alexametrics
28 C
Probolinggo
Monday, 17 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Malam Lailatul Qadar

Mobile_AP_Top Banner
Desktop_AP_Leaderboard 1

MOMENTUM Ramadan merupakan bulan yang dinantikan hampir setiap umat muslim di penjuru dunia. Setiap kaum muslimin seakan tak ingin kehilangan momen Ramadan ini, terlebih komunitas muslim pesantren tentu menyambut bulan ini dengan persiapan yang lebih khusus dan bersifat rutin. Masyarakat muslim berharap dapat menyambut dan melewati ramadhan ini penuh hikmat dan khusu’. Disambutnya Bulan Ramadan karena bulan yang memiliki sekian banyak keistimewaan, salah satunya adalah Lailatul Qadar, ”Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar” (QS: Al-Qodr: 1)..

Malam Lailatul Qadar yakni satu malam yang oleh Alquran dinamai lebih baik daripada 1.000 bulan. “Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS: Al-Qodr: 3). Ada banyak hal yang tentu kita ingin tahu. apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni pada malam ketika turunnya Alquran 15 abad yang lalu atau terjadi setiap bulan Ramadan sepanjang sejarah? Bagaimana kedatangannya? Apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya? Benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya air, heningnya malam dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya)? Yang pasti, dan ini harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Alquran, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar” yang ternuqil jelas dalam Alquran Surat Al-Qadr.

Pada malam itu (lailatul Qadar) adalah malam yang penuh berkah. ‘Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan”. (QS: Ad Dukhan: 3). Bagaimana tidak disebut sebagai malam penuh keberkahan, adalah malam seribu bulan. Suatu malam yang saat kita bisa berjuang melakukan amal kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran semalam saja, bisa jadi dapat terhitung melebihi dari jumlah umur kita. Suatu malam jika kita hitung setara dengan lebih dari 83 tahun. Maka, jika usia kita katakan 60 tahun dan kita mampu meraihnya setiap hadirnya bulan Ramadan, kita dapat “setara” melakukan kebaikan ratusan tahun. Sampaikah usia kita hingga ratusan tahun? marilah kita lipat gandakan amal kebaikan kita pada malam itu.

Malam lailatul Qadar adalah malam mulia. Oleh banyak kalangan Mufassirin menggambarkan betapa besar kemuliaannya, ini diisyaratkan oleh adanya “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu “dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” Wa ma adraaka ma laylat Al-Qadr. (QS: Al-Qadr: 2). Setidaknya terdapat tiga arti kemuliaan itu;

Pertama, penetapan dan pengaturan. Betapa dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan. Sehingga Laylat Al-Qadr dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Marilah meraih malam penetapan Allah ini, yang bila dapat diraih maka menetapkan masa depan manusia. Agar kita dapat ditetapkan sebagai dunia khasanah dan akhirat khasanah.

Kedua, Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang luar biasa. Dia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Alquran serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih serta menjadi titik awal perjuangan keislaman kala itu.

Ketiga, Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit. Bisa jadi dimaknakan dimensi ruang dan waktu- karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi memenuhinya, seperti yang ditegaskan dalam surah Al-Qadr: Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan. Sementara kita hanya bisa meraihnya kemuliaan itu semalam saja dalam setahun.

Malam Lailatul Qadar adalah bentuk kasih sayang Allah SWT. Betapa kita sangat beruntung, sebagai umat Rasulullah Muhammad SAW. Allah SWT telah memberikan malam Lailatul Qadar sebagai jawaban atas keresahan Rasulullah Muhammad SAW. Betapa umat nabi dan Rasul terdahulu berusia ratusan hingga ribuan tahun sementara kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW hanya rata-rata puluhan tahun saja. Hal ini, memunculkan keresahan Nabi Muhammad SAW. Allah SWT memberikan Malam Lailatul Qadar menggantikan usia umat Nabi Muhammad yang tidak sepanjang umat nabi dan rasul terdahulu, yang mencapai ratusan tahun tersebut. Semoga kita dapat meraihnya, beribadah setara ribuan tahun sebagamana ibadah umat-umat nabi dan rasul terdahulu.

Kita dianjurkan untuk meyakini bahwa kita pasti mendapati malam Lailatul Qadar itu dengan catatan sepanjang kita tidak melakukan kemaksiatan dan kemungkaran. Marilah selalu kita melakukan ibadah-badah wajib yang seharusnya kita kerjakan. Kita berlatih dan mencarinya sejak awal bulan Ramadan. Kita dianjurkan benar benar mendapatinya di sepuluh akhir bulan Ramadan. Wallohu a’lam bishowab. (*)

Mobile_AP_Rectangle 1

MOMENTUM Ramadan merupakan bulan yang dinantikan hampir setiap umat muslim di penjuru dunia. Setiap kaum muslimin seakan tak ingin kehilangan momen Ramadan ini, terlebih komunitas muslim pesantren tentu menyambut bulan ini dengan persiapan yang lebih khusus dan bersifat rutin. Masyarakat muslim berharap dapat menyambut dan melewati ramadhan ini penuh hikmat dan khusu’. Disambutnya Bulan Ramadan karena bulan yang memiliki sekian banyak keistimewaan, salah satunya adalah Lailatul Qadar, ”Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar” (QS: Al-Qodr: 1)..

Malam Lailatul Qadar yakni satu malam yang oleh Alquran dinamai lebih baik daripada 1.000 bulan. “Malam Kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan” (QS: Al-Qodr: 3). Ada banyak hal yang tentu kita ingin tahu. apa dan bagaimana malam itu? Apakah ia terjadi sekali saja yakni pada malam ketika turunnya Alquran 15 abad yang lalu atau terjadi setiap bulan Ramadan sepanjang sejarah? Bagaimana kedatangannya? Apakah setiap orang yang menantinya pasti akan mendapatkannya? Benarkah ada tanda-tanda fisik material yang menyertai kehadirannya (seperti membekunya air, heningnya malam dan menunduknya pepohonan, dan sebagainya)? Yang pasti, dan ini harus diimani oleh setiap Muslim berdasarkan pernyataan Alquran, bahwa “Ada suatu malam yang bernama Lailatul Qadar” yang ternuqil jelas dalam Alquran Surat Al-Qadr.

Pada malam itu (lailatul Qadar) adalah malam yang penuh berkah. ‘Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan”. (QS: Ad Dukhan: 3). Bagaimana tidak disebut sebagai malam penuh keberkahan, adalah malam seribu bulan. Suatu malam yang saat kita bisa berjuang melakukan amal kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran semalam saja, bisa jadi dapat terhitung melebihi dari jumlah umur kita. Suatu malam jika kita hitung setara dengan lebih dari 83 tahun. Maka, jika usia kita katakan 60 tahun dan kita mampu meraihnya setiap hadirnya bulan Ramadan, kita dapat “setara” melakukan kebaikan ratusan tahun. Sampaikah usia kita hingga ratusan tahun? marilah kita lipat gandakan amal kebaikan kita pada malam itu.

Mobile_AP_Half Page

Malam lailatul Qadar adalah malam mulia. Oleh banyak kalangan Mufassirin menggambarkan betapa besar kemuliaannya, ini diisyaratkan oleh adanya “pertanyaan” dalam bentuk pengagungan, yaitu “dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” Wa ma adraaka ma laylat Al-Qadr. (QS: Al-Qadr: 2). Setidaknya terdapat tiga arti kemuliaan itu;

Pertama, penetapan dan pengaturan. Betapa dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar dengan penuh kebijaksanaan. Sehingga Laylat Al-Qadr dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Marilah meraih malam penetapan Allah ini, yang bila dapat diraih maka menetapkan masa depan manusia. Agar kita dapat ditetapkan sebagai dunia khasanah dan akhirat khasanah.

Kedua, Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia yang luar biasa. Dia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Alquran serta karena ia menjadi titik tolak dari segala kemuliaan yang dapat diraih serta menjadi titik awal perjuangan keislaman kala itu.

Ketiga, Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit. Bisa jadi dimaknakan dimensi ruang dan waktu- karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi memenuhinya, seperti yang ditegaskan dalam surah Al-Qadr: Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Pada malam itu malaikat-malaikat turun ke bumi membawa kedamaian dan ketenangan. Sementara kita hanya bisa meraihnya kemuliaan itu semalam saja dalam setahun.

Malam Lailatul Qadar adalah bentuk kasih sayang Allah SWT. Betapa kita sangat beruntung, sebagai umat Rasulullah Muhammad SAW. Allah SWT telah memberikan malam Lailatul Qadar sebagai jawaban atas keresahan Rasulullah Muhammad SAW. Betapa umat nabi dan Rasul terdahulu berusia ratusan hingga ribuan tahun sementara kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW hanya rata-rata puluhan tahun saja. Hal ini, memunculkan keresahan Nabi Muhammad SAW. Allah SWT memberikan Malam Lailatul Qadar menggantikan usia umat Nabi Muhammad yang tidak sepanjang umat nabi dan rasul terdahulu, yang mencapai ratusan tahun tersebut. Semoga kita dapat meraihnya, beribadah setara ribuan tahun sebagamana ibadah umat-umat nabi dan rasul terdahulu.

Kita dianjurkan untuk meyakini bahwa kita pasti mendapati malam Lailatul Qadar itu dengan catatan sepanjang kita tidak melakukan kemaksiatan dan kemungkaran. Marilah selalu kita melakukan ibadah-badah wajib yang seharusnya kita kerjakan. Kita berlatih dan mencarinya sejak awal bulan Ramadan. Kita dianjurkan benar benar mendapatinya di sepuluh akhir bulan Ramadan. Wallohu a’lam bishowab. (*)

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Half Page

MOST READ

Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERBARU

Desktop_AP_Rectangle 2