Mayoritas Penyebab Terjadinya Kasus Kebakaran di Probolinggo Akibat Human Error

KRAKSAAN, Radar Bromo – Memasuki musim kemarau, sejumlah kasus kebakaran terjadi di Probolinggo. Sampai dengan akhir Juli, tercatat sudah ada 17 kasus kebakaran yang terjadi di Kabupaten Probolinggo. Mayoritas kebakaran yang terjadi karena kelalaian warga atau human error dan korsleting listrik.

Inspektur Inspeksi Pemadam Kebakaran Kabupaten Probolinggo Danang Purwanto mengatakan, kebakaran sejatinya ada beberapa penyebab. Selain karena faktor alam seperti musim kemarau dan angin yang kencang, juga karena faktor kelalaian warga.

“Dari data yang kami catat, terhitung 10 kasus kebakaran yang terjadi akibat kelalaian atau human error seperti membuang puntung rokok sembarangan, lilin yang jatuh saat listrik padam, kompor gas yang bocor, dan membakar sampah tertiup angin,” ujarnya.

Selain karena human error, penyebab kebakaran juga terjadi karena korsleting listrik. Tercatat sebanyak 5 kasus kebakaran akibat korsleting listrik. Menurutnya, kebakaran ini terjadi ketika rumah atau toko yang ditinggalkan, pemilik lupa untuk mengecek saluran listrik yang ada. Serta, 1 kasus kebakaran karena disengaja dan 1 kasus lagi masih diselidiki penyebabnya.

“Kebakaran yang terjadi akibat korsleting biasanya saat rumah atau toko ditinggal dalam waktu yang lama dan sebelum ditinggalkan tidak dicek dulu saluran listriknya, seperti colokan listrik yang ada di rumah atau titik – titik rawan korslet yang ada di rumah, sehingga jika ada percikan api mudah membesar karena tidak ada penghuni,” ujarnya.

Kepala Dinas Satpol PP Kabupaten Probolinggo Dwi Joko Nurjayadi saat ditemui di kantor mengatakan, bahwa kebakaran yang terjadi sejatinya bisa diminimalisasi dengan meningkatkan kewaspadaan. Dengan kesigapan, antisipasi terhadap potensi kebakaran yang ada di lingkungan sekitar bisa dilakukan.

“Tingkat kerawanan potensi kebakaran sering terjadi di perumahan padat penduduk. Rapatnya rumah sering kali menyulitkan proses pemadaman. Kalau warga lalai, maka kebakaran bisa terjadi. Untuk itu, sangat perlu kesadaran warga untuk senantiasa lebih waspada dan sigap terhadap potensi kebakaran,” jelasnya.

Joko menambahkan, jika kebakaran terjadi di kabupaten, warga dapat menghubungi petugas pemadam kebakaran yang sudah dibagi menjadi dua wilayah yakni barat dan timur, masing–masing wilayah melayani 12 kecamatan. “Petugas pemadam kebakaran siap siaga, sudah dibagi per wilayah untuk kecepatan penanganan kebakaran, untuk wilayah barat yang posnya di Mall Pelayanan Publik di Dringu dan wilayah timur yang posnya di utara Alun–alun Kraksaan,” ujarnya. (ar/fun)