Lapuk, Plafon Ruang Kelas SDN Gunggungan Lor Ambrol

PAKUNIRAN, Radar Bromo – Diduga sudah lapuk, sebuah plafon ruang kelas di SDN Gunggungan Lor Nomor 23 ambrol. Diduga, plafon ambruk karena tidak pernah direnovasi selama ini. Plafon pun lapuk dan ambrol.

Beruntung, tidak ada korban dalam peristiwa itu. Sebab, peristiwa itu terjadi pada Sabtu (4/1) sekitar pukul 12.00. Saat itu semua siswa sudah pulang.

Selain itu, ruangan kelas tersebut tidak lagi digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Menurut pantauan Jawa Pos Radar Bromo, kondisi ruang kelas itu memprihatinkan. Beberapa sisi kelas terdapat tembok yang retak. Sementara itu, plafonnya sudah keropos.

Kepala SDN Gunggungan Lor Nomor 23 Adri menjelaskan, hari Sabtu, dirinya sedang rapat di luar sekolah. Usai rapat, dia kembali ke sekolah sekitar pukul 12.00.

Saat itulah, tiba-tiba terdengar gemuruh keras yang berasal dari ruang kelas paling timur di bangunan sebelah selatan. Adri pun langsung mengecek asal suara. Ternyata diketahui, plafon sebuah ruang kelas ambrol.

“Saya tahunya ada plafon ambrol sehabis rapat. Waktu itu, ada suara gemuruh keras yang berasal dari ruangan tersebut,” terang Adri.

Sekolah itu sendiri memiliki dua bangunan atau lokal. Yaitu, bangunan selatan yang terdiri atas tiga ruangan dan bangunan utara yang terdiri atas empat ruang.

Bangunan selatan dipakai untuk kelas 4, kelas 6, dan ruang kantor. Ruang kelas empat di sebelah timur, ruang kelas 6 di tengah dan ruang kantor di sebelah barat.

Namun, kemudian kegiatan belajar mengajar kelas 4 dan 6 dipindah ke bangunan utara. Sebab, kondisi dua ruangan kelas itu sudah tidak layak. Nah, plafon yang ambrol itu adalah plafon di ruang kelas 4. Kondisinya memang paling tidak layak, dibandingkan dua ruangan di sebelahnya.

“Kondisi bangunan sisi selatan sudah sangat memprihatinkan, terutama ruang kelas sebelah timur dan tengah. Ada retakan di tembok dan plafon sudah keropos. Jadi, sejak beberapa bulan lalu kelas 4 dan 6 dipindah,” tuturnya.

Saat ini SDN Gunggungan Lor Nomor 23 hanya memiliki 23 siswa. Dengan rincian kelas 1 sebanyak dua siswa, kelas 2 ada tiga siswa, kelas 3 terdiri atas tiga siswa. Lalu, kelas 4 sebanyak empat siswa, kelas 5 terdiri atas enam siswa, dan kelas 6 punya lima siswa.

Karena jumlah siswa yang sedikit, dilakukan penggabungan kelas. Kelas 1 digabung dengan kelas 2, kelas 3 digabung dengan kelas 4. Sedangkan kelas 5 dan 6, menempati ruang kelas sendiri.

Adri mengaku, mulai menjadi kepala SDN Gunggungan Lor sejak November 2019. “Saat itu kondisi bangunan selatan sudah sangat memprihatikan. Kami mendapatkan informasi akan ada renovasi dari Dinas PUPR Jawa Timur di awal tahun. Sudah dilakukan survei, tinggal pelaksanaannya saja,” ujarnya. (ar/hn)