Temukan Bata Kuno di Kraton, Penggalian Irigasi Distop

KRATON, Radar Bromo – Penggalian irigasi di Desa Dhompo, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan, terpaksa dihentikan sementara. Sebab, warga yang tengah menggalinya menemukan bata kuno. Ukurannya, jauh lebih besar dibanding bata yang diproduksi saat ini.

Bata kuno itu ditemukan sekitar dua pekan yang lalu. Ketika beberapa warga kerja bakti menggali irigasi. Sebelumnya, warga mengabaikannya karena mengira benda biasa. Namun, temuan itu menyebar dari mulut ke mulut.

Kepala Desa Dhompo Moh. Salim yang menduga bata itu memiliki nilai sejarah meminta penggalian dihentikan sementara. Saat itu sudah ada enam bata yang ditemukan. Sebagian masih utuh, namun ada yang terbelah.

Dari bentuknya, permukaan bata itu bermotif setengah lingkaran. Ukurannya, sekitar 35 x 25 sentimeter dengan ketebalan 6 sentimeter. Selama ini warga sekitar memang sering menemukan bata semacam itu. Bahkan, ada juga yang pernah mendapati benda antik berupa guci.

“Sejak kami yakin ada bangunan kuno, saya hentikan sementara pembangunan. Kalau memang itu cagar budaya, kami semua akan merawatnya supaya bisa dilihat anak cucu sebagai kebanggaan akan warisan leluhur,” ujarnya.

Sejauh ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan tengah menunggu laporan resmi terkait temuan kuno itu. “Secara lisan ada laporan dari desa, kami sudah tinjau ke lokasi juga,” ujar Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan Ika Ratnawati.

Bata itu diduga kuat cagar budaya. Serta, diperkirakan merupakan susunan dinding pembatas yang di bagian bawahnya terdapat bangunan yang lebih besar. Namun, Ika tak bisa memastikan. Alasannya, harus melalui kajian dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Terpisah, Arkeolog BPCB Jawa Timur Wicaksono Dwi Nugroho juga menduga bata kuno itu merupakan peninggalan era terdahulu. “Temuan bata itu menunjukkan indikasi peninggalan cagar budaya di lokasi penemuan. Bisa saja semula merupakan bangunan candi atau permukiman di masa lalu,” ujarnya.

Pihaknya berharap warga dan pemerintah desa melaporkan temuan itu ke Pemkab Pasuruan. Sehingga, bisa diteliti lebih mendalam mengenai asal usulnya. “Perlu dicek ke lokasi temuan untuk memastikan apakah di lokasi itu terdapat tinggalan cagar budaya atau tidak,” ujarnya. (tom/rud)