Ada Kadernya Tersandung Narkoba, Ini Tanggapan PKB

DULU WAKIL RAKYAT: Makhfud Sidik yang di periode 2009-2014 pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Pasuruan. Rabu (3/6) dini hari, dia dikabarkan dibekuk Satreskoba Polres Pasuruan karena keterlibatan kepemilikan sabu-sabu. (Foto : Istimewa)

Related Post

BANGIL, Radar Bromo– Makhfud Sidik, 48, mantan anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, dicokok polisi. Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) asal Andonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan itu diringkus, lantaran kedapatan memiliki narkoba jenis sabu-sabu.

Informasi yang diperoleh radarbromo.jawapos.com, Mahfud ditangkap anggota Satresnarkoba Rabu dini hari (3/6). Penangkapan itu, bermula dari tertangkapnya pengedar SS, Zainul. Petugas berhasil menangkap Zainul di wilayah Tutur, sekitar pukul 01.00. Sebanyak 4 gram BB sabu-sabu berhasil diamankan.

Dari penangkapan Zainul, polisi berhasil mengantongi nama Makhfud Sidik yang menjadi pembeli barangnya. Petugas kemudian bergerak mendatangi rumah Mahfud Sidik untuk melakukan penggrebekan.

Upaya penangkapan terhadap pemilik lahan pertanian apel seluas kurang lebih 30 hektare itu, tidak mudah. Saat digrebek di rumahnya sekitar pukul 01.30, Makhfud berusaha untuk menghilangkan barang bukti.

Ia pergi ke kamar mandi. Selanjutnya, berusaha untuk membuang BB sabu-sabu seberat 0,2 gram yang dimilikinya. Ia juga berusaha memberikan perlawanan. Namun, upaya itu, sia-sia. Petugas berhasil menemukan BB sabu-sabu, sebelum sempat terbawa air di toilet. Atas temuan itupula, Makhfud Sidik kemudian digiring ke Mapolres Pasuruan untuk menjalani pemeriksaan.

 

Lalu bagaimana tanggapan PKB ?

 

Sekretaris DPC PKB Kabupaten Pasuruan, Sudiono Fauzan mengaku sudah mendengar kabar adanya penangkapan tersebut. Makhfud Sidik memang merupakan mantan anggota DPRD Kabupaten Pasuruan. Saat disinggung keanggotaan di PKB, ia juga mengakui, kalau Makhfud Sidik merupakan anggota PKB. Ia juga sempat menduduki kursi ketua PAC PKB Tutur.

Hal ini jelas disayangkan. Hanya saja, pihaknya belum memastikan langkah-langkah yang akan dilakukan. Apakah akan memberikan pendampingan hukum untuk yang bersangkutan.

“Kami masih akan mengkomunikasikan dengan internal, untuk memastikan langkah. Apakah perlu pendampingan. Memang, yang bersangkutan adalah mantan anggota dewan,” sambungnya.

Makhfud pernah menduduki kursi legislatif periode 2009 hingga 2014. Ia kembali maju pada pileg 2019, namun akhirnya gagal. Ia juga sempat mencalonkan diri sebagai kepala desa pada 2019. Sayangnya, lagi-lagi ia harus menahan rasa kecewa, karena gagal terpilih. (one/fun)