alexametrics
26.4 C
Probolinggo
Saturday, 28 November 2020

Wayang Kulit di Hari Jadi Kota Pasuruan, Temanya Angkat Cerita Pemilihan Jabatan

PANGGUNGREJO, Radar Bromo – Pemkot Pasuruan terus berupaya melestarikan budaya tradisional di Kota Pasuruan. Salah satunya dengan melakukan kegiatan budaya secara rutin. Seperti pagelaran wayang kulit yang dilaksanakan Sabtu (29/2) malam di Taman Kota, Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.

Pagelaran memperingati Hari Jadi Kota Pasuruan ke-334 ini dilaksanakan sekitar pukul 21.00, bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Bromo. Selama hampir enam jam masyarakat yang datang menyaksikan wayang kulit dengan tema Senopati Pinilih Bangun Kutho yang dibawakan Ki Tjipto Sabdo Utomo dari paguyuban Tjipto Laras, Kota Pasuruan.

Sejumlah anggota Forkopimda Kota Pasuruan turut hadir dalam acara ini. Seperti Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Pasuruan Raharto Teno Prasetyo; Kapolres Pasuruan Kota AKBP Dony Alexander; Dandim 0819 Letkol Burhan Fajri; dan kepala perangkat daerah (PD) di lingkungan Pemkot Pasuruan.

Dalam sambutannya, Teno mengungkapkan saat ini kebudayaan terus berkembang. Budaya asing masuk ke Indonesia lewat arus globalisasi. Datangnya budaya asing ini memiliki dampak positif dan negatif bagi masyarakat.

Salah satu yang bisa dilakukan untuk menekan akses budaya asing adalah dengan melestarikan budaya asli nusantara. Juga menumbuhkembangkan rasa cinta pada warisan budaya. Misalnya dengan rutin menggelar pertunjukan wayang kulit.

SAMBUTAN: PLt Wali Kota Pasuruan, Raharto Teno Prasetyo saat memberi sambutan. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

 

“Melalui pagelaran wayang kulit memperingati Hari Jadi Kota Pasuruan ini, saya berharap masyarakat dan generasi muda tetap mencintai dan memahami seni wayang kulit ini. Sebab, pasti ada pesan yang disampaikan,” sebutnya.

Dalang dalam pagelaran wayang kulit ini, Ki Sutjipto Sabdo Utomo menjelaskan, gelaran wayang kulit ini menceritakan tentang lowongan panglima perang atau senopati. Namun, demi menunjukkan siapa yang pantas dua kubu melakukannya dengan peperangan. Yakni, antara bala Trajutrisno dan bala Pringgodani.

Mereka lantas terlibat dalam perang untuk memperebutkan jabatan senopati. Namun, akhirnya peperangan ini bisa dihentikan oleh Batara Kresna. Bahkan dalam nasihatnya, Batara Kresna menjelaskan pada Gatotkoco jika waktu yang akan menentukan. Dan kelak ia akan menjadi senopati yang terpilih dan pantas.

“Dalam tema ini saya ingin menyampaikan tidak perlu ada pertumpahan darah dalam pemilihan suatu jabatan. Jika memang sudah waktunya, orang itu pasti akan terpilih. Entah itu cepat atau lambat,” jelasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kota Pasuruan Hardi Utoyo menyebutkan, pagelaran wayang kulit adalah salah satu bentuk kepedulian Pemkot Pasuruan melestarikan kebudayaan. Tentunya, kegiatan seperti ini akan rutin dilakukan pemkot untuk menumbuhkan cinta pada budaya sendiri.

“Secara terus menerus kami akan semakin optimal untuk senantiasa menjaga dan melestarikan seni dan budaya di Kota Pasuruan. Strategi yang diterapkan adalah mengadakan event atau pagelaran seni dan budaya dengan mengedepankan potensi kearifan lokal,” terangnya.

Kepala Komite Tari, Pendalangan, dan Gamelan pada Dewan Kesenian Kota Pasuruan (DKP) Slamet Juhanto pun mengapresiasi langkah pemkot. Ia berharap ke depannya acara ini semakin digalakkan.

DKP sendiri memiliki rencana untuk lebih memperkenalkan budaya daerah melalui sekolah. Seperti wawasan budaya melalui pelajaran kesenian dan menambah kegiatan yang berbau budaya di Kota Pasuruan. Tujuannya, untuk tetap melestarikan budaya asli nusantara di Kota Pasuruan.

“Dengan era globalisasi ini, mau tidak mau budaya asing pun masuk. Ini, tantangan bagi kami dengan semakin berusaha memperkenalkan budaya sejak dini. Mulai dari bangku SD,” pungkasnya. (riz/hn/fun)

- Advertisement -
- Advertisement -

MOST READ

Siswi SDN di Kraksaan Lolos dari Penculikan, Ini Ciri-Ciri Pelaku

KRAKSAAN, Radar Bromo - Niat Cld, 13, berangkat sekolah, Rabu (12/2) pagi berubah menjadi kisah menegangkan. Siswi SDN Kandangjati Kulon 1, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo,...

Mau Ke Tretes, Muda-mudi Asal Gempol Tertabrak Truk Tangki di Candiwates, Penumpangnya Tewas

PRIGEN – Nasib sial dialami pasangan muda-mudi ini. Minggu siang (20/1) keduanya terlibat kecelakaan saat hendak menuju Tretes, Akibatnya, satu orang tewas dan satu...

Siswa MI di Pandaan Tewas Gantung Diri, Diduga usai Smartphonenya Disembunyikan Orang Tua

PANDAAN, Radar Bromo – Tragis nian cara AA, 11, mengakhiri hidupnya. Pelajar di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan ini, ditemukan tewas, Minggu (17/11) pagi. Dia...

Geger Mayat Wanita di Pantai Pasir Panjang-Lekok, Kondisinya Terikat Tali dan Dikaitkan Batu

LEKOK, Radar Bromo - Temuan mayat dengan kondisi terikat, kembali menggegerkan warga. Rabu (18/9) pagi, mayat perempuan tanpa identitas ditemukan mengapung di Pantai Pasir...

BERITA TERBARU

Pencarian Hari Ketiga, Temukan Mayat di Perairan Gili, Diduga Wahyu

Pihak keluarga masih ragu itu jasad dari Wahyu Ibrahim, sebab kondisinya sudah agak susah dikenali. Tetapi, ada satu ciri fisik yang sama. Yakni, ada bekas jahitan di paha sebelah kanan.

Hujan Deras, Dua Dapur Warga Pakuniran Tergerus Longsor

Hujan deras disertai angin kencang terjadi di beberapa wilayah di Kabupaten Probolinggo. Salah satunya mengakibatkan longsor di Kecamatan Pakuniran dan Kecamatan Lumbang.

Hindari Sepeda, Bus Masuk Sungai, Pesepeda Asal Wonorejo Meninggal

Malang nasib Sujono. Kakek berusia 65 tahun itu meninggal setelah tertabrak bus saat hendak menyeberang jalan, Sabtu (28/11).

Semalam, Dua Motor Warga Kerpangan Dimaling

Sabtu (28/11) dini hari, kawanan maling menggondol dua motor milik Adi Cahyono, warga Desa Kerpangan, Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo.

Pembangunan Gedung PSC Diburu Waktu, Tapi Optimistis Selesai

Hingga mendekati batas waktu penyelesaian, belum sepenuhnya gedung berlantai dua itu, rampung dikerjakan. Hingga saat ini, baru sekitar 90 persen direalisasikan.