Kesal, Warga di Tutur Bawa Sampah ke Jalan di Depan Kantor Kecamatan dan Pasar

TUTUR, Radar Bromo – Polemik tumpukan sampah di hutan produksi milik Perhutani di Dusun Nongkojajar, Desa Wonosari, Tutur, memuncak. Jumat (3/4) siang usai salat Jumat, puluhan warga membawa kembali sampah tersebut dan membuangnya ke tepi jalan raya, depan Pasar Desa Nongkojajar dan Kantor Kecamatan Tutur.

Aksi itu dilakukan tiba-tiba dan sempat membuat kaget para pengguna jalan. Termasuk warga yang berada di tepi jalan sekitar Kantor Kecamatan Tutur dan juga Pasar Desa Wonosari. Mereka kaget saat ada warga yang datang mengendarai sejumlah pikap, kemudian membuang sampah di tepi jalan.

Aksi itu cepat diketahui petugas dari Polsek dan Koramil Nongkojajar serta Satpol PP Kecamatan Tutur. Seketika itu petugas meluncur ke lokasi untuk berjaga dan melakukan pengamanan. Langkah itu untuk antisipasi supaya tidak terjadi kericuhan.

DIANGKUT: Truk milik DLH mengangkut sampah yang sebelumnya dibawa warga. (Foto: Istimewa)

 

“Ini aksi spontanitas dari warga dan juga para pengguna jalan seperti sopir pikap. Aksi ini berkaitan dengan tumpukan sampah liar di lahan produksi milik Perhutani yang dirasa mengganggu akses transportasi hilir mudik kendaraan dari Desa Wonosari ke Kayukebek dan sebaliknya,” beber Rado, 38, warga asal Dusun Ledok, Desa Kayukebek.

Dihubungi koran ini via telepon, pria yang juga sekaligus menjabat kasun tersebut menuturkan, sampah itu dibawa dari lokasi dalam hutan produksi milik Perhutani yang dipasang pagar bambu. Tumpukan sampah liar sebagian sudah meluber ke jalan, sehingga mengganggu kendaraan yang melintas.

“Kalau tidak ditempuh cara seperti, tidak akan selesai dan mendapat atensi. Asal sampahnya kan dari pasar desa. Jadi, diusung lagi ditaruh ke tepi jalan depan pasar desa dan kantor kecamatan. Biar segera ditangani sekaligus ada solusi,” ucapnya.

Usai aksi spontanitas warga selesai, sore harinya langsung dilakukan pertemuan. Adapun pertemuan diikuti perwakilan warga dengan Pemdes Wonosari. Pertemuan difasilitasi Camat Tutur, Danramil, dan Kapolsek Nongkojajar. Hasilnya, akhirnya disepakati sejumlah poin dan upaya penting untuk penanganan sampah liar dalam pertemuan tersebut.

“Sudah ada kesepakatan dan poin penting untuk mengatasi problem sampah ini yang dominan atau mayoritas berasal dari Pasar Desa Nongkojajar. Karena memang harus ada solusinya,” kata Plt Camat Tutur Ahmad Hadi.

Untuk upaya jangka pendeknya, lanjut Ahmad Hadi, pihaknya akan mengusulkan ke Perhutani untuk membuka sementara pagar bambunya. Ini sembari menunggu MoU antara Pemdes Wonosari dengan DLH Kabupaten Pasuruan, tuntas awal pekan depan. “Selain itu, juga ada upaya jangka menengah dan panjangnya, yang tujuannya mengatasi problem sampah di Desa Wonosari,” imbuhnya.

Sambil menunggu MoU diteken, masih kata Ahmad Hadi, upaya jangka menengah yakni koordinasi dengan DLH Kabupaten Pasuruan, untuk menurunkan truk. Nah, truk ini untuk mengevakuasi sampah di tepi jalan depan kantor kecamatan dan pasar desa.

Terkait ini, kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pasuruan Heru Farianto juga angkat bicara. “Sudah diatasi, pascaaksi spontanitas warga. Kami turunkan armada dua truk dengan 10 personel untuk membersihkan sampah tersebut yang berada di tepi jalan dan berserakan. Ke depan akan dibawa ke TPA tiap pekannya dua kali,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bromo. (zal/fun)