Usai Tenggak Teh Dicampur Potas, Korban Muntah lalu Meregang Nyawa

BANGIL – Polisi melakukan rekonstruksi pembunuhan terhadap Sya’roni, 58, warga Rembang dan Imam Sya’roni, 70, warga Kraton, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (2/2). Tiga tersangka dihadirkan dalam rekonstruksi itu, juga empat saksi.

Namun, rekonstruksi tidak dilakukan di tempat kejadian perkara (TKP). Melainkan di lingkungan Mapolres Pasuruan. Polres dipilih sebagai lokasi rekonstruksi karena dianggap lebih aman dibandingkan rekonstruksi di TKP. Yaitu, di Desa Jatigunting, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan.

Agar rekonstruksi berjalan lancar, tiga tersangka dihadirkan. Mereka adalah M. Dhofir, 59 dan istrinya, Nanik Purwanti, 30, warga Desa Jatigunting, Kecamatan Wonorejo. Satu lagi yaitu Zainudin, 30, warga Desa Wonosari, Kecamatan Wonorejo yang tak lain santri dari M. Dhofir. Mereka bertiga didampingi kuasa hukum, Elisa.

Petugas juga menghadirkan beberapa orang yang menjadi saksi dalam kejadian tersebut. Ada Nurul Huda, 45, warga yang menyiram api; Yuliati, 55, penjual bensin; Astima, penjual jamu; dan Novi Fatima, anak tersangka.

Ada 79 adegan yang diperagakan. Dimulai dari percakapan via telepon antara tersangka Dhofir dengan Zainudin. Dhofir meminta Zainudin mendatangi rumah korban Sya’roni. Selanjutnya, Zainudin meminta agar korban Sya’roni menghadap ke Dhofir.

Sya’roni tidak sendirian. Ia mengajak rekannya, Imam Sya’roni untuk menemui Dhofir. Saat di rumah Dhofir itulah, tragedi maut itu terjadi. Dhofir menyuguhi korban Sya’roni dengan teh yang dibuatkan istrinya, Nanik Purwanti.

Sebelum disuguhkan ke korban Sya’roni, teh tersebut diberi potas oleh Dhofir. Tanpa menaruh curiga, Sya’roni yang diperankan pegawai kepolisian, menyeruput segelas teh tersebut.

Namun, saat ditenggak, korban Sya’roni kaget. Dia bilang, teh yang diminumnya rasanya pahit. Mendengar pernyataan Sya’roni, Dhofir menimpali,  “Masak teh pahit.”

Hal itu menimbulkan rasa penasaran pada rekannya Imam Sya’roni. Imam Sya’roni pun mencicipi teh berpotas milik Sya’roni.

Begitu ditenggak, Imam Sya’roni tak mampu menahan rasa pahit teh. Ia berkali-kali muntah. Sampai akhirnya, korban tak lagi bernyawa.

Saat itulah, Dhofir meminta istrinya dan Zainudin untuk mengikat dan membungkus kedua korban. Keduanya kemudian diseret keluar rumah.

Beberapa meter dari rumah Dhofir, mayat korban dibakar menggunakan bensin oleh Dhofir. Dhofir pun meninggalkan lokasi, setelah melihat kedua mayat korban berkobar.

Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Dewa Putu Prima mengungkapkan, rekonstruksi tersebut dilakukan untuk memastikan peran masing-masing tersangka. Hal itu akan menjadi bahan pelengkap untuk alat bukti penyidikan.

“Rekonstruksi ini untuk memberi gambaran pasti tentang  peran masing-masing tersangka. Dengan rekonstruksi tersebut, kan jelas peran dari masing-masing,” sambung dia.

Dewa –sapaannya- menambahkan, rekonstruksi dilakukan di Mapolres, untuk menjaga keamanan. Bukan dilakukan di TKP. Pembunuhan itu sendiri dilakukan tersangka pada 19 Januari 2019. Sementara ketiga pelaku diamankan Minggu (20/1). Setelah menjalani pemeriksaan, ketiganya ditetapkan sebagai tersangka atas pembunuhan tersebut.

Tersangka Dhofir sendiri tega membunuh karena sakit hati terhadap Sya’roni. Pelaku merasa ditipu atas promo umrah murah yang ditawarkan Sya’roni.

Pelaku pun menawarkan promo umrah itu pada pengikutnya. Bahkan, banyak pengikutnya yang sudah membayar. Namun, ternyata umrah itu tidak kunjung ada kejelasan. Akibatnya, pelaku ditinggalkan banyak pengikutnya yang kecewa. (one/hn)