Mengenal Rofiatun, Warga Gading yang Viral dengan Kata “Sungguh Been”

Jagat media sosial (Medsos) belakangan ini diramaikan dengan sosok Tun. Tun viral karena videonya yang lucu saat sedang komunikasi lewat telpon menggunakan bahasa Madura diselingi bahasa Indonesia. Tun ternyata warga Dusun Janti, Desa Sentul, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo.

MUKHAMAD ROSYIDI, Gading, Radar Bromo

Video Tun, 30, yang nama aslinya Rofiatun, sudah menyebar sejak lebih dari dua minggu lalu melalui WhatsApp. Namun, sekitar dua minggu belakangan, videonya makin viral saja.

Video dengan bahasa Madura yang kocak, sesekali diselingi bahasa Indonesia itu, menjadi perbincangan hangat. Dia bahkan muncul dalam berbagai versi video lucu.

Selain menyebar melalui WhatsApp, video yang menggambarkan keluguan Tun itu, juga viral di YouTube. Bahkan, jumlah subscriber channel YouTube itu mencapai ribuan.

Dalam salah satu video yang kini sudah banyak menyebar itu, sosok Tun sedang bercakap-cakap dengan seseorang melalui selular. Dalam video yang direkam di sebuah warung itu, Tun melakukan percakapan dengan menggunakan bahasa Madura selama beberapa menit. Namun, Tun juga menyelipkan bahasa Indonesia dalam percakapannya tersebut.

Tun pun asyik dan menikmati percakapan itu. Sesekali ia tertawa. Sesekali juga Tun menutup mulutnya dengan salah satu tangannya.

Sungguh? Sungguh, been? Sompa? Der mateah?

Artinya kurang lebih, “Sungguh? Kamu sungguh-sungguh? Sumpah mati?”

VIRAL: Rofiatun saat selfie dengan sejumlah warga. (Rosyidi/Radar Bromo)

Begitu salah satu kalimat yang diucapkan Tun melalui handphone-nya. Kalimat yang diucapkan dengan nada khas itu, kontan menjadi perhatian warganet. Kalimat bahasa Madura bercampur bahasa Indonesia itu juga banyak ditiru dan diucapkan masyarakat.

Selain video tersebut, masih banyak video Tun lainnya yang sudah menyebar luas. Bahkan, video itu diedit sedemikian rupa untuk memunculkan kesan kocak dan lucu oleh para youtuber untuk mendulang jumlah subscriber. Bahkan, ada seseorang yang sengaja merias Tun layaknya pengantin dan dibuat video.

Tun atau Rofiatun merupakan anak bungsu  dari dua bersaudara, pasangan Abdullah dan Fatimah. Namun, keduanya sudah cerai. Fatimah kemudian menikah lagi. Dan Tun ikut ibu dan bapak tirinya.

Namun, kondisi ekonomi orang tuanya kekurangan. Karena itu, Tun yang kelahiran 1989 itu kadang juga tinggal bersama pamannya, Rasek yang masih satu desa.

“Memang kondisi ekonomi ibunya sangat kekurangan. Kadang tinggal bersama ibunya, kadang-kadang ia beberapa hari tinggal bersama saya dan makan di sini,” ujar Rasek.

Viralnya video Tun, sebenarnya tidak sengaja. Tun sendiri, secara mental agak lemah. Tun tidak bisa benar-benar fokus saat diajak berbicara.

Namun, Tun suka sekali bergaul. Tiap hari, Tun hampir selalu keliling desanya. Dia biasanya bermain dari satu rumah ke rumah yang lain.

Suatu hari, Tun bermain di sebuah warung di desanya. Ada beberapa orang di warung itu. Dia lantas diberi HP mainan oleh salah satu warga.

Dapat HP mainan, Tun pun suka sekali. Dia lantas menggunakan HP mainan itu untuk teleponan. Dia pun bercakap-cakap sendirian, seolah sedang menerima telepon beneran.

Saat itulah, salah satu dari warga yang ada di warung itu, merekam aksi Tun yang sedang teleponan. Rekaman itu lantas di-upload di sebuah akun facebook.

Tak disangka, video itu kemudian menjadi viral. Upload video tersebut bahkan kemudian di-repost berkali-kali hingga viral, tidak hanya di facebook. Namun, juga di YouTube.

Sejak viral itu, Tun pun mulai banyak yang mencari. Karena itu, Fatimah ibunya, khawatir dengan keselamatan Tun. Demi pertimbangan keselamatan juga, Tun akhirnya tinggal di rumah pamannya.

Fatimah, ibu Tun mengungkapkan, sejatinya dirinya tidak bangga belakangan ini anaknya menjadi viral. Menurutnya, setiap hari ada saja orang yang mencarinya untuk foto bersama dan direkam. Bahkan, ada yang mendandaninya layaknya pengantin.

“Saya khawatir, anak saya hanya diajak foto saja dan dibuat video saja. Tidak ada yang memberi apapun ke anak saya. Kasihan dia hanya dapat capek saja. Saya juga khawatir takut ada apa-apa pada putri saya,” ucap Fatimah.

Tidak hanya Fatimah yang khawatir. Timbul Sujatmoko, kepala Desa Sentul, Kecamatan Gading, menyayangkan keluguan Tun itu dimanfaatkan oleh para youtuber. Menurutnya, youtuber sengaja memanfaatkan kondisi Tun untuk meningkatkan subscriber-nya.

“Tun, jadi viral karena bahasanya lucu dan unik. Itu tidak masalah bagi saya. Saya menyesalkan Tun dimanfaatkan oleh para youtuber dan pihak lainnya. Ada yang mengajak berswa foto, direkam. Bahkan ada yang merias Tun layaknya pengantin dan lain sebagainya,” katanya.

Kades Timbul mengatakan, banyak warga atau youtuber yang sengaja merekam Tun. Kemudian di-upload di YouTube dan diedit sedemikian rupa dengan berbagai versi video. Seperti  video yang menggambarkan Tun melakukan percakapan dengan keluguan dan kekocakannya.

“Pada intinya, Tun dimanfaatkan oleh mereka. Mereka mendapat like, subscribe banyak hingga ribuan. Dan, mereka yang menikmati hasil dari posting-an itu. Sementara Tun, tidak mendapat apa-apa,” katanya.

Timbul menambahkan, konten video yang dibuat oleh para youtuber itu, juga terkesan mem-bully Tun. Mereka juga tidak melihat kondisi Tun yang sejak kecil mengalami gangguan mental. Apalagi Tun berasal dari keluarga yang kekurangan dari segi ekonomi.

“Tun, tidak harus dimanfaatkan seperti itu. Mereka harus memiliki rasa iba dan peduli. Terutama tidak mem-bully. Karena hal itu sangat tidak etis dan merendahkan Tun,” katanya. (hn)