuat saya terkenang hingga sekarang,” ungkap Subangkit saat ditemui di rumahnya.

Subangkit mengaku, terjun di dunia sepakbola sejak belia. Karirnya mulai menanjak ketika bermain di Persekap tahun 1978. Sejak itu, ia berhasil menarik minat pelatih timnas kala itu, untuk menjadi bagian dari skuad garuda junior.

Dari situ pula, latihan keras untuk menjadi pemain handal dilakoninya. Bahkan, ia berhasil menembus timnas senior sekitar 1980. Hingga 1984 kemudian ia memilih berlabuh ke Niac Putra.

Saat menjadi pemain tim Niac Putra, pengalaman pahit dirasakannya. Ia ditekel keras. Sampai tulang kecil pada bagian kaki kirinya patah.

Kurang lebih setahun lamanya proses penyembuhan berlangsung. Selama itu pula, ia nyaris putus asa, karena tidak bisa bermain sepakbola.

Sembuh dari luka, ia ditarik oleh Persebaya. Bahkan, ia sempat mengikuti kejuaraan perserikatan Galatama. Sampai akhirnya, ia dan rekan setimnya, berhasil meraih juara.

Persebaya memang menjadi pelabuhan terakhirnya dalam bermain sepakbola. Ia memutuskan gantung sepatu tahun 1992. Sejak itu pula, ia mulai mengikuti kursus kepelatihan.

Subangkit mengawali karir kepelatihannya dengan menukangi tim sepakbola Jatim kelompok umur. Ia kemudian dilirik tim Persebaya Jr dan berhasil membawa tim besutannya masuk final di sebuah kompetisi antar klub di Bogor.

Ia kemudian naik jabatan menjadi asisten pelatih Persebaya senior pada tahun 2000. Baru tahun 2003 kemudian, ia mengarsiteki Persekabpas. Ia menjadi pelatih kepala The Lassak-julukan Persekabpas selama empat tahun.

Pesonanya dalam meramu tim, bukan hanya terbukti di Persekabpas. Karena beberapa tim lain yang mampu diangkatnya. Salah satunya Persiku yang semula berada di Divisi 2 merangkak masuk divisi satu. Adapula Persema ataupun PSIS yang semula berada di level kedua liga indonesia, berhasil masuk liga utama.

Subangkit pun pernah didapuk menjadi pelatih kepala timnas Jr pada 2007 lalu. Bahkan, ia juga dipercaya untuk menjadi asisten pelatih timnas waktu itu.

Selain tim-tim tersebut, Subangkit juga pernah menjadi pelatih Persiwa, Mitra Kukar dan Sriwijaya. (one/mie)

Bulan ini Persekabpas merayakan tahun berdirinya yang ke 35. Dari sejumlah legenda yang dimiliki tim berjuluk Laskar Sakera itu, nama Subangkit tak boleh dilupakan. Berkat tangan dinginnya Persekabpas jadi tim yang disegani di tanah air.

———–

TAHUN 2006, Persekabpas mampu menggebrak belantika sepakbola tanah air. Siapa yang mengira, tim dengan warna kebesaran oranye ini mampu menembus babak semifinal kasta teratas Liga Indonesia.

Di fase penyisihan wilayah, The Lassak –julukan lain Persekabpas- yang berstatus kuda hitam mampu tampil mengejutkan dengan finish di empat besar. Persekabpas mampu finish di atas tim yang memiliki kekuatan tradisional, seperti Persib Bandung hingga PSMS Medan

Kejutan tak sampai disitu. Di babak 8 besar, tim kondang macam PSM Makassar, Persija dilibas. Serta imbang saat lawan Persmin Minahasa. The Lassak pun masuk semifinal sebagai juara grup II kala itu. Sayang, kejutan Persekabpas kala itu dihentikan di semifinal oleh PSIS.

Nah, sosok dibalik sukses musim impresif itu adalah Subangkit. Pelatih asli kelahiran Pasuruan. Ia mampu mengoptimalkan pemain lokal seperti Akhmad Junaidi, Kasan Soleh dan beberapa pemain lainnya dengan pemain asing seperti Zah Rahan, Murphy Kumonple hingga Fransisco Panco Rotunno dalam skema 3-5-2.

Sentuhan Subangkit sebagai pelatih di Persekabpas sendiri cukup mentereng. Sebab, pria yang hobi bermain bulu tangkis ini sejatinya mulai melatih Persekabpas pada 2003 lalu.

Di awal kedatangan Subangkit, Persekabpas hanya bermain di kasta ketiga. Otomatis, hanya diperkuat pemain-pemain lokal. “Tapi, melihat semangat pemain, pengurus dan fanatisme supporter, menjadi daya gedor saya untuk bisa membawa perubahan pada tim Persekabpas kala itu,” kenang Subangkit.

Hasilnya, benar-benar tokcer. Hanya setahun menggawangi The Lassak, ia mampu menorehkan kebanggaan. Tim oranye ini, berhasil naik kasta ke Divisi 2 pada 2004.

Semangatnya untuk terus mengangkat reputasi The Lassak terus berkobar. Meski masih diperkuat tim lokal, ia mampu membangun tim yang solid. Hasilnya, Subangkit berhasil membawa Laskar Sakera masuk Divisi Utama Liga Indonesia setahun berikutnya.

Saat itulah Sakera langsung tampil sebagai kuda hitam. “Kebetulan, manajemen dan pengurus waktu itu sangat mendukung,” kenangnya.

Kepiawaiannya itulah, yang membuatnya kemudian banyak dilirik tim-tim besar lain. Termasuk timnas. “Sekarang, saya dipercaya untuk melatih Gresik United. Tapi, masih menunggu kompetisi bergulir,” beber pemilik lisensi kepelatihan A AFC tersebut.

****

 

SEPAK bola merupakan bagian dari hidup Subangkit. Lelaki yang tinggal di Perum Batumas Pandaan ini, hampir menghabiskan masa hidupnya untuk sepak bola.

Dedikasinya di dunia bola tidak hanya menjadi pemain ataupun pelatih.  Bahkan, ia kini juga tengah mengembangkan Sekolah Sepak Bola. “Sudah lima tahunan terakhir saya mengembangkan SSB Subangkit Soccer School di Porong, Kabupaten Sidoarjo,” akunya.

Setidaknya ada seratusan peserta didik yang tercatat di SSB nya. Bahkan, ada pula yang sampai tembus nasional. Baginya, kehadiran SSB tersebut diharapkan bisa mencetak pemain-pemain berbakat.

Sehingga, nantinya bisa menjadi pemain andalan dan kebanggaan Indonesia. “Saya tidak ingin sepakbola ini hanya untuk saya. Saya ingin menularkan ketrampilan bermain bola, supaya tercetak pemain-pemain potensial yang membanggakan nantinya,” harapnya.

 

Sukses sebagai Pemain dan Pelatih

PRIA kelahiran 29 November 1960 itu mulai meniti karir sebagai pelatih sejak gantung sepatu pada 1992. Sebelum menjadi pelatih kawakan, ia merupakan pemain yang berposisikan sebagai gelandang.

Sejumlah klub nasional pernah diperkuatnya. Mulai dari Persekap, Niac Mitra hingga Persebaya. Bahkan, ia juga tercatat sebagai pemain timnas di era 1979 hingga 1984. Tidak hanya di tim junior. Tetapi juga, tim senior.

Atmosfer laga dunia, pernah dirasakannya, ketika berseragam merah putih. Ia pernah meraih runner up piala presiden cup korea pada 1980an. Ia juga pernah mengikuti pra piala dunia (PPD) zona Asia Osania tahun 1981 meski akhirnya timnas tersingkir di babak penyisihan.

“Tidak semua orang bisa meraih pencapaian tersebut. Itu yang membuat saya terkenang hingga sekarang,” ungkap Subangkit saat ditemui di rumahnya.

Subangkit mengaku, terjun di dunia sepakbola sejak belia. Karirnya mulai menanjak ketika bermain di Persekap tahun 1978. Sejak itu, ia berhasil menarik minat pelatih timnas kala itu, untuk menjadi bagian dari skuad garuda junior.

Dari situ pula, latihan keras untuk menjadi pemain handal dilakoninya. Bahkan, ia berhasil menembus timnas senior sekitar 1980. Hingga 1984 kemudian ia memilih berlabuh ke Niac Putra.

Saat menjadi pemain tim Niac Putra, pengalaman pahit dirasakannya. Ia ditekel keras. Sampai tulang kecil pada bagian kaki kirinya patah.

Kurang lebih setahun lamanya proses penyembuhan berlangsung. Selama itu pula, ia nyaris putus asa, karena tidak bisa bermain sepakbola.

Sembuh dari luka, ia ditarik oleh Persebaya. Bahkan, ia sempat mengikuti kejuaraan perserikatan Galatama. Sampai akhirnya, ia dan rekan setimnya, berhasil meraih juara.

Persebaya memang menjadi pelabuhan terakhirnya dalam bermain sepakbola. Ia memutuskan gantung sepatu tahun 1992. Sejak itu pula, ia mulai mengikuti kursus kepelatihan.

Subangkit mengawali karir kepelatihannya dengan menukangi tim sepakbola Jatim kelompok umur. Ia kemudian dilirik tim Persebaya Jr dan berhasil membawa tim besutannya masuk final di sebuah kompetisi antar klub di Bogor.

Ia kemudian naik jabatan menjadi asisten pelatih Persebaya senior pada tahun 2000. Baru tahun 2003 kemudian, ia mengarsiteki Persekabpas. Ia menjadi pelatih kepala The Lassak-julukan Persekabpas selama empat tahun.

Pesonanya dalam meramu tim, bukan hanya terbukti di Persekabpas. Karena beberapa tim lain yang mampu diangkatnya. Salah satunya Persiku yang semula berada di Divisi 2 merangkak masuk divisi satu. Adapula Persema ataupun PSIS yang semula berada di level kedua liga indonesia, berhasil masuk liga utama.

Subangkit pun pernah didapuk menjadi pelatih kepala timnas Jr pada 2007 lalu. Bahkan, ia juga dipercaya untuk menjadi asisten pelatih timnas waktu itu.

Selain tim-tim tersebut, Subangkit juga pernah menjadi pelatih Persiwa, Mitra Kukar dan Sriwijaya. (one/mie)

MOST READ

BERITA TERBARU