Ini Kata Pemerhati Politik soal Pilwali Pasuruan yang Banyak Tampilkan Figur Nonparpol

PURWOREJO, Radar Bromo – Deretan wajah baru diprediksi bakal meramaikan kontestasi politik pada Pilwali 2020 di Kota Pasuruan. Namun, cukup banyak wajah-wajah baru yang justru muncul bukan dari kalangan partai politik (parpol) atau nonparpol.

Pemerhati politik Fuad Fatoni menilai, kemunculan wajah-wajah baru yang bukan dari parpol itu justru kurang baik bagi parpol sendiri. Menurut dia, di setiap pemilihan kepala daerah, parpol memegang peranan besar dalam membangun semangat berpolitik. Hal itu bisa dilakukan dengan mendorong kader-kader parpol yang dianggap terbaik untuk ditawarkan kepada masyarakat.

“Jadi harus dimulai dari parpol dengan memunculkan kader terbaik atau pimpinan parpol sendiri. Terutama parpol besar sekarang ini terkesan tidak berani tampil. Harusnya bisa fight dalam momen pilkada,” ulasnya ketika diwawancarai Radar Bromo, Minggu (5/7).

Meskipun ia memahami, ada sebagian parpol yang memang mencari figur-figur dari eksternal untuk didorong sebagai kandidat. Hal itu juga bisa saja terjadi, sejauh ada keputusan parpol.

Selain itu pula, adanya kontrak politik. Dia menilai, kontrak politik sekalipun tidak menjamin hubungan parpol dengan kandidat pemenang dari nonparpol bisa langgeng.

“Bahkan, bisa saja berpotensi menimbulkan konflik apabila kontrak politik itu tidak berjalan linier,” terang pria yang juga mantan Ketua KPU Kota Pasuruan tersebut.

Minimnya tokoh parpol dalam konstelasi Pilwali Kota Pasuruan saat ini, kata Fuad, juga tak serta-merta bisa dimaknai sebagai indikasi kegagalan parpol dalam kaderisasi. Sebab tak sedikit parpol yang sukses mengantarkan kadernya ke gedung parlemen dalam pemilu sebelumnya.

“Tolok ukur dalam pemilihan, yang jadi persoalan itu nominal yang harus disiapkan. Kebutuhan pilkada cost-nya besar, untuk operasional, saksi dan sebagainya. Mungkin ini yang menjadikan kader parpol tidak percaya diri,” bebernya.

Banyaknya tokoh-tokoh politik di Kota Pasuruan, kata Fuad, seharusnya bisa memanfaatkan momen Pilwali sebagai ajang pertarungan politik yang elegan dan bermartabat. Akan tetapi, parpol sendiri saat ini terkesan lebih memunculkan figur-figur yang seharusnya berada di posisi lapis kedua atau wakil.

Ia yakin jika parpol lebih berani mengusung kadernya sendiri, maka akan tercipta semangat berpolitik yang lebih menarik. Apalagi, masyarakat sudah lebih akrab dengan tokoh-tokoh dari parpol. Hal itu juga bisa mendorong masyarakat untuk aktif dalam partisipasi.

“Kalau dari luar parpol, masyarakat masih harus meraba-raba. Toh proses kampanye belum tentu juga bisa maksimal dengan adanya pandemi sekarang,” ungkapnya.

Yang tidak kalah penting juga, lanjut Fuad, parpol tak boleh lupa dengan tugasnya memberikan pendidikan politik. “Karena itu, masyarakat perlu disuguhi sesuatu yang berproses, bukan instan,” kata alumni Universitas Indonesia tersebut. (tom/fun)