alexametrics
25.1 C
Probolinggo
Friday, 19 August 2022

Tarif Bus Patas Boleh Naik sampai 100 Persen, Ekonomi Maks 36 Persen  

KADEMANGAN, Radar Bromo– Menuju tatanan kehidupan baru atau new normal, tarif bus akan naik. Sebab, sejumlah bus, baik bus ekonomi maupun patas diperbolehkan menaikan tarifnya. Mengingat, jumlah tempat duduk di bus dipangkas hingga separo.

Seperti dijelaskan Ketua Organda Kota Probolinggo Tomy Wahyu Prakoso. Menurutnya, terkait tarif bus di Kota Probolinggo, memang ada kenaikan. Bukan hanya patas, namun juga kelas ekonomi atau yang kerap dikenal bomel.

Namun, untuk tarif bus ekonomi boleh naik maksimal hingga 36 persen dari biaya pada umumnya. “Hal itu mengacu pada peraturan Dirjen Perhubungan Darat Nomor SK.2462/PR.301/DRJD/2015 tentang Tarif Jarak Batas Atas dan Tarif Jarak Batas Bawah Angkutan Orang dengan Mobil Bus Umum Kelas Ekonomi pada Trayek Antarkota Antarprovinsi,” ujarnya, kemarin.

Sementara untuk bus patas tidak diatur secara detail. Sehingga, masing-masing operator boleh menaikan tarifnya hingga 100 persen dari tarif awal. “Untuk patas karena tidak diatur, maka boleh menaikan hingga 100 persen,” jelasnya.

Di tengah pandemi Covid-19 dan mencegah penularannya, operator bus, selain diwajibkan menyediakan hand sanitizer atau tempat cuci tangan, juga harus membatasi tempat duduknya agar ada jarak antarpenumpang. Karenanya, bus yang biasanya diisi 60 orang, kini bisa diisi 30 penumpang. “Yang kursi 3 diisi hanya dua orang, yang tengah dikosongi. Yang kursi dua, diisi satu orang,” jelasnya.

Namun, kata Tomy, setelah dibukanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah, hingga Kamis (2/7), jumlah penumpang bus sangat sedikit. Bahkan, dalam satu bus hanya terdapat 8 penumpang. “Meski sudah dikurangi karena ada pembatasan jarak, jumlah penumpangnya masih sedikit dan tidak sampai separonya,” katanya.

Mengenai bus ekonomi yang didapati melanggar atau jika ada yang menaikan tarif lebih dari 36 persen, Tomy mengatakan, pihaknya tidak bisa melakukan tugas penindakan. Sebab, hal itu menjadi kewenangan Dinas Perhubungan Pemprov. “Jika ada kasus seperti itu, langsung laporkan kepada petugas terminal dan nantinya akan diteruskan ke provinsi. Kami (Organda) tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan,” ujar Tomy.

Di sisi lain, Guna menekan angka penyebaran Covid-19, kemarin Polres Probolinggo Kota mengelar penyuluhan di PO AKAS. Alasannya, bus antardaerah, baik dalam dan luar provinsi memiliki potensi untuk menyebarkan Covid-19.

Penyuluhan dilakukan di Aula AKAS 4 di Jalan Panglima Sudirman, Kota Probolinggo. Kegiatan ini diikuti 30 sopir bus dari seluruh PO AKAS. Tak hanya memberikan edukasi, petugas juga memberikan bantuan dan menyemprot sejumlah bus dengan cairan disinfektan.

Kapolres Probolinggo Kota AKBP Ambaryadi Wijaya menerangkan bahwa masing-masing PO harus memikirkan cara terbaik dan inovasi untuk mencegah penularan Covid-19. Mengingat, dengan dioperasionalkanya lagi moda transportasi, sikap disiplin dan menjaga kebersihan perlu ditingkatkan. Terlebih, para kru bus yang sering berhadapan dengan banyak orang. “Harus ada inovasi. Misalkan, titik-titik tertentu ada pos untuk penyemprotan disinfektan atau lainnya,” ujarnya. (rpd/rud)

KADEMANGAN, Radar Bromo– Menuju tatanan kehidupan baru atau new normal, tarif bus akan naik. Sebab, sejumlah bus, baik bus ekonomi maupun patas diperbolehkan menaikan tarifnya. Mengingat, jumlah tempat duduk di bus dipangkas hingga separo.

Seperti dijelaskan Ketua Organda Kota Probolinggo Tomy Wahyu Prakoso. Menurutnya, terkait tarif bus di Kota Probolinggo, memang ada kenaikan. Bukan hanya patas, namun juga kelas ekonomi atau yang kerap dikenal bomel.

Namun, untuk tarif bus ekonomi boleh naik maksimal hingga 36 persen dari biaya pada umumnya. “Hal itu mengacu pada peraturan Dirjen Perhubungan Darat Nomor SK.2462/PR.301/DRJD/2015 tentang Tarif Jarak Batas Atas dan Tarif Jarak Batas Bawah Angkutan Orang dengan Mobil Bus Umum Kelas Ekonomi pada Trayek Antarkota Antarprovinsi,” ujarnya, kemarin.

Sementara untuk bus patas tidak diatur secara detail. Sehingga, masing-masing operator boleh menaikan tarifnya hingga 100 persen dari tarif awal. “Untuk patas karena tidak diatur, maka boleh menaikan hingga 100 persen,” jelasnya.

Di tengah pandemi Covid-19 dan mencegah penularannya, operator bus, selain diwajibkan menyediakan hand sanitizer atau tempat cuci tangan, juga harus membatasi tempat duduknya agar ada jarak antarpenumpang. Karenanya, bus yang biasanya diisi 60 orang, kini bisa diisi 30 penumpang. “Yang kursi 3 diisi hanya dua orang, yang tengah dikosongi. Yang kursi dua, diisi satu orang,” jelasnya.

Namun, kata Tomy, setelah dibukanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah daerah, hingga Kamis (2/7), jumlah penumpang bus sangat sedikit. Bahkan, dalam satu bus hanya terdapat 8 penumpang. “Meski sudah dikurangi karena ada pembatasan jarak, jumlah penumpangnya masih sedikit dan tidak sampai separonya,” katanya.

Mengenai bus ekonomi yang didapati melanggar atau jika ada yang menaikan tarif lebih dari 36 persen, Tomy mengatakan, pihaknya tidak bisa melakukan tugas penindakan. Sebab, hal itu menjadi kewenangan Dinas Perhubungan Pemprov. “Jika ada kasus seperti itu, langsung laporkan kepada petugas terminal dan nantinya akan diteruskan ke provinsi. Kami (Organda) tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan,” ujar Tomy.

Di sisi lain, Guna menekan angka penyebaran Covid-19, kemarin Polres Probolinggo Kota mengelar penyuluhan di PO AKAS. Alasannya, bus antardaerah, baik dalam dan luar provinsi memiliki potensi untuk menyebarkan Covid-19.

Penyuluhan dilakukan di Aula AKAS 4 di Jalan Panglima Sudirman, Kota Probolinggo. Kegiatan ini diikuti 30 sopir bus dari seluruh PO AKAS. Tak hanya memberikan edukasi, petugas juga memberikan bantuan dan menyemprot sejumlah bus dengan cairan disinfektan.

Kapolres Probolinggo Kota AKBP Ambaryadi Wijaya menerangkan bahwa masing-masing PO harus memikirkan cara terbaik dan inovasi untuk mencegah penularan Covid-19. Mengingat, dengan dioperasionalkanya lagi moda transportasi, sikap disiplin dan menjaga kebersihan perlu ditingkatkan. Terlebih, para kru bus yang sering berhadapan dengan banyak orang. “Harus ada inovasi. Misalkan, titik-titik tertentu ada pos untuk penyemprotan disinfektan atau lainnya,” ujarnya. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/