alexametrics
28.9 C
Probolinggo
Friday, 27 May 2022

Bencana Naik Lipat Tiga, Didominasi Kasus Kebakaran

PURWOREJO, Radar Bromo – Sejauh ini, Kota Pasuruan belum aman dari bencana. Bahkan, tahun ini cukup tinggi. Sampai kini sudah terjadi 44 kali bencana. Jumlah itu naik lipat tiga dibanding tahun kemarin.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pasuruan Catur Aldoko mengatakan, sepanjang tahun ini pihaknya menerima laporan 44 kali bencana. Rinciannya, 27 kebakaran, 8 bencana banjir, 3 bencana angin kencang, dan 6 bencana pohon tumbang.

“Sampai awal September, kami menerima 44 kali laporan kebencanaan. Jumlah ini naik lipat tiga dibandingkan tahun 2018 yang hanya 15 kali bencana,” ujarnya.

Catur mengatakan, tingginya angka bencana ini tidak terlepas dari adanya fenomena hidrometereologi yang melanda wilayah Pasuruan. Fenomena ini menyebabkan hujan badai disertai petir kerap terjadi. Akibatnya, angin kencang pun rawan terjadi dan mengakibatkan pohon tumbang.

Selain itu, wilayah Pasuruan juga mengalami musim kemarau yang lebih kering dibanding tahun kemarin. Di mana, selama puncak musim kemarau Agustus-September, sama sekali tidak hujan. Sehingga, makin rawan terjadi bencana kebakaran.

Karenanya, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Sebab, cuaca bisa berubah drastis secara mendadak. Untuk itu, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran pada lingkungannya sehingga bencana bisa diminimalisasi.

“Kondisi ini disebabkan fenomena alam. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Adanya fenomena hidrologi. Ini, membuat bencana yang terjadi di Pasuruan menjadi lebih lama,” ujar Catur. (riz/fun)

PURWOREJO, Radar Bromo – Sejauh ini, Kota Pasuruan belum aman dari bencana. Bahkan, tahun ini cukup tinggi. Sampai kini sudah terjadi 44 kali bencana. Jumlah itu naik lipat tiga dibanding tahun kemarin.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pasuruan Catur Aldoko mengatakan, sepanjang tahun ini pihaknya menerima laporan 44 kali bencana. Rinciannya, 27 kebakaran, 8 bencana banjir, 3 bencana angin kencang, dan 6 bencana pohon tumbang.

“Sampai awal September, kami menerima 44 kali laporan kebencanaan. Jumlah ini naik lipat tiga dibandingkan tahun 2018 yang hanya 15 kali bencana,” ujarnya.

Catur mengatakan, tingginya angka bencana ini tidak terlepas dari adanya fenomena hidrometereologi yang melanda wilayah Pasuruan. Fenomena ini menyebabkan hujan badai disertai petir kerap terjadi. Akibatnya, angin kencang pun rawan terjadi dan mengakibatkan pohon tumbang.

Selain itu, wilayah Pasuruan juga mengalami musim kemarau yang lebih kering dibanding tahun kemarin. Di mana, selama puncak musim kemarau Agustus-September, sama sekali tidak hujan. Sehingga, makin rawan terjadi bencana kebakaran.

Karenanya, pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Sebab, cuaca bisa berubah drastis secara mendadak. Untuk itu, masyarakat perlu meningkatkan kesadaran pada lingkungannya sehingga bencana bisa diminimalisasi.

“Kondisi ini disebabkan fenomena alam. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu. Adanya fenomena hidrologi. Ini, membuat bencana yang terjadi di Pasuruan menjadi lebih lama,” ujar Catur. (riz/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/