alexametrics
25.6 C
Probolinggo
Saturday, 21 May 2022

Hati-hati, Buka Warung Makan saat Siang Bisa Haram

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pemilik usaha warung makan membuka lapaknya saat puasa dan mereka sudah tahu yang membeli adalah umat muslim sendiri. Hukumnya seperti apa?

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

BILQIS, Probolinggo


ISLAM tidak melarang segala bentuk transaksi apapun pada bulan Ramadan. Selama tidak ada pelanggaran syariat. Tidak terkecuali warung atau rumah makan. Pada waktu yang sama, agama juga memerintahkan semua orang wajib berpuasa pada bulan Ramadan.

Bagi siapapun makan atau minum pada siang hari di bulan Ramadan tanpa uzur, maka dianggap melakukan dosa dan tergolong orang yang melakukan maksiat. Karena itu, setiap aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan makan dan minum pada bulan puasa yang menyebabkan orang melakukan pelanggaran syariat juga diharamkan. Karena, diangap membantu melakukan kemaksiatan. (I’anah al-Talibin, juz 3, halaman 24).

Benang merahnya, sisi pandang keharaman membuka warung atau rumah makan pada siang hari murni bukan dari warungnya, namun dari siapa pembelinya. Jika pembelinya orang-orang yang dilegalkan untuk tidak berpuasa, maka jual-belinya juga tidak masalah.

Ada beberapa kategori orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa di berbagai kitab fikih. Di antaranya, wanita saat haid; wanita saat nifas; anak kecil; orang yang sangat tua; orang sakit; musyafir; dan pekerja berat. Jika pembeli dari golongan tersebut, maka tidak jadi masalah. Karena, mereka tidak ada kewajiban berpuasa.

Jika penjual makanan atau pemilik warung sejak awal tahu bahwa ada pembeli yang tidak puasa tanpa uzur atau bukan termasuk salah satu golongan di atas, maka haram baginya. Karena, termasuk membantu melakukan kemaksiatan.

Kita wajib menghormati orang yang sedang puasa, itu sepakat. Bukan berarti menghormati orang yang puasa wajib menutup warung dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Karena, warung juga sangat membantu bagi orang-orang yang sedang berhalangan untuk berpuasa. Terutama bagi musyafir dan lain sabagainya.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Pemilik usaha warung makan membuka lapaknya saat puasa dan mereka sudah tahu yang membeli adalah umat muslim sendiri. Hukumnya seperti apa?

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

BILQIS, Probolinggo


ISLAM tidak melarang segala bentuk transaksi apapun pada bulan Ramadan. Selama tidak ada pelanggaran syariat. Tidak terkecuali warung atau rumah makan. Pada waktu yang sama, agama juga memerintahkan semua orang wajib berpuasa pada bulan Ramadan.

Bagi siapapun makan atau minum pada siang hari di bulan Ramadan tanpa uzur, maka dianggap melakukan dosa dan tergolong orang yang melakukan maksiat. Karena itu, setiap aktivitas perdagangan yang berkaitan dengan makan dan minum pada bulan puasa yang menyebabkan orang melakukan pelanggaran syariat juga diharamkan. Karena, diangap membantu melakukan kemaksiatan. (I’anah al-Talibin, juz 3, halaman 24).

Benang merahnya, sisi pandang keharaman membuka warung atau rumah makan pada siang hari murni bukan dari warungnya, namun dari siapa pembelinya. Jika pembelinya orang-orang yang dilegalkan untuk tidak berpuasa, maka jual-belinya juga tidak masalah.

Ada beberapa kategori orang yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa di berbagai kitab fikih. Di antaranya, wanita saat haid; wanita saat nifas; anak kecil; orang yang sangat tua; orang sakit; musyafir; dan pekerja berat. Jika pembeli dari golongan tersebut, maka tidak jadi masalah. Karena, mereka tidak ada kewajiban berpuasa.

Jika penjual makanan atau pemilik warung sejak awal tahu bahwa ada pembeli yang tidak puasa tanpa uzur atau bukan termasuk salah satu golongan di atas, maka haram baginya. Karena, termasuk membantu melakukan kemaksiatan.

Kita wajib menghormati orang yang sedang puasa, itu sepakat. Bukan berarti menghormati orang yang puasa wajib menutup warung dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar. Karena, warung juga sangat membantu bagi orang-orang yang sedang berhalangan untuk berpuasa. Terutama bagi musyafir dan lain sabagainya.

MOST READ

BERITA TERBARU

/