alexametrics
28.6 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Warga Pakuniran Blokade Jalan Menuju Tambang, Protes Alat Berat

PAKUNIRAN, Radar Bromo – Aksi penolakan alat berat di lokasi tambang yang ada di Desa/Kecamatan Pakuniran, kembali terjadi. Jumat (4/10), warga dua desa di Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo memblokade jalan masuk menuju tambang galian C di desa setempat.

Penutupan tersebut, dilakukan lantaran adanya dua alat berat yang masuk tambang. Warga protes lantaran dua alat berat itu diresahkan. Alasannya, alat berat itu berpotensi merusak lingkungan maupun infrastruktur sekitar.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, penutupan tersebut terjadi sekitar pukul 08.30. Puluhan warga memasang portal yang terbuat dari kayu di jalan menuju lokasi tambang. Mereka tidak menginginkan adanya kegiatan tambang.

Namun, aksi tersebut tak berlangsung lama. Itu setelah pihak kepolisian setempat dan juga TNI datang ke lokasi. Aparat lalu membuka portal dan membuat puluhan massa yang melakukan aksi tersebut bubar.

Kepala Desa Patemon Muhammad mengatakan, aksi tersebut terjadi karena adanya alat berat yang masuk ke dalam tambang. Itu, terjadi beberapa hari terakhir. Karena itu, warga mengaku resah.

TURUN TANGAN: Polisi berjaga di sekitar lokasi dan ikut menenangkan warga. (Foto: M Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Keresahan warga itu karena alat berat. Sebab, jika tambang itu dikeruk melalui alat berat, maka akan berdampak pada lingkungan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Dampak lingkungan yang dimaksud yakni sumur warga banyak yang kering. Selain itu, karena tambang yang berdekatan dengan rumah, maka ketika musim hujan warga takut rumahnya terkikis.

“Sumur-sumur warga banyak yang kering. Selain itu yang paling dikhawatirkan ketika penghujan nanti, efeknya rumah warga banyak yang terkikis air,” katanya.

Ia mengakatan, selain itu warga juga mengeluhkan bahwa para pekerja tambang manual hasilnya menurun, dampak dari alat berat itu. Sementara itu, Kapolsek Pakuniran Iptu Habi Sutoko mengatakan, pihaknya akan mencarikan jalan keluar. Pihaknya akan memediasi antara warga. Sehingga, nantinya tidak ada yang dirugikan.

“Kami terus berupaya hingga menemukan jalan keluarnya terkait permintaan warga ini. kami akan lakukan mediasi lagi bersama warga di dua Desa di Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, agar sama-sama tidak ada yang dirugikan, baik penambang yang menggunakan alat berat atau penambang manual,” katanya.

Pihak pengelola tambang saat hendak dikonfirmasi melalui sambungan telepon tidak merespons. Padahal, nomornya aktif.

Perlu diketahui aksi ini merupakan kali kedua. Sebelumnya, warga juga melakukan penutupan terhadap akses ke tambang itu. Itu, terjadi pada Sabtu (28/9) lalu. (sid/fun)

PAKUNIRAN, Radar Bromo – Aksi penolakan alat berat di lokasi tambang yang ada di Desa/Kecamatan Pakuniran, kembali terjadi. Jumat (4/10), warga dua desa di Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo memblokade jalan masuk menuju tambang galian C di desa setempat.

Penutupan tersebut, dilakukan lantaran adanya dua alat berat yang masuk tambang. Warga protes lantaran dua alat berat itu diresahkan. Alasannya, alat berat itu berpotensi merusak lingkungan maupun infrastruktur sekitar.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo, penutupan tersebut terjadi sekitar pukul 08.30. Puluhan warga memasang portal yang terbuat dari kayu di jalan menuju lokasi tambang. Mereka tidak menginginkan adanya kegiatan tambang.

Namun, aksi tersebut tak berlangsung lama. Itu setelah pihak kepolisian setempat dan juga TNI datang ke lokasi. Aparat lalu membuka portal dan membuat puluhan massa yang melakukan aksi tersebut bubar.

Kepala Desa Patemon Muhammad mengatakan, aksi tersebut terjadi karena adanya alat berat yang masuk ke dalam tambang. Itu, terjadi beberapa hari terakhir. Karena itu, warga mengaku resah.

TURUN TANGAN: Polisi berjaga di sekitar lokasi dan ikut menenangkan warga. (Foto: M Rosyidi/Jawa Pos Radar Bromo)

“Keresahan warga itu karena alat berat. Sebab, jika tambang itu dikeruk melalui alat berat, maka akan berdampak pada lingkungan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Dampak lingkungan yang dimaksud yakni sumur warga banyak yang kering. Selain itu, karena tambang yang berdekatan dengan rumah, maka ketika musim hujan warga takut rumahnya terkikis.

“Sumur-sumur warga banyak yang kering. Selain itu yang paling dikhawatirkan ketika penghujan nanti, efeknya rumah warga banyak yang terkikis air,” katanya.

Ia mengakatan, selain itu warga juga mengeluhkan bahwa para pekerja tambang manual hasilnya menurun, dampak dari alat berat itu. Sementara itu, Kapolsek Pakuniran Iptu Habi Sutoko mengatakan, pihaknya akan mencarikan jalan keluar. Pihaknya akan memediasi antara warga. Sehingga, nantinya tidak ada yang dirugikan.

“Kami terus berupaya hingga menemukan jalan keluarnya terkait permintaan warga ini. kami akan lakukan mediasi lagi bersama warga di dua Desa di Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, agar sama-sama tidak ada yang dirugikan, baik penambang yang menggunakan alat berat atau penambang manual,” katanya.

Pihak pengelola tambang saat hendak dikonfirmasi melalui sambungan telepon tidak merespons. Padahal, nomornya aktif.

Perlu diketahui aksi ini merupakan kali kedua. Sebelumnya, warga juga melakukan penutupan terhadap akses ke tambang itu. Itu, terjadi pada Sabtu (28/9) lalu. (sid/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/