38 Buruh Di-PHK, 872 Dirumahkan, 2.185 Diputus Kontrak di Kota Probolinggo

KANIGARAN, Radar Bromo-Selama pandemi Covid-19, ribuan pekerja di Kota Probolinggo harus “kehilangan” pekerjaannya. Sampai 4 Juni 2020, tercatat ada 3.095 pekerja. Namun, nasib hubungan mereka dengan perusahaan tempat bekerja tidak sama.

Dari ribuan orang itu, ada yang dirumahkan, putus kontrak, ada juga yang di-PHK (pemutusan hubungan kerja). Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Tenaga Kerja (DPMPTSPTK) Kota Probolinggo, ada 16 perusahaan yang telah melaporkan pengurangan tenaga kerja. Rincian 38 orang di-PHK, 872 orang dirumahkan, dan 2.185 orang diputus kontrak.

Makin banyaknya pengurangan tenaga kerja ini mendapatkan perhatian Komisi III DPRD Kota Probolinggo. Kemarin, sejumlah anggota Komisi III mendatangi kantor DPMPTSPTK. Mereka menindaklanjuti hasil rapat dengar pendapa (RPD) terkait tenaga kerja beberapa waktu lalu. Serta, melengkapi data terbaru pekerja yang terdampak wabah Covid-19.

“Terkhir dalam RDP memang ada putus kontrak yang dilakukan PT Eratex kepada 2.000 lebih pekerjanya. Selain itu, juga ada rencana merekrut kembali karyawan yang putus kontrak per 1 Juli dan 13 Juli. Tentu ini harus diperhatikan oleh Dinas Tenaga Kerja, apakah betul-betul dilakukan pemanggilan pekerja yang kontraknya tidak diperpanjang,” ujar Ketua Komisi III DPRD Agus Rianto.

Kepala DPMPTSPTK Kota Probolinggo Dwi Hermanto mengaku sebelum ada laporan perusahaan melakukan PHK, merumahkan karyawan, atau putus kontrak telah diminta mendata warga Kota Probolinggo yang bekerja di perusahaan. “Hasilnya, total ada sekitar 7.000-an warga Kota Probolinggo yang bekerja di pabrik dan perusahaan. Artinya, ini adalah potensi warga yang terdampak wabah korona,” jelasnya.

Sedangkan data terbaru sampai 4 Juni 2020, ada 3.095 karyawan yang terdampak. Atau, hampir separo dari jumlah warga Kota Probolinggo yang bekerja di perusahaan yang terdampak.

“Data ini telah kami sampaikan kepada Dinas Sosial untuk mendapatkan bansos (bantuan sosial). Dalam hal ini, kami hanya bertugas mendata, sedangkan alokasi bansos serta penyalurannya tetap melalui Dinas Sosial. Kami berharap angka 3.095 ini tidak bertambah lagi,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, gara-gara pandemi Covid-19, banyak perusahaan di Kota Probolinggo yang merampingkan jumlah karyawannya. Salah satunya, PT Eratex Djaja. Per 20 Mei 2020, ada 2.145 karyawan yang putus kontrak. Dari ribuan karyawan ini, rencananya ada yang akan dikontrak kembali pada 1 Juli dan 13 Juli 2020.

Rinciannya, 410 orang akan dikontrak kembali per 1 Juli 2020 dan 711 orang dikontrak kembali per 13 Juli 2020. Serta, 93 orang mengundurkan diri dan 931 orang tidak diperpanjang sampai menunggu situasi order normal. Selain membayarkan hak-haknya, PT Eratex juga memberikan bantuan sosial berupa sembako. (put/rud)