Delapan Warga Negara Asing di Rudenim Dideportasi

BANGIL, Radar Bromo – Sebanyak delapan orang warga negara asing (WNA) dideportasi Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Surabaya di Raci ke negara masing-masing. Mereka dideportasi lantaran sejumlah pelanggaran yang telah dilakukan.

Kepala Rudenim Surabaya di Raci Heru Hartono mengungkapkan, delapan WNA yang dideportasi itu berasal dari berbagai negara. Tidak hanya berasal dari Asia seperti India, tetapi juga dari Australia, Aljazair, Pantai Gading, Lebanon, hingga Bangladesh.

Mereka dideportasi lantaran pelanggaran yang telah dilakukan. Selain penyalahgunaan visa, izin tinggal yang kedaluwarsa, juga tidak memiliki dokumen resmi keimigrasian seperti paspor.

“Delapan WNA yang dideportasi itu merupakan kegiatan yang kami lakukan sepanjang 2019,” kata Heru –sapaannya- saat ditemui di kantor Rudenim Surabaya di Desa Raci, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, kemarin.

Heru menambahkan, angka deportasi yang dilakukan instansinya memang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2018, hanya ada tiga WNA yang dideportasi lantaran pelanggaran-pelanggaran yang ditemukan.

Meski begitu, bukan berarti jumlah imigran “gelap” yang masuk wilayah Indonesia semakin berkurang. Karena jumlah mereka yang dideportasi, kecenderungannya diimbangi dengan mereka yang masuk.

“Seperti tahun 2019 ini, ada 12 WNA yang ditemukan melanggar. Sehingga, harus diamankan tim satgas imigrasi,” sambungnya.

Sejauh ini, ada setidaknya 377 imigran yang masuk pengawasan Rudenim. Jumlah itu hanya untuk mereka yang berada di Rusunawa Puspa Agro Sidoarjo. Belum termasuk yang ada di Green Bambu Sidoarjo sebanyak 40 orang.

Para imigran yang disebut pengungsi luar negeri itu, memang tidak lagi “ditahan” di Rudenim. Melainkan “tinggal” di rusunawa yang disiapkan Pemkab Sidoarjo. Baik di Puspa Agro ataupun di Green Bambu Sidoarjo.

“Hal ini sesuai dengan amanat Perpres Nomor 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi Luar Negeri. Jadi, mereka tidak lagi dititipkan di Rudenim Surabaya. Mereka berada di rusunawa yang ada di Puspa Agro ataupun Green Bambu Sidoarjo. Tapi, kami tetap ikut mengawasi,” pungkasnya. (one/hn/fun)