alexametrics
26.8 C
Probolinggo
Tuesday, 24 May 2022

Jaran Bodhag Diusulkan Jadi Ekskul Wajib di Kota Probolinggo

MAYANGAN, Radar Bromo – Jaran Bodhag merupakan salah satu kesenian tradisional asli Probolinggo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2014. Namun, sejauh ini belum memiliki tempat di sekolah-sekolah. Karenanya, sejumlah penggiat seni berharap Jaran Bodhag bisa masuk ekstrakurikuler.

Seperti disampaikan Ketua Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKPro) Peni Priyono. Menurutnya, sejauh ini belum ada implementasi dari Jaran Bodhag yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, minimal di sekolah-sekolah. Karenanya, pihaknya berharap Jaran Bodhag bisa dijadikan ekstrakurikuler wajib di sekolah.  “Saya selaku pelaku seni bersedia menyiapkan pelatih tari Jaran Bodhag, jika memang diperlukan untuk membantu,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Komite Pertunjukan DKKPro Muhammad Abduh. Ia sekapat jika Jaran Bodhag masuk ekstrakurikuler wajib. Namun, juga perlu kajian mendalam. Sebab, sejauh ini Jaran Bodhag belum memiliki kajian atau landasan teorinya.

Karenanya, jika dimasukan dalam muatan lokal, belum memiliki landasan. Ia mencontohkan adanya kajian dalam bentuk buku yang telah memiliki legal formal, sehingga ada landasannya.

Abduh mengatakan, sejauh ini Jarang Bodhag hanya diberikan piagam jika masuk warisan budaya tak benda. Namun, tidak ada keterangan yang mendetail, Jaran Bodhag yang mana dan seperti apa.

“Apakah Jaran Bodhag yang berekor enam atau Jaran Bodhag yang memiliki rambut di kepalanya. Itu harus dijelaskan secara detail dulu. Selain itu, belum ada kajian teori yang bisa dipakai sebagai landasan dasar. Sampai sekarang hanya berupa laporan saja, belum dibukukan,” ujarnya.

Dengan demikian, menurutnya, jika dijadikan muatan lokal atau masuk dalam pelajaran seni budaya, tidak memiliki landasan yang kuat. “Meski sulit, namun bukan berarti tidak bisa,” ujarnya.

Mendapati itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo Tutang Heru Aribowo mengaku sudah pernah berupaya mengumpulkan sejumlah guru pengawas, pelaku seni, DKPro, dan Disdikpora. Tapi, ada kendala dan keinginan memasukkan Jaran Bodhag sebagai ektrakurikuler wajib sekolah belum terealisasi.

Pihaknya berharap tahun depan bisa dimaksimalkan. Mengingat, secara nomenklatur kebudayaan nantinya akan digabung menjadi satu dengan Dinas Pendidikan.

“Harapanya pada 2020 secara nomenklature budaya masuk ke Dinas Pendidikan dan Olahraga kembali ke Dibudpar, sehingga Jaran Bodhag yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dapat dikenalkan dan diajarkan melalui ektra wajib sekolah,” ujarnya. (rpd/rud)

MAYANGAN, Radar Bromo – Jaran Bodhag merupakan salah satu kesenian tradisional asli Probolinggo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada 2014. Namun, sejauh ini belum memiliki tempat di sekolah-sekolah. Karenanya, sejumlah penggiat seni berharap Jaran Bodhag bisa masuk ekstrakurikuler.

Seperti disampaikan Ketua Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKPro) Peni Priyono. Menurutnya, sejauh ini belum ada implementasi dari Jaran Bodhag yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, minimal di sekolah-sekolah. Karenanya, pihaknya berharap Jaran Bodhag bisa dijadikan ekstrakurikuler wajib di sekolah.  “Saya selaku pelaku seni bersedia menyiapkan pelatih tari Jaran Bodhag, jika memang diperlukan untuk membantu,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Komite Pertunjukan DKKPro Muhammad Abduh. Ia sekapat jika Jaran Bodhag masuk ekstrakurikuler wajib. Namun, juga perlu kajian mendalam. Sebab, sejauh ini Jaran Bodhag belum memiliki kajian atau landasan teorinya.

Karenanya, jika dimasukan dalam muatan lokal, belum memiliki landasan. Ia mencontohkan adanya kajian dalam bentuk buku yang telah memiliki legal formal, sehingga ada landasannya.

Abduh mengatakan, sejauh ini Jarang Bodhag hanya diberikan piagam jika masuk warisan budaya tak benda. Namun, tidak ada keterangan yang mendetail, Jaran Bodhag yang mana dan seperti apa.

“Apakah Jaran Bodhag yang berekor enam atau Jaran Bodhag yang memiliki rambut di kepalanya. Itu harus dijelaskan secara detail dulu. Selain itu, belum ada kajian teori yang bisa dipakai sebagai landasan dasar. Sampai sekarang hanya berupa laporan saja, belum dibukukan,” ujarnya.

Dengan demikian, menurutnya, jika dijadikan muatan lokal atau masuk dalam pelajaran seni budaya, tidak memiliki landasan yang kuat. “Meski sulit, namun bukan berarti tidak bisa,” ujarnya.

Mendapati itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo Tutang Heru Aribowo mengaku sudah pernah berupaya mengumpulkan sejumlah guru pengawas, pelaku seni, DKPro, dan Disdikpora. Tapi, ada kendala dan keinginan memasukkan Jaran Bodhag sebagai ektrakurikuler wajib sekolah belum terealisasi.

Pihaknya berharap tahun depan bisa dimaksimalkan. Mengingat, secara nomenklatur kebudayaan nantinya akan digabung menjadi satu dengan Dinas Pendidikan.

“Harapanya pada 2020 secara nomenklature budaya masuk ke Dinas Pendidikan dan Olahraga kembali ke Dibudpar, sehingga Jaran Bodhag yang telah diakui sebagai warisan budaya tak benda dapat dikenalkan dan diajarkan melalui ektra wajib sekolah,” ujarnya. (rpd/rud)

MOST READ

BERITA TERBARU

/