alexametrics
25.8 C
Probolinggo
Monday, 23 May 2022

Polemik Regina: Kedua Pihak Masih Saling Klaim, Pertemuan Sempat Memanas

MAYANGAN, Radar Bromo – Polemik antara pihak yang mengaku memiliki hak atas eks gedung Bioskop Regina di Jalan Dr. Soetomo, Kota Probolinggo, berlanjut. Rabu (2/10), kedua kubu bertemu di area Regina. Termasuk, perwakilan pedagang.

Namun, musyawarah yang berlangsung hampir dua jam setengah yang mulai pukul 11.45, itu sempat memanas. Kedua kubu bersikukuh sama-sama memiliki hak atas lahan eks Regina. Mereka adalah Hotje Sutanto anak dari Anwar Sutanto dan HS Abdullah Assegaff ahli waris dari Harun Sulaiman.

Mereka mengaku sama-sama mengantongi sertifikat asli petikan dari sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) 131. Hotje Sutanto mengatakan, ayahnya membeli gedung ini pada 1976. “Akta jual beli dan balik namanya sudah ada, sehingga semuanya sudah klir,” ujarnya.

Pada 1979, gedung ini disewa oleh Harun Sulaiman. Dengan uang muka Rp 1 juta, dia meminjam kunci. Kata Hotje Sutanto, Harun hanya sekitar dua bulan mengoperasikan gendungnya. Setelah tutup, ia minta kuncinya, tapi Harun tak memberikannya.

DEADLOCK: Rembukan antara pihak yang berpolemik, Rabu (2/10), namun tidak ada titik temu. Nampak Hotje Sutanto (berkacamata) dengan Asegaff (memakai kopiah hitam. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Karenanya, Anwar membawa kasus ini ke pengadilan. Anwar kalah di MA dan mengajukan Peninjauan Kembali (PK). “Saat itu oleh MK, dikembalikan lagi ke Probolinggo. Artinya, bukan dimenangkan Harun dan PK ditolak. Melainkan dikembalikan lagi ke tingkat kota,” ujarnya.

Pengembalian dilakukan karena pada sekitar 1980, sertifikat gedung berakhir. Pada 1994, pihaknya kembali mengurus sertifikatnya dan bioskopnya kembali beroperasi. Saat itu gedungnya dikelola oleh pemilik Gedung Garuda. Sertifikat yang terbit pada 1994 itu mati pada 2014, tetapi diperpanjang lebih awal pada 2013.

Di sisi lain, HS Abdullah Assegaff mengatakan, tidak mempermasalahkan jika Hotje hendak melakukan upaya hukum. Ia mengaku berhak atas lahan tersebut berdasarkan putusan MA. Abdullah mengatakan, pihaknya juga memiliki sertifikat, tapi hilang. Karenanya, pihaknya telah membuat laporan kehilangan pada 2016.

Abdullah mengatakan, melihat gedungnya kini direnovasi, pihaknya akan melaporkan dengan tudingan perusakan. Disinggung soal sertifikat asli yang ada di tangan Sutanto, Abdullah mengaku heran.

“Kalau itu tidak tahu. Sebab, sertifikat itu ada di pihak kami. Namun, karena hilang kami buktikan dengan adanya surat laporan polisi,” ujarnya.

Di sisi lain, kemarin belasan pedagang tetap berjualan di area Regina. Mereka mengaku, sejak area berjualannya ditutup gedek sejak Selasa (1/10), jualannya menurun. Tapi, mereka tetap berharap bisa berjualan di sana dan memperpanjang kontraknya. “Harapan kami tetap bisa di sini, meski sewanya kabarnya naik,” ujar salah satu penjual makanan, Rahmad. (rpd/rud/fun)

MAYANGAN, Radar Bromo – Polemik antara pihak yang mengaku memiliki hak atas eks gedung Bioskop Regina di Jalan Dr. Soetomo, Kota Probolinggo, berlanjut. Rabu (2/10), kedua kubu bertemu di area Regina. Termasuk, perwakilan pedagang.

Namun, musyawarah yang berlangsung hampir dua jam setengah yang mulai pukul 11.45, itu sempat memanas. Kedua kubu bersikukuh sama-sama memiliki hak atas lahan eks Regina. Mereka adalah Hotje Sutanto anak dari Anwar Sutanto dan HS Abdullah Assegaff ahli waris dari Harun Sulaiman.

Mereka mengaku sama-sama mengantongi sertifikat asli petikan dari sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) 131. Hotje Sutanto mengatakan, ayahnya membeli gedung ini pada 1976. “Akta jual beli dan balik namanya sudah ada, sehingga semuanya sudah klir,” ujarnya.

Pada 1979, gedung ini disewa oleh Harun Sulaiman. Dengan uang muka Rp 1 juta, dia meminjam kunci. Kata Hotje Sutanto, Harun hanya sekitar dua bulan mengoperasikan gendungnya. Setelah tutup, ia minta kuncinya, tapi Harun tak memberikannya.

DEADLOCK: Rembukan antara pihak yang berpolemik, Rabu (2/10), namun tidak ada titik temu. Nampak Hotje Sutanto (berkacamata) dengan Asegaff (memakai kopiah hitam. (Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo)

Karenanya, Anwar membawa kasus ini ke pengadilan. Anwar kalah di MA dan mengajukan Peninjauan Kembali (PK). “Saat itu oleh MK, dikembalikan lagi ke Probolinggo. Artinya, bukan dimenangkan Harun dan PK ditolak. Melainkan dikembalikan lagi ke tingkat kota,” ujarnya.

Pengembalian dilakukan karena pada sekitar 1980, sertifikat gedung berakhir. Pada 1994, pihaknya kembali mengurus sertifikatnya dan bioskopnya kembali beroperasi. Saat itu gedungnya dikelola oleh pemilik Gedung Garuda. Sertifikat yang terbit pada 1994 itu mati pada 2014, tetapi diperpanjang lebih awal pada 2013.

Di sisi lain, HS Abdullah Assegaff mengatakan, tidak mempermasalahkan jika Hotje hendak melakukan upaya hukum. Ia mengaku berhak atas lahan tersebut berdasarkan putusan MA. Abdullah mengatakan, pihaknya juga memiliki sertifikat, tapi hilang. Karenanya, pihaknya telah membuat laporan kehilangan pada 2016.

Abdullah mengatakan, melihat gedungnya kini direnovasi, pihaknya akan melaporkan dengan tudingan perusakan. Disinggung soal sertifikat asli yang ada di tangan Sutanto, Abdullah mengaku heran.

“Kalau itu tidak tahu. Sebab, sertifikat itu ada di pihak kami. Namun, karena hilang kami buktikan dengan adanya surat laporan polisi,” ujarnya.

Di sisi lain, kemarin belasan pedagang tetap berjualan di area Regina. Mereka mengaku, sejak area berjualannya ditutup gedek sejak Selasa (1/10), jualannya menurun. Tapi, mereka tetap berharap bisa berjualan di sana dan memperpanjang kontraknya. “Harapan kami tetap bisa di sini, meski sewanya kabarnya naik,” ujar salah satu penjual makanan, Rahmad. (rpd/rud/fun)

MOST READ

BERITA TERBARU

/