alexametrics
24.5 C
Probolinggo
Friday, 1 July 2022

Donor Darah saat Berpuasa

Donor darah tidak memiliki ketentuan hukum yang sama dengan hijamah (bekam). Yaitu, metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis (kental) yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya.

Hijamah (bekam) sendiri menurut mayoritas ulama madzahib al-Arba’ah tidak membatalkan puasa. Sedangkan, menurut mazhab Hanabilah membatalkan puasa, baik bagi orang yang membekam atau yang dibekam.

Bila merujuk pendapat mayoritas ulama, maka persoalan menjadi jelas bahwa donor darah tidak membatalkan puasa sebagaimana bekam. Demikian pula ketika berpijak dari pendapat Hanabilah, donor darah tidak membatalkan puasa.

Syekh Manshur bin Yunus al-Bahuti, salah seorang pembesar ulama Hanabilah membedakan antara hijamah dan tindakan melukai tubuh lainnya.

Menurut al-Bahuti dalam karya monumentalnya Kassyaf al-Qina’ mengatakan, bahwa melukai tubuh dengan selain hijamah tidak dapat membatalkan puasa karena dua alasan. Pertama, tidak ada nash-nya. Kedua, tidak didukung analogi (qiyas) yang mapan.

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam karya fikihnya yang mengomparasikan berbagai mazhab mengklasifikasi tindakan melukai tubuh selain hijamah ke dalam hal-hal yang tidak dapat membatalkan puasa. Beliau tidak menyebutkan terdapat perbedaaan ulama dalam persoalan ini. Berbeda dengan hijamah yang disebutkan perbedaannya. (*)

Donor darah tidak memiliki ketentuan hukum yang sama dengan hijamah (bekam). Yaitu, metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis (kental) yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya.

Hijamah (bekam) sendiri menurut mayoritas ulama madzahib al-Arba’ah tidak membatalkan puasa. Sedangkan, menurut mazhab Hanabilah membatalkan puasa, baik bagi orang yang membekam atau yang dibekam.

Bila merujuk pendapat mayoritas ulama, maka persoalan menjadi jelas bahwa donor darah tidak membatalkan puasa sebagaimana bekam. Demikian pula ketika berpijak dari pendapat Hanabilah, donor darah tidak membatalkan puasa.

Syekh Manshur bin Yunus al-Bahuti, salah seorang pembesar ulama Hanabilah membedakan antara hijamah dan tindakan melukai tubuh lainnya.

Menurut al-Bahuti dalam karya monumentalnya Kassyaf al-Qina’ mengatakan, bahwa melukai tubuh dengan selain hijamah tidak dapat membatalkan puasa karena dua alasan. Pertama, tidak ada nash-nya. Kedua, tidak didukung analogi (qiyas) yang mapan.

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam karya fikihnya yang mengomparasikan berbagai mazhab mengklasifikasi tindakan melukai tubuh selain hijamah ke dalam hal-hal yang tidak dapat membatalkan puasa. Beliau tidak menyebutkan terdapat perbedaaan ulama dalam persoalan ini. Berbeda dengan hijamah yang disebutkan perbedaannya. (*)

MOST READ

BERITA TERBARU

/