Pemulasaraan Jenazah Covid-19 Pastikan Sesuai Syariat

NGULING, Radar Bromo – Kapolres Pasuruan Kota (Kapolresta) AKBP Arman menyesalkan pengambilan paksa jenazah positif Covid-19 beberapa waktu lalu di wilayah hukumnya. Menurutnya, kondisi itu terjadi karena kurangnya pemahaman tentang pemakaman jenazah Covid-19.

Penegasan ini disampaikan Arman saat menggelar sosialisasi tentang protokoler kesehatan dan pemulasaraan jenazah yang terpapar Covid-19. Sosialisasi dilakukan Sabtu (1/8) di pendapa Kecamatan Nguling.

Kepolisian menurutnya, mendorong semua pihak menggandeng ulama dan tokoh masyarakat untuk memahamkan masyarakat tentang protokoler kesehatan. Peran serta Polri dan TNI adalah menjelaskan dan turun langsung kepada masyarakat terkait pandemi ini.

“Kami berharap agar jangan sampai ada perebutan jenazah lagi di wilayah hukum Polres Pasuruan Kota. Kita harus berkoordinasi. Prinsip kepolisian bahwa penindakan hukum adalah tindakan yang terakhir. Ini, dilakukan kalau sudah dijelaskan dan disosialisasikan tidak bisa,” ungkapnya.

Selama ini, dua perebutan jenazah pasien Covid-19 yang terjadi memang berada di wilayah hukum Polresta. Pertama, perebutan jenazah terjadi di pemakaman umum Desa Rowogempol, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Yang kedua, perebutan jenazah dilakukan warga Desa Kedawang, Kecamatan Nguling, di IGD RSUD dr R. Soedarsono Kota Pasuruan.

Wabup Pasuruan KH. Mujib Imron yang juga hadir dalam sosialisasi itu memastikan, proses pemulasaraan jenazah Covid-19 sudah sesuai syariat Islam. Bahkan, pihaknya sudah mengajak tokoh agama dan kiai di Kabupaten Pasuruan untuk melihat pemulasaraan jenazah Covid-19.

Termasuk cara memandikan dan membungkus jenazah dengan kain kafan. Para tokoh agama dan kiai, menurut Mujib, sepakat bahwa prosesnya sudah sesuai dengan syariat Islam.

Bahkan, Pemkab Pasuruan sudah memesan alat khusus untuk memandikan jenazah. Sehingga, pemulasaraan jenazah Covid-19 dipastikan steril.

Ditambahkannya, saa ini di Kabupaten Pasuruan terdapat 628 orang positif Covid-19. Namun, angka kesembuhan baru mencapai 60 persen.

“Karena itu, kami mohon agar Pemkab Pasuruan dibantu menyosialisasikan kepada masyarakat untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan. Sehingga, diharapkan insiden perebutan jenazah oleh warga Lekok dan Nguling tidak terulang kembali,” sebut Gus Mujib -sapaan akrabnya-. (riz/hn)