alexametrics
29.4 C
Probolinggo
Monday, 15 August 2022

Awal Tahun, PA Kraksaan Sudah Putus 110 Perkara Perceraian

KRAKSAAN, Radar Bromo – Awal tahun ini angka perceraian di Kabupaten Probolinggo masih cukup tinggi. Terhitung sejak Januari hingga memasuki Februari, angka perceraian yang ditangani oleh Pengadilan Agama (PA) Kraksaan mencapai 110 perkara. Angka 110 kasus perceraian itu sudah diputus dan kasusnya didominasi oleh cerai gugat dari pihak istri.

Panitera PA Kraksaan Mashyudi mengatakan, faktor utama cerai gugat dikarenakan faktor perselisihan keluarga. Umumnya, perselisihan tidak bisa diselesaikan dan terus melebar, sehingga memutuskan berpisah dengan suaminya.

“Untuk kasus penceraian di awal tahun pada bulan Januari ialah cerai gugat dari pihak wanita. Rata-rata, faktor penyebab yang paling banyak yaitu perselisihan,” kata Masyhudi.

Adapun kasus perceraian yang terbanyak kedua, lanjut Masyhudi, ialah cerai talak. Tercatat ada sekitar 75 perkara. Sedangkan faktornya, menurut Masyhudi, lantaran perekonomian keluarga yang tidak stabil.

“Namun, harapan kami untuk kasus cerai talak ini, jika masih dapat diperbaiki, maka kami melakukan yang terbaik untuk kedua belah pihak. Supaya mencabut kasusnya. Sehingga, angka cerai menurun,” tuturnya.

Guna menekan angka perceraian, ia mengaku tetap memaksimalkan mediasi untuk pasangan suami-istri (Pasutri). Mereka yang mengajukan perceraian difasilitasi dan dimediasi. Dengan demikian, berkas perkara perceraian yang diajukan bisa dicabut oleh yang bersangkutan.

“Tetap, mediasi akan kami upayakan semaksimal mungkin. Contoh saja kalau memang diperlukan surat pernyataan, ya kami fasilitasi. Kalaupun itu memang diperlukan, nanti akan kami buatkan,” tandasnya. (sid/fun)

KRAKSAAN, Radar Bromo – Awal tahun ini angka perceraian di Kabupaten Probolinggo masih cukup tinggi. Terhitung sejak Januari hingga memasuki Februari, angka perceraian yang ditangani oleh Pengadilan Agama (PA) Kraksaan mencapai 110 perkara. Angka 110 kasus perceraian itu sudah diputus dan kasusnya didominasi oleh cerai gugat dari pihak istri.

Panitera PA Kraksaan Mashyudi mengatakan, faktor utama cerai gugat dikarenakan faktor perselisihan keluarga. Umumnya, perselisihan tidak bisa diselesaikan dan terus melebar, sehingga memutuskan berpisah dengan suaminya.

“Untuk kasus penceraian di awal tahun pada bulan Januari ialah cerai gugat dari pihak wanita. Rata-rata, faktor penyebab yang paling banyak yaitu perselisihan,” kata Masyhudi.

Adapun kasus perceraian yang terbanyak kedua, lanjut Masyhudi, ialah cerai talak. Tercatat ada sekitar 75 perkara. Sedangkan faktornya, menurut Masyhudi, lantaran perekonomian keluarga yang tidak stabil.

“Namun, harapan kami untuk kasus cerai talak ini, jika masih dapat diperbaiki, maka kami melakukan yang terbaik untuk kedua belah pihak. Supaya mencabut kasusnya. Sehingga, angka cerai menurun,” tuturnya.

Guna menekan angka perceraian, ia mengaku tetap memaksimalkan mediasi untuk pasangan suami-istri (Pasutri). Mereka yang mengajukan perceraian difasilitasi dan dimediasi. Dengan demikian, berkas perkara perceraian yang diajukan bisa dicabut oleh yang bersangkutan.

“Tetap, mediasi akan kami upayakan semaksimal mungkin. Contoh saja kalau memang diperlukan surat pernyataan, ya kami fasilitasi. Kalaupun itu memang diperlukan, nanti akan kami buatkan,” tandasnya. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/