alexametrics
29.7 C
Probolinggo
Sunday, 14 August 2022

Semangati Pasien Gagal Ginjal, Rumah Sakit Rizani Paiton Ajak Bernyanyi dan Berjoget agar Pasien Punya Semangat untuk Sembuh

Pasien cuci darah di Rumah Sakit (RS) Rizani, Paiton, kini tak lagi merasa tegang. Dokter dan perawat punya cara jitu membuat pasien gembira saat proses cuci darah berlangsung. Kegembiraan selama penanganan medis sangat penting untuk membangkitkan psikologi mereka.

ARIF MASHUDI, Paiton

Sekilas, ruangan pelayanan cuci darah atau ruang unit Hemodialisis yang ada di RS Rizani, tidak berbeda dengan rumah sakit lain pada umumnya. Mesin untuk cuci darah, bangsal, hingga peralatan lain tampak standby di sisi pasien.

Kamis lalu, saat Jawa Pos Radar Bromo melihat pelayanan cuci darah, ada pasien yang sudah di ruangan Hemodialisisis. Rupanya, proses cuci darah sudah mulai berlangsung.

Di dalam ruangan yang cukup luas itu, ada empat tempat tidur dan empat alat (mesin) cuci darah. Namun, empat tempat tidur itu terpakai semua. Karena pelayanan cuci darah sendiri dibuka Senin-Sabtu dengan dua shift pagi dan siang. Sehingga, terkadang pasien yang menentukan hari dan pilih shift pagi atau siang.

Di dalam ruangan Hemodialisis itu, ada dr Rizki Habibie, kepala Unit Hemodialisis RS Rizani, sekaligus yang menangani langsung proses cuci darah pasien. “Sudah dimulai proses cuci darahnya sekitar 1 jaman mas,” kata dr. Habibie sambil mempersilakan melihat langsung situasi ruang Hemodialisis RS Rizani.

CARA UNIK: Dokter dan tim medis RS Rizani yang ikut bergoyang saat melayani pasien cuci darah. (Foto: RS Rizani for Jawa Pos Radar Bromo)

Dokter kelahiran Lamongan, 20 April 1978 itu menjelaskan, pasien yang mengalami gagal ginjal itu, harus menjalani proses cuci darah sekitar 4-5 jam. Selama waktu itu, pasien sebisa mungkin harus dalam kondisi tenang dan tidak stres. Supaya mengurangi, mengantisipasi, dan mencegah risiko yang tidak diinginkan selama proses cuci darah.

Oleh karena itu, tim RS Rizani pun memberikan terapi bergembira dan tidak stres selama proses cuci darah dengan mengajak bernyanyi dan berjoget. Sehingga, membuat pasien sebisa mungkin untuk tidak tegang atau terbebani dengan proses cuci darah yang dijalani.

“Kami mulai pelayanan cuci darah dengan gembira itu sejak pertengahan tahun kemarin. Habibie menjelaskan, gagal ginjal itu ada tiga. Paling banyak itu hemodialisis satu cuci darah,” terang dr. Rizky.

Nah, ruang hemodialisis itu khusus bagi pasien yang harus menjalani cuci darah. Di mana, dengan mesin cuci darah itu, darah dari pasien yang mengandung dalam ginjal itu masuk ke mesin untuk dibersihkan. Kemudian, darah yang telah diproses oleh mesin itu masuk ke dalam kantong darah. Proses terakhir, darah yang sudah bersih itu dimasukkan kembali ke tubuh pasien.

”Proses itu dilakukan selama 4-5 jam, dengan frekuensi seminggu dua kali. Kami sendiri membuka pelayanan cuci darah ini Senin sampai Sabtu,” terangnya. Selama ini, dikatakan Habibie, ada sekitar 16 pasien yang menjalani cuci darah di RS Rizani. Mereka pun merasakan happy dan nyaman saat menjalani cuci darah. Karena tidak tegang dan stres selama proses cuci darah.

“Kami ingin pasien yang mengalami gagal ginjal, untuk semangat tetap bertahap hidup. Karena cuci darah ini adalah semangat untuk hidup,” ungkap alumni fakultas kedokteran Unair Surabaya tahun 1996-2002.

Disinggung soal latar belakang memberikan pelayanan cuci darah yang menggembirakan? Suami dari dr Mirrah Samiyah itu menjelaskan, proses cuci darah bagi pasien gagal ginjal itu membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam. Pasien yang datang ke rumah sakit, tentunya dalam kondisi trauma psikis, capek, dan stres.

Nah, selama proses cuci darah itu bisa terjadi komplikasi. Mulai dari kedinginan, shock, dan panas. Bahkan, tidak menutup kemungkinan komplikasi berat yang bisa terjadi itu kenjang-kejang bahkan sampai kematian. Dengan sakit gagal ginjal itu sudah risiko tinggi, apalagi cuci darah.

Pelayanan ini, pihaknya ingin menunjukkan bahwa cuci darah tidak menakutkan seperti yang dibayangkan. Bahkan, dengan pelayanan ini, pasien bisa tertawa, bernyanyi, dan main WhatsApp.

“Dengan pelayanan menggembirakan ini, kami ingin pasien tetap happy, tenang, tidak stress, dan semangat mereka tetap terpompa. Supaya, mengurangi dan mencegah risiko tinggi yang bisa saja terjadi. Sehingga, pasien tidak takut dan mau menjalani cuci darah lagi,” terang bapak satu anak itu. (fun)

Pasien cuci darah di Rumah Sakit (RS) Rizani, Paiton, kini tak lagi merasa tegang. Dokter dan perawat punya cara jitu membuat pasien gembira saat proses cuci darah berlangsung. Kegembiraan selama penanganan medis sangat penting untuk membangkitkan psikologi mereka.

ARIF MASHUDI, Paiton

Sekilas, ruangan pelayanan cuci darah atau ruang unit Hemodialisis yang ada di RS Rizani, tidak berbeda dengan rumah sakit lain pada umumnya. Mesin untuk cuci darah, bangsal, hingga peralatan lain tampak standby di sisi pasien.

Kamis lalu, saat Jawa Pos Radar Bromo melihat pelayanan cuci darah, ada pasien yang sudah di ruangan Hemodialisisis. Rupanya, proses cuci darah sudah mulai berlangsung.

Di dalam ruangan yang cukup luas itu, ada empat tempat tidur dan empat alat (mesin) cuci darah. Namun, empat tempat tidur itu terpakai semua. Karena pelayanan cuci darah sendiri dibuka Senin-Sabtu dengan dua shift pagi dan siang. Sehingga, terkadang pasien yang menentukan hari dan pilih shift pagi atau siang.

Di dalam ruangan Hemodialisis itu, ada dr Rizki Habibie, kepala Unit Hemodialisis RS Rizani, sekaligus yang menangani langsung proses cuci darah pasien. “Sudah dimulai proses cuci darahnya sekitar 1 jaman mas,” kata dr. Habibie sambil mempersilakan melihat langsung situasi ruang Hemodialisis RS Rizani.

CARA UNIK: Dokter dan tim medis RS Rizani yang ikut bergoyang saat melayani pasien cuci darah. (Foto: RS Rizani for Jawa Pos Radar Bromo)

Dokter kelahiran Lamongan, 20 April 1978 itu menjelaskan, pasien yang mengalami gagal ginjal itu, harus menjalani proses cuci darah sekitar 4-5 jam. Selama waktu itu, pasien sebisa mungkin harus dalam kondisi tenang dan tidak stres. Supaya mengurangi, mengantisipasi, dan mencegah risiko yang tidak diinginkan selama proses cuci darah.

Oleh karena itu, tim RS Rizani pun memberikan terapi bergembira dan tidak stres selama proses cuci darah dengan mengajak bernyanyi dan berjoget. Sehingga, membuat pasien sebisa mungkin untuk tidak tegang atau terbebani dengan proses cuci darah yang dijalani.

“Kami mulai pelayanan cuci darah dengan gembira itu sejak pertengahan tahun kemarin. Habibie menjelaskan, gagal ginjal itu ada tiga. Paling banyak itu hemodialisis satu cuci darah,” terang dr. Rizky.

Nah, ruang hemodialisis itu khusus bagi pasien yang harus menjalani cuci darah. Di mana, dengan mesin cuci darah itu, darah dari pasien yang mengandung dalam ginjal itu masuk ke mesin untuk dibersihkan. Kemudian, darah yang telah diproses oleh mesin itu masuk ke dalam kantong darah. Proses terakhir, darah yang sudah bersih itu dimasukkan kembali ke tubuh pasien.

”Proses itu dilakukan selama 4-5 jam, dengan frekuensi seminggu dua kali. Kami sendiri membuka pelayanan cuci darah ini Senin sampai Sabtu,” terangnya. Selama ini, dikatakan Habibie, ada sekitar 16 pasien yang menjalani cuci darah di RS Rizani. Mereka pun merasakan happy dan nyaman saat menjalani cuci darah. Karena tidak tegang dan stres selama proses cuci darah.

“Kami ingin pasien yang mengalami gagal ginjal, untuk semangat tetap bertahap hidup. Karena cuci darah ini adalah semangat untuk hidup,” ungkap alumni fakultas kedokteran Unair Surabaya tahun 1996-2002.

Disinggung soal latar belakang memberikan pelayanan cuci darah yang menggembirakan? Suami dari dr Mirrah Samiyah itu menjelaskan, proses cuci darah bagi pasien gagal ginjal itu membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam. Pasien yang datang ke rumah sakit, tentunya dalam kondisi trauma psikis, capek, dan stres.

Nah, selama proses cuci darah itu bisa terjadi komplikasi. Mulai dari kedinginan, shock, dan panas. Bahkan, tidak menutup kemungkinan komplikasi berat yang bisa terjadi itu kenjang-kejang bahkan sampai kematian. Dengan sakit gagal ginjal itu sudah risiko tinggi, apalagi cuci darah.

Pelayanan ini, pihaknya ingin menunjukkan bahwa cuci darah tidak menakutkan seperti yang dibayangkan. Bahkan, dengan pelayanan ini, pasien bisa tertawa, bernyanyi, dan main WhatsApp.

“Dengan pelayanan menggembirakan ini, kami ingin pasien tetap happy, tenang, tidak stress, dan semangat mereka tetap terpompa. Supaya, mengurangi dan mencegah risiko tinggi yang bisa saja terjadi. Sehingga, pasien tidak takut dan mau menjalani cuci darah lagi,” terang bapak satu anak itu. (fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/