alexametrics
24C
Probolinggo
Monday, 18 January 2021

Meningkatnya Kesibukan Orangtua Saat WFH dan Anak Belajar di Rumah

Ternyata, work from home (WFH) bagi orangtua dan belajar di rumah bagi anak, tidak senyaman yang dibayangkan. Meski awalnya sama-sama antusias, kini kebosanan mulai dirasakan baik orang tua yang WFH, maupun anak. Selain tanggung jawab yang makin meningkat di rumah, pekerjaan pun tidak bisa cepat tuntas.

ERRI KARTIKA-RIDHOWATI SAPUTRI, Pasuruan-Probolinggo, Radar Bromo

Erri Wahyu, 35, warga Bendomungal, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, sibuk merekam video pembelajaran untuk kelas online mahasiswanya yang akan di-publish awal minggu depan. Baru 5 menit merekam, putrinya yang berusia 3 tahun duduk di depannya dan minta ikut bekerja.

Suasana di ruang tengah rumahnya memang lebih ramai sejak 3 minggu ini. Sebab, Erri Wahyu dan suaminya sudah WFH (work from home). Sementara dua anaknya yang sekolah di Taman Bermain (TB) dan SD, juga belajar di rumah.

“Suasananya ya seperti ini. Bekerja di rumah itu banyak gangguan. Terutama anak yang selalu minta perhatian,” terangnya.

Awalnya, memang dipikirnya enak bekerja di rumah. Sebab, tak harus menyiapkan baju rapi dan tak harus ke tempat kerja. Namun, setelah dijalani ternyata semua berjalan tidak sama persis yang dibayangkan.

Bekerja dari rumah justru lebih sulit. Sebab, selain harus menyelesaikan pekerjaan kantor, juga harus tetap mengurus rumah tangga. Menyelesaikan pekerjaan jadi tidak fokus, karena ada anak yang harus dijaga. Belum lagi harus membantu mengerjakan tugas sekolah anak.

Bahkan, ketua di sebuah Perguruan Tinggi Swasta ini mengatakan, komunikasi dengan rekan dan bawahan juga tak efektif. “Ya karena tak selalu handphone dibawa kan. Semua juga sibuk mengurus anak di rumah,” terangnya.

Apalagi sebagai dosen, dirinya harus menyiapkan materi online. Termasuk melakukan video meeting di aplikasi zoom. Dengan semua kondisi itu, pekerjaannya justru harus dikerjakan dari pagi sampai malam hari. Ini lantaran banyak distraction (gangguan) yang membuat pekerjaannya banyak tertunda-tunda.

“Kadang baru bisa bekerja fokus setelah anak tidur. Sementara anak sejak belajar di rumah, justru sering tidur malam. Sebab suasana rumah lebih ramai dan nonton tv,” terangnya.

Hal senada diungkapkan Nadira Filia, 35, warga Pogar, Kecamatan Bangil. Ibu rumah tangga yang memiliki usaha salon di rumahnya itu, mengaku barus bangun lebih pagi dan tidur makin malam setelah anaknya belajar di rumah.

“Ini lantaran anak-anak sering nonton tv sampai malam. Sehingga tidur kadang bisa tengah malam. Dan besoknya bangun siang. Akibatnya saya yang menjaga mengikuti ritme anak,” terang ibu dua anak ini.

Di tengah kesibukannya mengurus salon, Fili panggilannya mengaku kadang kerepotan saat anaknya harus mengerjakan tugas yang banyak. Sebab, dua anaknya rutin diberi tugas setiap hari dari sekolah.

Untuk putrinya yang kelas 5 SD, memang lebih mandiri. Tugas dikerjakan sendiri. “Baru kalau kesulitan tanya ke saya. Dan selebihnya dikerjakan sendiri sampai selesai,” terangnya.

Sementara untuk anaknya yang masih TK, tugas dari guru justru dinilainya berat. Seperti membuat prakarya, bercocok tanam, kerajinan tangan, sampai membuat kue. Alhasil, mau tidak mau Fili harus setiap hari menyiapkan waktu sebagai “guru” di rumah.

“Ya jadi lebih capek memang. Harus bekerja di rumah, harus membantu anak juga. Selain itu, membuat video dan foto untuk diserahkan ke guru via WA grup kelas,” jelasnya.

 

Awalnya Antusias, Kini Mulai Membosankan

Hal serupa dirasakan Khanza Mumtaza Insyiroh, siswa kelas 3A SD IT Permata. Ketika awal mendapat kabar sekolah diliburkan selama 2 minggu, Khanza merasa gembira. Dalam bayangannya, libur sekolah artinya bisa bebas bermain dan bertemu dengan teman-teman sepermainannya.

Namun setelah 3 minggu libur sekolah berjalan, rasa bosan menggelayuti Khanza. Bahkan, rasa bosannya ini sempat diungkapkan dalam status WA orangtuanya.

“Awal-awal libur senang. Tapi sekarang sudah bosan,” ujar Khanza saat ditemui di rumahnya kemarin (4/4) di Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo.

Khanza mengaku rindu dengan teman-teman dan guru di sekolahnya. Kerinduan ini terobati oleh teleconference dengan guru dan teman-teman sekelas saat menyetorkan hafalan Alquran melalui aplikasi.

“Jadi saat kegiatan menyetorkan hafalan itu jadi ramai, karena teman-teman kelasnya dan guru saling bertemu di sana,” ujar Arini Nur Hamidah, ibu Khanza.

Agar anaknya tak bosan, selama libur sekolah, Arini melibatkan anaknya dalam kegiatan mengurus rumah tangga. Seperti membersihkan kamar, membantu mengangkat jemuran, bahkan memasak.

“Sejak 1 April Mendikbud meminta agar siswa tidak dibebani dengan kegiatan belajar, tapi lebih ditekankan pada pendidikan karakter. Terutama yang berkaitan dengan pemahaman mengenai virus Covid-19 ini,” ujarnya.

Pendidikan karakter yang diajarkan Arini yaitu, bersih-bersih rumah dan masak. Sebelumnya, ankanya tidak terbiasa karena ada pembantu rumah tangga.

Selain itu, Arini dan suaminya membatasi penggunaan gadget kepada Khanza. Hanya saat setoran hafalan Alquran, Khanza menggunakan gadget.

“Tapi pernah dia menulis status di WA saya bahwa dia bosan. Akhirnya kami harus kreatif memberikan kegiatan yang produktif, mengingat teman-temannya tidak banyak keluar saat pandemi wabah seperti ini,” ujarnya.

Kebetulan suami Arini bekerja di salah satu pabrik di Kota Probolinggo yang menerapkan satu hari bekerja di rumah, satu hari bekerja di kantor. Pada saat libur, Khanza diajak bersepeda.

“Sama Ayahnya diajak bersepeda memutari komplek lima kali supaya terus aktif bergerak. Ada juga kegiatan olahraga dan berjemur di depan rumah,” ujarnya.

Menurutnya, belajar di rumah memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positif adalah mendekatkan hubungan anak dan orang tua.

“Anak-anak belajar di rumah dengan pantauan orang tua, mendekatkan hubungan orang tua dan anak. Sedangkan efek negatifm berkurangnya interaksi anak dengan lingkungan. Sehingga orang tua harus kreatif membuat kegiatan yang tidak membosankan,” ujar guru kelas 6 SD IT Permata.

Sementara itu Izza El Milla, seorang guru yang harus menjalankan Work from home (WFH) mengaku lebih santai dalam menyikapi kebijakan ini. Kegiatan belajar untuk siswanya TK banyak dilakukan pada minggu pertama dan kedua kebijakan meliburkan siswa.

“Baru awal April itu Mendikbud menyarankan agar siswa libur ya libur saja. Tidak perlu dibebani macam-macam,” ujarnya.

Guru TK ABA 4 inipun lebih santai di rumah. Meskipun, seorang putranya juga belajar di rumah. “Anak bungsu saya kelas 6 di MI Muhammadiyah 1. Kebetulan baru Penilaian Tahap Akhir sekolah yang dilakukan secara online. Dia juga lebih santai di rumah karena sudah tidak ada kegiatan belajar lagi,” ujarnya.

Menurut Izza, putra bungsunya Zaki Abhiyan Zain, bukan merupakan anak yang senang dengan aktivitas luar. Kegiatan sehari-hari berangkat sekolah, dan les untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Tapi sekarang sudah dipastikan masuk di pesantren di Jogyakarta. Jadi kegiatan les sudah tidak dilakukan lagi. Kalau di rumah lebih banyak membaca dia,” ujarnya.

Berbeda dengan dua guru yang sekarang bekerja di rumah. Rusiani,38, sudah lama menjalankan sistem work from home (WFH). Maklum sajam dia menjalankan usaha wiraswasta dari rumahnya.

Rusiani menjelankan bisnis jual beli baju secara online. Dengan adanya aktivitas belajar di rumah, Rusiani harus membagi waktu untuk mengasuh dua anaknya yang masih SD.

“Lebih repot sekarang karena biasanya kalau pagi jam 7 anak-anak sudah disekolah, ini malah di rumah. Jadi anak-anak harus diberi kegiatan supaya tidak bosan dan malah main di tempat yang tidak jelas,” ujarnya.

Rusiani mengaku tidak memberikan gadget kepada anak-anaknya. Namun, membelikan alat permainan tradisional dan asah otak.

“Saya belikan dakon plastik yang banyak di pasar. Di sana anak-anak juga bisa belajar menghitung. Kebetulan anak saya ini masih kelas 1 dan 3 SD. Kakaknya ngajari adiknya berhitung dengan biji dakon,” jelasnya.

Selain permainan dakon, Rusiani juga memperkenalkan dengan beberapa permainan yang dikenalnya saat masih anak-anak. Seperti ular tangga, monopoli.

“Ini saya selang seling biar tidak bosan. Tapi anak-anak rupanya lebih suka dengan dakon karena mereka belajar strategi menghitung agar tidak segera berhenti saat permainan berjalan,” ujarnya. (hn)

MOST READ

BERITA TERBARU