Pupuk Bersubsidi di Kab Probolinggo Dijatah 83.039 Ton, Terserap 41.613 Ton

PANEN: Petani kentang di Tiris, Kabupaten Probolinggo, beberapa waktu lalu. Sejauh ini penggunaan pupuk bersubsidi di Kabupaten Probolinggo telah mencapai 41.613 ton. (Dok. Jawa Pos Radar Bromo)

Related Post

DRINGU, Radar Bromo – Tahun ini Kabupaten Probolinggo mendapatkan jatah pupuk bersubsidi 83.039 ton. Sampai akhir Juni kemarin, sudah terserap sekitar 40 persen atau sekitar 41.613 ton. Yang paling banyak terserap pupuk urea, sebanyak 21.908 ton.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Pertanian Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprayitno mengatakan, Kabupaten Probolinggo mendapatkan jatah pupuk bersubsidi 83.039 ton. Terdiri atas urea 43.442 ton, ZA 19.973 ton, SP-36 sebanyak 4.065, NPK 11.497 ton, dan pupuk organik 4.065 ton.

“Serapan pupuk bersubsidi hingga akhir Juni 2019 atau semester pertama 2019 mencapai 41.613,53 ton. Terdiri atas urea 21.908 ton, ZA 10.129,05 ton, SP-36 sebanyak 2.504,60 ton, NPK 5.893,40 ton, dan pupuk organik 1.178 ton,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bromo, Minggu (4/8).

Bambang mengaku, terus berupaya menumbuhkan kesadaran petani tentang dampak penggunaan pupuk kimia terhadap lingkungan. Harapannya, ke depan mereka beralih menggunakan pupuk organik. “Pupuk organik memiliki kualitas yang juga bagus. Lebih-lebih manfaat bahan organik untuk menyegarkan atau memulihkan kondisi lahan, sehingga daya dukung lahan tetap terjaga,” ujarnya.

Setelah mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi, Bambang mengaku juga mengalokasikannya ke semua kecamatan di Kabupaten Probolinggo. “Yang menjadi pertimbangan alokasi pupuk bersubsidi ini antara lain data serapan realisasi pupuk bersubsidi mulai Januari 2019, kesesuaian data antara tim verifikasi kecamatan dengan distributor masing-masing produsen, RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok), serta jenis komoditas dan luas lahan. Sehingga, alokasi setiap kecamatan tidak sama,” ujarnya.

Pemupukan yang berlebihan dan tidak berimbang, menurut Bambang dapat menyebabkan terjadinya kekurangan pupuk bersubsidi. Apalagi, banyak petani yang masih fanatik kepada salah satu jenis pupuk dan tidak mau menggunakan jenis pupuk lain.

“Kami berharap para petani di Kabupaten Probolinggo bisa melakukan pemupukan berimbang mulai pupuk dasar dan tidak menimbun pupuk bersubsidi. Manfaatkan pupuk bersubsidi sebijak mungkin. Karena bagaimana pun kuantitasnya terbatas,” ujarnya. (mas/fun)