alexametrics
27 C
Probolinggo
Thursday, 7 July 2022

Zakat sebagai Pembersih Hati dan Harta

PERINTAH mendirikan salat dalam Alquran selalu dirangkai dengan perintah menunaikan zakat. Zakat sendiri menjadi salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan oleh seorang muslim. Hal ini dimaksudkan untuk membersihkan atau menyucikan hati atau diri dan harta. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surat At Taubah ayat 103 yang artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”

Kedudukan zakat dalam Islam, sebagai salah satu ibadah pokok dan rukum Islam yang ketiga, setelah syahadat dan salat. Dengan demikian membayar zakat merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang.

Sehingga membayar zakat merupakan kewajiban agama yang dapat dipaksakan kepada para wajib zakat, jika mereka tidak mau membayarkannya. Bahkan para ulama sepakat bahwa mengingkari kewajiban hukumnya kufur dan keluar dari ketentuan agama Islam.

Bahkan berzakat digolongkan sebagai ibadah maliyah yakni ibadah dengan harta. Zakat sebagai ibadah telah diatur oleh syariat secara rinci dalam pelaksanaannya seperti halnya ibadah-ibadah yang lain. Pengaturan syariat atas zakat ini, antara lain menyangkut kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya, ditentukan batas minimum harta yang wajib dizakati. Kapan waktunya dan dikeluarkan kepada siapa saja penerima zakat.

Dalam Alquran disebutkan bahwa kebanyakan manusia amat mencintai harta kekayaan. Mengeluarkan harta yang dimiliki untuk diserahkan kepada orang lain boleh jadi lebih berat dari pada mengerjakan shalat dan puasa.

Maka di sinilah zakat berperan sebagai alat uji kepatuhan seorang muslim dalam melaksanakan kewajibannya kepada masyarakat. Dalam perintah berzakat memiliki makna yang lebih luas dari pada mengeluarkan 2,5 persen harta yang diperoleh secara halal untuk diberikan kepada mereka yang berhak.

Zakat mengandung pesan moral agar orang-orang kaya selalu menyadari tanggung jawabnya dalam mengupayakan keadilan ekonomi dan sosial. Mengeluarkan zakat berarti membersihkan hak orang lain yang melekat pada harta itu. Zakat juga berfungsi mengikis sifat bakhil (kikir).

Dalam Alquran Surat Al Hadid ayat 7 dituliskan “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar”.

Zakat dibagi menjadi dua, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah menjadi pengeluaran wajib yang dilakukan setiap muslim yang mempunyai kelebihan dari keperluan keluarga yang wajar, dan disalurkan pada malam hari raya Idul Fitri. Sebagai tanda syukur kepada Allah karena telah menyelesaikan ibadah puasa.

Selanjutnya adalah zakat mal. Sesuatu dapat disebut mal apabila memenuhi dua syarat berikut: Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai dan dapat diambil manfaatnya sebagaimana lazimnya. Contohnya: hasil pertanian, uang, emas, perak, dan lain sebagainya.

Zakat harta ini dianggap sebagai salah satu unsur ekonomi Islam yang dapat menawarkan solusi bagi masalah-masalah perekonomian modem yang tak terpecahkan oleh sistem ekonomi konvensional kapitalis maupun sosialis.

Salah satu kajian secara sederhana mengungkapkan, bahwa secara teoritis bila semua umat Islam membayar zakat dengan benar sesuai ajaran agama dan zakat tersebut dikelola dengan benar pula sesuai ajaran agama, maka kita tidak akan melihat kesenjangan secara mencolok di kalangan umat Islam antara yang kaya dengan yang hidup dalam kemiskinan. (*)

PERINTAH mendirikan salat dalam Alquran selalu dirangkai dengan perintah menunaikan zakat. Zakat sendiri menjadi salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan oleh seorang muslim. Hal ini dimaksudkan untuk membersihkan atau menyucikan hati atau diri dan harta. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surat At Taubah ayat 103 yang artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.”

Kedudukan zakat dalam Islam, sebagai salah satu ibadah pokok dan rukum Islam yang ketiga, setelah syahadat dan salat. Dengan demikian membayar zakat merupakan bagian mutlak dari keislaman seseorang.

Sehingga membayar zakat merupakan kewajiban agama yang dapat dipaksakan kepada para wajib zakat, jika mereka tidak mau membayarkannya. Bahkan para ulama sepakat bahwa mengingkari kewajiban hukumnya kufur dan keluar dari ketentuan agama Islam.

Bahkan berzakat digolongkan sebagai ibadah maliyah yakni ibadah dengan harta. Zakat sebagai ibadah telah diatur oleh syariat secara rinci dalam pelaksanaannya seperti halnya ibadah-ibadah yang lain. Pengaturan syariat atas zakat ini, antara lain menyangkut kekayaan yang wajib dikeluarkan zakatnya, ditentukan batas minimum harta yang wajib dizakati. Kapan waktunya dan dikeluarkan kepada siapa saja penerima zakat.

Dalam Alquran disebutkan bahwa kebanyakan manusia amat mencintai harta kekayaan. Mengeluarkan harta yang dimiliki untuk diserahkan kepada orang lain boleh jadi lebih berat dari pada mengerjakan shalat dan puasa.

Maka di sinilah zakat berperan sebagai alat uji kepatuhan seorang muslim dalam melaksanakan kewajibannya kepada masyarakat. Dalam perintah berzakat memiliki makna yang lebih luas dari pada mengeluarkan 2,5 persen harta yang diperoleh secara halal untuk diberikan kepada mereka yang berhak.

Zakat mengandung pesan moral agar orang-orang kaya selalu menyadari tanggung jawabnya dalam mengupayakan keadilan ekonomi dan sosial. Mengeluarkan zakat berarti membersihkan hak orang lain yang melekat pada harta itu. Zakat juga berfungsi mengikis sifat bakhil (kikir).

Dalam Alquran Surat Al Hadid ayat 7 dituliskan “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar”.

Zakat dibagi menjadi dua, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Zakat fitrah menjadi pengeluaran wajib yang dilakukan setiap muslim yang mempunyai kelebihan dari keperluan keluarga yang wajar, dan disalurkan pada malam hari raya Idul Fitri. Sebagai tanda syukur kepada Allah karena telah menyelesaikan ibadah puasa.

Selanjutnya adalah zakat mal. Sesuatu dapat disebut mal apabila memenuhi dua syarat berikut: Dapat dimiliki, disimpan, dihimpun, dikuasai dan dapat diambil manfaatnya sebagaimana lazimnya. Contohnya: hasil pertanian, uang, emas, perak, dan lain sebagainya.

Zakat harta ini dianggap sebagai salah satu unsur ekonomi Islam yang dapat menawarkan solusi bagi masalah-masalah perekonomian modem yang tak terpecahkan oleh sistem ekonomi konvensional kapitalis maupun sosialis.

Salah satu kajian secara sederhana mengungkapkan, bahwa secara teoritis bila semua umat Islam membayar zakat dengan benar sesuai ajaran agama dan zakat tersebut dikelola dengan benar pula sesuai ajaran agama, maka kita tidak akan melihat kesenjangan secara mencolok di kalangan umat Islam antara yang kaya dengan yang hidup dalam kemiskinan. (*)

MOST READ

BERITA TERBARU

/