Tegas, Puluhan Ormas Sepakat Tolak RUU HIP, Bukan Menunda

DEKLARASI: KH Abdul Malik (menggunakan pelantang suara) mewakili pengurus KKNU 26 membacakan Deklarasi Maklumat penolakan RUU HIP , Minggu (5/7). Deklarasi tersebut dihadiri sedikitnya 1300 orang pada 26 Ormas. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

PAITON, Radar Bromo – Penolakan Rancangan Udang-Undang Haluan Ideologi Pancasila dilakukan Puluhan Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) di Kabupaten Probolinggo. Penolakan tersebut dilakukan dengan cara menggelar deklarasi Maklumat di depan kantor Pusat Aliansi Ulama Ahlussunnah Waljamaah Tapal Kuda (Autada) di Desa Kalikajar Kulon, Kecamatan Paiton, Minggu (5/7).

Deklarasi yang dilakukan terhimpun pada Komite Khittah Nah Datul Ulama 1926 (KKNU 29). Sedikikitnya ada lima poin yang di bacakan pada Deklarasi Maklumat Penolakan tersebut.

Pertama, KKNU 26 meminta Kepada Presiden dan DP RI membatalkan RUU HIP dari Prolegnas yang merubah pancasila menjadi Trisila atau eka sila. sebab hal tersbut dapat merusak ideologi bangsa. Sebagai yang dilakukan oleh DPP MUI, PBNU, PP Muhammadiyah dan Ormas Lain.

Kedua, meminta kepada aparat penegak hokum agar mengusut tuntas dan menindak sesuai hukum yang berlaku kepada pihak-pihak yang mengusulkan RUU HIP. Sebab, tidak mencantumkan Tap MPRS No XXV/MPRS/1966 tentang Pelarangan Ajaran Komonisme dan Marxisme.

Ketiga, mengingat Pancasila yang dijunjung tinggi oleh seluruh rakyat Indonesia adalah sebagai terwujudnya kesatuan dan persatuan bangsa. Yang keempat, menolak keras kebijakan pemerintah dibidang prekonomian yang mengarah pada sistem kapitalis dan sosialis.

RIBUAN ORANG: Deklarasi tersebut dihadiri sedikitnya 1300 orang pada 26 Ormas. (Foto: Agus Faiz Musleh/Jawa Pos Radar Bromo)

Poin terakhir pada Deklarasi penolakan itu berisi tentang pendidikan. Dimana dalam rangka membangun kualitas Sumberdaya Manuasia (SDM) Indonesia, KKNU 26 meminta agar penggabungan mata pelajaran agama dengan mata pelajaran lainnya harus dibatalkan.

Ketua Panitia penyelenggara Deklarasi yang terhimpun KKNU 29 Mawardi Abdul Wahid mengatakan, MUI adalah Ormas yang paling besar di Indonesia dan telah mengeluarkan maklumat yang intinya adalah menolak RUU HIP, Sehingga pihaknya mendukung penuh maklumat tersebut.

“Kami mendukung penuh Maklumat terbsut. Sedikitnya ada dua puluh Ormas yang hadir, dari 30 ormas yang diundang. Dengan sekitar 1.300 orang berkumpul untuk menolak RUU HIP,” ujar Mawardi yang juga sebagai sekretaris Autada tersbut.

Menurutnya pancasila sudah menjadi final, dimana Pancsila sudah menjadi asas tunggal yang diakui oleh seluruh rakyat Indonesia melalui perwakilan-perwakilannya. Namun kemudian muncul persoalan baru, dimana Pancasila akan diringkas lagi. Hal terbutlah yang menjadi kekhawatiran pihaknya.

“Apapun hasil akhirnya, Apabila keluar dari pancasila jelas merubah asas tunggal Republik Indonesi. Sehingga apa yang menjadi keinginan kami, DPRI dan pemerintah dalam hal ini tidak mau menghentingkan atau membatalakan, maka kami akan menyatakan jihad. Jadi seruan kami nanti Ishkariman aumut Syahidan (Hidup mulia atau mati syahid, red),” ujarnya.

“Kami sepakat, RUU HIP itu bukan dipending, tapi ditolak. Semua poin kami tolak, sebab dari point point sudah jelas sekali untuk merubah pancasila. Termasuk pada Tap MPRS yang tidak dicantumkan, dimana akan memberi ruang gerak bagi komonisme. Hampir di semua kabupaten/Kota pihak kami sudah berkoordinasi untuk penolakan tersebut,” imbuh Ketua Majelis Pembina Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kabupaten Probolinggo. (mg1/fun)