Radar Bromo

Uniknya Kerajinan Frame Siluet Wajah dari Palet Kayu Bekas Buatan Tiga Pemuda Ini

Palet kayu bekas peti kemas kebanyakan terbuang begitu saja menjadi limbah. Namun tidak bagi tiga pemuda asal Kota Pasuruan ini. Kesadaran akan lingkungan, mendorong mereka untuk mendaur ulang limbah itu menjadi furnitur dekorasi. Tentunya, berbekal kreativitas.

—————-

Beberapa frame yang menampilkan siluet wajah tokoh terpajang di sebuah rumah beralamat di Jalan KH Hasyim Asyari, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Di rumah Ilham Mursidi itulah, ia dan dua temannya, Yahya Hidayat serta Alfisesa Iswono membuat frame siluet wajah.

Sebagian besar frame rampung dibuat malam hari sebelum Jawa Pos Radar Bromo berkunjung, Senin (30/9). Pagi itu, mereka juga baru menghela napas setelah memoles frame dengan cat warna natural.

Frame-frame itu menampilkan wajah tokoh-tokoh ternama. Mulai dari Sukarno, Gus Dur, BJ Habibie, Cak Nun, hingga Munir Said Thalib. Seluruhnya memakai bahan palet kayu bekas peti kemas yang didapat dari limbah pabrik.

Kayu limbah itu mulanya memiliki ukuran berbeda-beda. Potongan palet kayu itu lantas direkatkan satu sama lain dengan lem sebelum dihaluskan permukaannya. Ada dua jenis frame. Pertama berbentuk persegi dengan ukuran 25×35 sentimeter. Kedua, berbentuk bulat dengan diameter 25 sentimeter.

“Proses pembuatan satu frame bisa memakan waktu empat hari hingga seminggu,” ujar Alfisesa Iswono.

Ketiga pemuda itu membagi perannya masing-masing. Yahya Hidayat bertanggung jawab menyelesaikan pembuatan frame. Sedangkan Alfisesa Iswono menyiapkan desain siluet wajah yang akan digambar.

“Melalui editing komputer hingga wajah seseorang itu nampak siluetnya,” imbuh Alfis.

Meski agak rumit lantaran harus menyesuaikan kontras dan ketajaman detil wajah, menggambar siluet wajah itu hanya butuh waktu dua jam. Gambar siluet wajah yang dihasilkan dari editing komputer itu dicetak dalam selembar kertas.

TOKOH: Karya siluet wajah dari palet yang memampang tokoh di Indonesia. (Foto M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

 

Gambar itulah yang dijadikan acuan Alfis untuk menuangkannya dalam frame. Ia menggunakan spidol permanen untuk menggambar siluet wajah diatas frame tersebut. Meski begitu, proses menggambar itu tak melulu persis dengan hasil editing.

“Untuk detilnya, kebanyakan sesuai imajinasi saja. Seperti ada helai rambut, atau kumis kan perlu diperjelas,”

Setelah itu, baru memasuki tahap finishing. Kali ini, tugas Ilham Mursidi yang memoles frame bergambar itu menggunakan cat warna natural. “Agar terkesan lebih mengkilat dan artistik,” celetuk Ilham.

Meski begitu, tak semua palet kayu bekas dapat dijadikan bahan. Yang digunakan selama ini hanya palet kayu jenis pinus. Mereka pernah mencoba palet dari jenis kayu lain. Kayu jati misalnya.

“Tapi warnanya cenderung kemerah-merahan, jadi siluetnya kurang tajam atau terlihat pudar,” beber Yahya. Disamping itu, serat yang dihasilkan kayu jati juga agak kasar. Sehingga gambar siluet wajah akan terlihat kurang rapi.

Inisiatif ketiga pemuda itu membuat frame siluet wajah tak serta-merta terwujud. Sebelumnya, mereka justru terinspirasi dengan beberapa temannya yang kerap memasang gambar vektor wajah di akun media sosial.

“Kesannya kan artistik ketimbang foto biasa. Tapi kita coba yang lebih klasik. Tidak hanya berupa file gambar, tapi divisualisasikan ke media seperti kayu ini,” beber Alfis.

Meski terhitung baru dua bulan menekuni kerajinan frame siluet wajah, beberapa pesanan sudah banyak diterima. Ilham menceritakan, pernah ada pemesan yang kurang puas dengan hasilnya.

“Bukan karena siluetnya, tapi karena serat kayunya terlalu menonjol pada bagian pipi, kesannya keriput. Akhirnya harus diamplas lagi untuk memudarkan serat itu, agar bersih,” ucapnya. (tom/fun)