21 Desa di Kab Pasuruan Rutin Dikirim Air Bersih, 2 Desa Ajukan Bantuan

WINONGAN, Radar Bromo – Daerah krisis air bersih di Kabupaten Pasuruan terus meluas. Hal itu terlihat dari pengajuan permintaan pasokan air bersih yang terus bertambah.

Bila sebelumnya ada 21 desa di 6 kecamatan yang rutin dikirimi air bersih, kini ada tambahan 2 desa lagi yang mengajukan permintaan air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan.

Kepala BPBD Kabupaten Pasuruan Bakti Jati Permana mengatakan, akhir September ini masih masuk puncak kemarau. Sehingga, debit sumber air memang banyak yang mengecil ataupun mengering.

“Bahkan, dari 3 kecamatan di desa yang kekeringan bulan ini sudah kami tambahkan lagi jumlah rit air. Jika sebelumnya 2 rit, maka kini ditambah 3 rit atau 1.500 liter per harinya,” terang Bakti.

Tercatat, 3 kecamatan yang mengalami perluasan kekeringan tersebut yakni di Lumbang, Winongan, dan Pasrepan. Untuk Lumbang, tercatat ada 5 desa. Yakni Karangasem, Karangjati, Watulumbung, Cukurguling, dan Desa Lumbang.

Sedangkan di Winongan di 3 desa. Yakni, Jeladri, Sumberrejo, dan Kedungrejo. Sedangkan di Pasrepan meluas di 5 desa. Yakni, Desa Sibon, Klakah, Petung, Ngantungan, dan Desa Mangguan.

Bakti mengatakan penambahan air bersih lantaran kondisi sumber air benar-benar sudah kering dan juga perluasan dari yang awalnya 1-2 dusun menjadi 2-3 dusun yang kesulitan air bersih.

Sedangkan desa dan kecamatan lainnya yaitu Lekok, Gempol, dan Grati, juga ditambah pengiriman air. Jika sebelumnya masih 1 rit, saat ini juga ditambah menjadi 2 rit atau 10 ribu liter per harinya.

Untuk pengiriman air bersih dari BPBD juga bekerja sama dengan instansi lain, seperti Cipta Karya dan Kawasan Pemukiman, Dinas Sosial, PMI, sampai CSR Perusahaan.

Dikatakan selain pengiriman rutin di 21 desa 6 kecamatan, ada 2 desa lagi yang saat ini pengajuan pengiriman air bersih. “Yakni di Palangsari, Kecamatan Puspo dan di Tambaksari, Kecamatan Purwodadi,” terangnya.

Desa yang mengajukan permintaan air bersih masih harus di-assessment dulu. Apakah masuk daerah bencana apa tidak. Dikatakan untuk Desa Palangsari sudah di-assessment dan hanya mengalami sumbatan pipa. “Sehingga, kami koordinasi dengan cipta karya dan HIPPA agar pembersihan pipa saja tidak perlu ada pengiriman air bersih,” terangnya.

Sedangkan Desa Tambaksari, Purwodadi akan segera di-assessment. Hal itu untuk memastikan, apakah masuk daerah bencana kekeringan atau tidak.

Bakti mengatakan, dari perkiraan BMKG, bulan Oktober–November sudah ada prediksi ada turun hujan. “Namun kita lihat, kendati air hujan sudah turun, tapi sumber masih kering, kita terus lakukan pengiriman air bersih sampai sumber air benar-benar normal,” jelasnya.

Mujiana, 32, warga Karangjati, Lumbang mengatakan saat ini desanya memang kesulitan air. Kendati rutin ada pengiriman air, namun warga desa harus menghemat penggunaan air. “Kalau saya sehari kebutuhan 20 liter, itu pun harus dihemat-hemat” terangnya. Bahkan, karena air bersih terbatas, warga ada yang mengambil ke area Banyubiru, Winongan atau membeli air seharga Rp 3 ribu per 60 liternya. (eka/mie)