alexametrics
24.7 C
Probolinggo
Thursday, 11 August 2022

Bakal Bangun Jembatan Bailey di Kedungasem

WONOASIH, Radar Bromo – Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII bergerak cepat dalam menangani ambrolnya pilar tengah jembatan Kedungasem di Kelurahan Kedungaseng, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Rencananya, akan dibangun jembatan darurat atau jembatan bailey.

Hal ini diungkapkan Sodeli, kepala Bidang Preservasi dan Peralatan 1, BBPJN VIII, kemarin (3/5). “Paling tidak dalam dua minggu ini kami akan membangun jembatan bailey. Sehingga, memudahkan lalu lintas warga,” ujarnya.

Jembatan bailey adalah jembatan rangka baja ringan berkualitas tinggi yang mudah dipindah-pindah (movable). Umumnya digunakan sebagai jembatan darurat yang sifatnya sementara.

“Jika jembatan bailey sudah terpasang, maka kendaraan mulai sepeda motor, roda empat, bisa melintas. Bus bisa juga, tapi bergantian. Kalau trailer tidak bisa lewat,” terangnya.

Selain membangun jembatan bailey, BBPJN VIII juga berencana segera mempercepat proses pembangunan jembatan baru Kedungasem. Namun, sebelum pembangunan akan dibuatkan desain jembatan lebih dulu.

“Kurang lebih perlu waktu dua bulan untuk mendesain jembatan. Targetnya akhir tahun 2020 sudah selesai pembangunan jembatan ini,” terangnya.

Namun, berapa anggaran yang dibutuhkan untuk membangun kembali jembatan Kedungasem, Sodeli tidak bisa memastikan. Menurutnya, perlu melihat desain jembatan lebih dulu. Baru besarnya anggaran bisa diketahui.

TINJAU: Wawali M Soufis Subri meninjau TKP Jembatan yang ambrol. Kondisi jembatan terlihat miring di sisi barat karena pilar tengah sisi barat ambrol. (Ridhowati Saputri/Radar Bromo)

 

“Untuk besaran anggaran pembangunan jembatan harus melihat desainnya. Karena desain belum ada, jadi belum bisa dipastikan besaran anggarannnya. Kalau estimasi waktu pembangunan diharapkan bisa selesai pada akhir tahun 2020,” ujarnya.

Berdasarkan manifes jembatan, jembatan Kedungasem dibangun pada tahun 1978 dengan tipe jembatan GTI. Jembatan ini memiliki panjang kurang lebih 18 meter dengan lebar sekitar 10 meter.

Dari segi usia, menurut Sodeli, jembatan Kedungasem termasuk jembatan tua. Usianya sudah 42 tahun. Namun, memiliki konstruksi yang kuat sehingga bisa bertahan selama 42 tahun.

Sementara itu, Wakil Wali (Wawali) Kota Probolinggo Moch Soufis Subri memantau jembatan Kedungasem, Minggu (3/5). Pantauan dilakukan bersama tim dari BBPJN VIII.

Wawali pun mengecek kondisi pilar tengah jembatan yang sudah roboh. Dari pantauan itu, diketahui ada penurunan struktur bangunan jembatan.

“Dari pantauan tadi memang ada penurunan struktur bangunan jembatan kurang lebih 20 cm. Sudah dilakukan langkah dengan menutup jalan agar bisa segera diperbaiki,” ujar Subri –sapaan Moch Soufis Subri.

Pria dengan latar belakang teknik sipil ini mengungkapkan, jembatan Kedungasem memiliki konstruksi yang kuat. Subri melihat, runtuhnya pilar tengah dengan usia jembatan 42 tahun adalah peristiwa yang wajar. Apalagi posisi pilar berada di tengah, sehingga rawan terhadap tekanan. Baik saat banjir maupun saat adanya sumbatan.

“Sesuai dengan manifes pembuatan, jembatan ini dibangun tahun 1978. Kemungkinan besar jembatan ini menggunakan bangunan sisa Belanda,” tambahnya.

Menurutnya, itu bisa dilihat dari konstruksi jembatan yang menggunakan bata merah serta ada campuran semen. Subri pun memastikan, Pemkot telah berkoordinasi dengan BBPJN VIII agar jembatan segera diperbaiki.

“Kami juga mengatur lalu lintas serta mengantisipasi agar kendaraan besar tidak lewat sini. Apalagi saat ini ada pengaturan lalu lintas untuk mengantisipasi wabah korona,” terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sabtu (2/5) sore, pilar tengah jembatan Kedungasem ambrol. Pilar tengah yang ambrol ini berada di sisi barat jembatan. Sedangkan pilar tengah sisi timur jembatan tidak ambrol, namun muncul retakan-retakan.

Kondisi ini mengkhawatirkan. Sebab, jembatan di jalan nasional ini kerap dilintasi kendaraan berat. Baik dari arah Lumajang – Situbondo atau sebaliknya. Karena itu, begitu pilarnya ambrol, jembatan langsung ditutup. (put/hn)

WONOASIH, Radar Bromo – Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII bergerak cepat dalam menangani ambrolnya pilar tengah jembatan Kedungasem di Kelurahan Kedungaseng, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Rencananya, akan dibangun jembatan darurat atau jembatan bailey.

Hal ini diungkapkan Sodeli, kepala Bidang Preservasi dan Peralatan 1, BBPJN VIII, kemarin (3/5). “Paling tidak dalam dua minggu ini kami akan membangun jembatan bailey. Sehingga, memudahkan lalu lintas warga,” ujarnya.

Jembatan bailey adalah jembatan rangka baja ringan berkualitas tinggi yang mudah dipindah-pindah (movable). Umumnya digunakan sebagai jembatan darurat yang sifatnya sementara.

“Jika jembatan bailey sudah terpasang, maka kendaraan mulai sepeda motor, roda empat, bisa melintas. Bus bisa juga, tapi bergantian. Kalau trailer tidak bisa lewat,” terangnya.

Selain membangun jembatan bailey, BBPJN VIII juga berencana segera mempercepat proses pembangunan jembatan baru Kedungasem. Namun, sebelum pembangunan akan dibuatkan desain jembatan lebih dulu.

“Kurang lebih perlu waktu dua bulan untuk mendesain jembatan. Targetnya akhir tahun 2020 sudah selesai pembangunan jembatan ini,” terangnya.

Namun, berapa anggaran yang dibutuhkan untuk membangun kembali jembatan Kedungasem, Sodeli tidak bisa memastikan. Menurutnya, perlu melihat desain jembatan lebih dulu. Baru besarnya anggaran bisa diketahui.

TINJAU: Wawali M Soufis Subri meninjau TKP Jembatan yang ambrol. Kondisi jembatan terlihat miring di sisi barat karena pilar tengah sisi barat ambrol. (Ridhowati Saputri/Radar Bromo)

 

“Untuk besaran anggaran pembangunan jembatan harus melihat desainnya. Karena desain belum ada, jadi belum bisa dipastikan besaran anggarannnya. Kalau estimasi waktu pembangunan diharapkan bisa selesai pada akhir tahun 2020,” ujarnya.

Berdasarkan manifes jembatan, jembatan Kedungasem dibangun pada tahun 1978 dengan tipe jembatan GTI. Jembatan ini memiliki panjang kurang lebih 18 meter dengan lebar sekitar 10 meter.

Dari segi usia, menurut Sodeli, jembatan Kedungasem termasuk jembatan tua. Usianya sudah 42 tahun. Namun, memiliki konstruksi yang kuat sehingga bisa bertahan selama 42 tahun.

Sementara itu, Wakil Wali (Wawali) Kota Probolinggo Moch Soufis Subri memantau jembatan Kedungasem, Minggu (3/5). Pantauan dilakukan bersama tim dari BBPJN VIII.

Wawali pun mengecek kondisi pilar tengah jembatan yang sudah roboh. Dari pantauan itu, diketahui ada penurunan struktur bangunan jembatan.

“Dari pantauan tadi memang ada penurunan struktur bangunan jembatan kurang lebih 20 cm. Sudah dilakukan langkah dengan menutup jalan agar bisa segera diperbaiki,” ujar Subri –sapaan Moch Soufis Subri.

Pria dengan latar belakang teknik sipil ini mengungkapkan, jembatan Kedungasem memiliki konstruksi yang kuat. Subri melihat, runtuhnya pilar tengah dengan usia jembatan 42 tahun adalah peristiwa yang wajar. Apalagi posisi pilar berada di tengah, sehingga rawan terhadap tekanan. Baik saat banjir maupun saat adanya sumbatan.

“Sesuai dengan manifes pembuatan, jembatan ini dibangun tahun 1978. Kemungkinan besar jembatan ini menggunakan bangunan sisa Belanda,” tambahnya.

Menurutnya, itu bisa dilihat dari konstruksi jembatan yang menggunakan bata merah serta ada campuran semen. Subri pun memastikan, Pemkot telah berkoordinasi dengan BBPJN VIII agar jembatan segera diperbaiki.

“Kami juga mengatur lalu lintas serta mengantisipasi agar kendaraan besar tidak lewat sini. Apalagi saat ini ada pengaturan lalu lintas untuk mengantisipasi wabah korona,” terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sabtu (2/5) sore, pilar tengah jembatan Kedungasem ambrol. Pilar tengah yang ambrol ini berada di sisi barat jembatan. Sedangkan pilar tengah sisi timur jembatan tidak ambrol, namun muncul retakan-retakan.

Kondisi ini mengkhawatirkan. Sebab, jembatan di jalan nasional ini kerap dilintasi kendaraan berat. Baik dari arah Lumajang – Situbondo atau sebaliknya. Karena itu, begitu pilarnya ambrol, jembatan langsung ditutup. (put/hn)

MOST READ

BERITA TERBARU

/